Minggu, 04 November 2012

Puisi Tetangga (Ibramsyah Amandit)


Ibramsyah Amandit
JALAN PUISI

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan naik menuju Allah
meniti asma, sifat, af’alullah

Lama diri bersimbah
panas serta berbasah-basah
tunduk tengadah pulang ke diri
nyatanya tak siapa pemilik apa

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan pupus di dalam Allah
hilang panas hilang basah
punah diri dalam Allah
suara jiwa mengkalamullah

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan pulang dari Allah dengan Allah
ulat kepompong berubah polah
sukma terbang selendang kiswah

Puisiku perjalanan mikraj;
turun di pintu-pintu rumah
sudah bersayap puisi amanah
kata-kata rahmat berpetuah

Tamban, 3/11/2012

PULANG

Pulanglah...
Pulang, hai angin Sulaiman
pembaca cuaca dan keadaan

Jendela selalu terbuka
ke sarang lumbung semula
tempat eraman segala cita

Angin lepas ke manapun telah berlayar
penat kembara melintas buih sia-sia

Tiadakah di sini lebih baik;
kamar karantina kelumpuhan
bagi mendaras ulang aksara-aksara
memaknai isyarat purba dan tanda-tanda
antara selaput khayal
mimpi yang memperpanjang bayang
Apa artinya kebaikan tersumbat?
putih hati tertimbun-timbun
tak menetas telur di koloni dinasti
dari makhluk bersayap lumpuh kaki
meski kelumpuhan bukanlah cacat
bukan aib bahan tertawaan
layaknya kekuasaan yang berkeliaran
berbatas bahagia dengan rakyat

Pulanglah...
di induk kebisuan
di pangkal niat suci semuci
lalu tertawalah, hai jiwa pengembara sia-sia!

Tamban, 21/10/2012

SEPERTI MUSA

Ketika Tuhan mengambil perjanjian-Nya (dengan kelumpuhanku)
aku seperti Nabi Musa
diangkat di depanku (beban bagai) Gunung Thursina
Lalu Tuhan berfirman:
“Ambillah (uzur) Kami bentangkan kepadamu dengan tabah
dan insyaflah (dalam kelumpuhan itu)
agar kau menjadi takwa.”

Saat subuh di kamar karantina lumpuh
berderai air mata dan tawa

bergetar diri penuh rasa bahagia
“Musa lumpuh” membaca Surah al-Baqarah 63
menyadari atas rahasia Tuhannya
bahwa lumpuhku agar menjadi takwa
lebih baik daripada sehat maksiat

Tamban, 24/10/2012

ZERO AREA

Di lingkaran kehidupan
aku putus kegiatan

Di lingkaran pergaulan
aku asyik memangku tangan

Di lingkaran waktu sehari
kulepas kupu-kupu menari

Di lingkaran percakapan
hatiku bersahutan

Di lingkaran kejadian
kutuntaskan perjanjian

Di lingkaran perasaan
pagi esok aku berkain kafan

Di lingkaran nasib
aku digantung Tuhan

Tamban, 20/10/2012

PUTRA KUALA

Kelahiranku bukan merapal nama;
hutan galam, kelakai, air coklat asam
jalan kampung rusak.
Jembatan Rumpiang
mondar-mandir tongkang batu bara
sejumlah kantor sejumlah warga
tanah gambut basah becek lembut
daerah bantaran pasang surut

Berkali-kali biasa kubaca
bagai susun huruf-huruf penanda
atributmu, Batola!
Tapi aku terlahir bukan merapal namamu...

Aku putra yang dahaga di rahimmu
beri pemuas hausku dengan lemak manismu
aku nalar perambah dada kuala
aku juga perasa pemabuk gila
menari di darah dagingmu rawa becekmu
menari di pinggir pantai di arus sungai
di rancang bangun hidup dan kematianku
di pelabuhan tambatan anak cucu

Sambut mabukku;
yang menggebu hasrat ombak membiru
aku siang di mabuk terang
aku surya di denyar petang
aku purnama pengibas bayang
embun jiwa dalam tarian mabukku gila, Batola
Kata-kataku ini sabda!
Tarian kasih dan cintaku bergelora
berputar dalam genderang laga
tariku tari pejuang
tari siang terang
aku surya aku purnama aku pejuang
mengukir tebing menderu kuala
aku purnama embun penyejuk jiwa

Batola, Batola...
merendahlah
berikan puting susu ibumu
sebelum terbakar punah
bila kau tegak berpongah-pongah

Tamban, 26/10/2012

BUNGA-BUNGA

Kubaca subhanallah di putih melati
Kubaca alhamdulillah di bunga matahari
Kubaca Allahu Akbar di teratai mekar
Aku stroke di mawar berduri
Jangan kau iri…
Cintaku nyeri ditusuk Illahi

Tamban, 27/10/2012

Rabu, 31 Oktober 2012

Belajar Mencintaimu dari Kekuranganku



Bertemankan sepi, diiringi alunan nasyid, dan hembusan angin buatan dari kipas mini-ku. Malam ini sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada sebuah kegundahan yang tak terjawab. Ada sebuah kekhawatiran yang tak dimengerti. Begitupun, ada sebuah harap yang tak bertuan. Benar-benar malam yang membuatku menjadi sosok paling bodoh dan benar-benar tak berdaya. Entahlah, apakah kiranya yang menggerogoti kekuatan dan keyakinan dalam diri, hingga naluri yang sejatinya dapat diminimalisir, justru menjadi bom waktu yang siap tuk meledak.
Melirik waktu yang begitu cepat berlalu. Seakan mengeksekusiku dalam perih tak berkawan. Hanya sang pemilik jiwa ini yang dapat mengerti akan jeritan hati yang mencekam ini. Tak ada yang bisa ku sembunyikan dari-Nya akan sebuah rasa rindu, bercampur kekhawatiran yang mendalam. Saat ingatanku menghampiri satu sosok yang sangat ku sayang, dengan kebersamaan yang belum dapat dikondisikan. Salahku juga sebenarnya. Ku yang lalai pada kewajibanku sebagai seorang istri. “Masya Allah, dalam dua minggu perjalananku dengannya, ku masih belum dapat memberikan rasa nyaman tuknya. Ku senantiasa hadirkan bertubi-tubi masalah tuknya. Apakah ini cerminan istri yang soleha?”. Di saat seperti ini, pastilah butir-butir air mata tiada dapat tuk ku bendung. Ia-nya hadir dengan begitu alami. Mengurai sesak yang terkerangkeng, menjadi kesembaban indera penglihatanku.
Mungkin, ku maupun kamu, masih belum terbiasa dengan apa yang kita jalani bersama dalam dua pekan yang berlalu ini. Seakan cinta itu hadir saat kita bersama, dan berubah menjadi kekhawatiran yang berlebihan, saat kita berjauhan seperti saat ini. Terlebih saat tak ku dapati kabar tentangmu. Emosi kian membuncah, menghadirkan beribu kepiluan yang tak dapat ku kontrol.
Sungguh, Ku menyadari. Ku bukanlah Khadijah, yang begitu sabar, totalitas dalam menemani sang suami –Rasulullah- dalam mengemban amanah beliau. Pun, bukan pula Fathimah, yang begitu setia dan ta’at, menjaga kesempurnaan pengabdiannya pada sang suami –Ali bin Abi Thalib-. Atau, sosok Maryam, yang begitu kuat melewati ujian dari Rabb-Nya. Sekalipun, para Shohabiyah tersebut dan shohabiyah lainnya yang tak pernah lekang oleh waktu menjadi panutanku, dan membuatku iri dengan keluar-biasaan mereka. Namun, tetaplah ku akui jati diriku sejatinya. Ku hanyalah sosok yang lemah, dan hanya dengan-Nya, ku menjadi kuat serta dapat menapaki setiap ujian yang ada. Keyakinanku pada-Nya yang menghantarkanku pada benteng pertahanan terkokoh yang selama ini telah ku bangun. Hingga kini, ku benar-benar takut, apabila kecintaanku padamu, bukanlah cinta sang hamba pada tuannya. Di mana, bisa jadi ku terlupa. Bahwasanya, saat tak ku dapati ridho darimu, maka Dia pun tak akan curahkan kebarokahan-Nya tukku.
Ku senantiasa belajar bagaimana menyayangi dan membuatmu nyaman dengan kehadiranku. Sekalipun, ku pahami, kadang ada saja tingkah polahku yang membuatmu bertanya-tanya. “Ada apa ini?”. Nasehat bahwa, kebersamaan kita adalah tuk saling melengkapi dan menguatkan, bukan tuk saling menyakiti, seakan menjadi tamparan tuk ku renungi. Seperti inikah akan ku dedikasikan diriku tukmu, sebagai bagian dari tulang rusukmu? Kembali ku terpaku dalam penyesalanku.
Ku bertanya pada diriku. “Apakah kamu yang masih belum terbiasa sebagai suamiku, ataukah ku yang sejatinya belum terbiasa sebagai istrimu?”. Kecamuk kian bersahutan di kepala yang seakan-akan mau pecah rasanya. “Bagaimanakah kiranya kita dapat menjadi pasangan yang solid, apabila hingga kini, kita masih belum bisa tuk saling memahami antara yang satu dengan yang lainnya. Memahami, bahwa istri kamu ini memiliki tingkat sensitifitas yang luar biasa. Dan memahami, bahwa kamu adalah suami yang luar biasa dengan agendamu.
Terlebih, saat memori kembali memoarkan diskusi pra pernikahan kita mengenai “poligami”. Ya Rabb, sehina inikah ku? Hingga, ku masih belum bisa “legowo” pada qada-Mu. Memikirkan apa yang belum dapat ku ketahui kejadian nyatanya. Bisa jadi, kelak berbeda dengan apa yang ku pikirkan kini. Namun, itulah kekuranganku, saat ku ingin menyayangi dan mencintaimu karena-Nya. Ku terlalu egois pada diriku maupun dirimu. Padahal, Ridho & Surga-Nya, itu jauh lebih berharga tuk hamba yang hina sepertiku.
Ya. Kini ku benar-benar memahami. Perjalanan yang akan ku lalui bersamamu, bukanlah seperti jalan tol, yang mulus, bebas hambatan. Namun, perjalananku denganmu ini, ibarat sebuah kapal yang berlayar di tengah lautan lepas. Kadang kita akan menghadapi ombak yang tenang, dan kadang pun akan kita hadapi ombak yang dahsyat. Bahkan, bisa jadi badai yang menggelegar, disertai kilat dan petirnya, siap sedia mengincar biduk pelayaran kita.
Lantas, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan membiarkan pelayaran kita tanpa arah? Ataukah kita sendiri yang akan memporak-porandakan biduk armada pelayaran kita? Tentu saja tidak, bukan?! Mengapa? Karena cinta dan sayang kita bertautan antara satu dan lainnya dengan keyakinan pada-Nya. Ya. Kita memiliki Dia sebagai penunjuk petualangan kita ini. Hingga, sebesar apapun ombak, badai, kilat dan petir yang kita temui di tengah pelayaran kita, akan mampu tuk kita lewati bersama. Tentunya, bersama dalam visi nikah yang kita niatkan bersama. “Dalam Bingkai Pernikahan, Kita Sempurnakan Visi Perubahan”. Senantiasa akan ku genggam, dan ku jaga kesucian ikatan ini, hingga nanti, saat Dia pertemukan kita kembali di Istana Cinta kita. Di Surga-Nya. Insya Allah.
Ku benar-benar ingin menjadi bidadarimu selamanya. Hingga, menjadikan pandangan, pikiran maupun perasaanmu teralihkan dari bidadari-bidadari langit yang kecantikan dan kesolehahannya tak diragukan lagi.
Kasihku, perjalanan kita baru saja dimulai. Maka, mari kita perkuat kesolidan hubungan kita dengan keyakinan, disertai komunikasi dan kepercayaan yang terajut karena-Nya. Senantiasa ku menyayangimu dan akan terus menyayangimu. Kau pangeranku, imamku, sahabatku, suami terbaik dalam hidupku.

Luv u, Cinta...

Sinopsis Teatrikal Aksi Mahasiswa HTI bersama Pelajar



Tema: Potret Suram Pemuda di bawah Bayang-Bayang Kapitalisme

Sinopsis 1
Di sebuah negeri, di mana digambarkan tingkat kerusakan remajanya sudah sangat parah. Baik pelajar, maupun mahasiswanya. Dari pergaulan bebas, hedonis, Japan-Korea style, hingga beragam potret buram remaja ada di negeri tersebut.
(Di sini semua pemain tampil dengan stylenya masing-masing, memperagakan dengan alat peraga yang telah disediakan panitia untuk style peran masing-masing).

Suasana benar-benar ricuh dan kacau. Karena para pemuda sibuk dengan urusan dan masalah mereka masing-masing. Tidak didapati sosok pemuda sebagai pioner perubahan.

Sesaat hening…
(Semua kembali ke posisi tunggu untuk masuk pada sesi selanjutnya, pada peran atraksi masing-masing)

Sinopsis 2
Dalam bagian ini, ditampilkan beberapa kerusakan remaja secara detail per bagian. Bermula dari atraksi Anarkis premanis para pemuda, dilanjutkan dengan Atraksi pemuda yang sangat demen dengan style dan gaya boyband -style anak punk juga boleh-, kemudian Atraksi tawuran para pelajar karena masalah-masalah kecil yang ada di sekeliling mereka.
(Standby pada posisi peran masing-masing. Dipastikan perlengkapan udah fix -lengkap-. Ditentukan durasi waktu per atraksi berapa lama? Tentukan oleh panitia.)

Sesi Pertama, Atraksi Premanis.
Slogan : Gak Nokib, Gak Ngedrugs, Gak Gaul.
(Di sini pemain benar-benar digambarin dengan gaya premannya. Mengganggu, memalak, dalam kondisi ngobat -ngedrugs-).

Sesi Kedua, Atraksi Boyband
Slogan : Music, Party, and Sex, It's My Life.
(Di sini pemain dengan gaya punk-nya, dengan dandanan ala japan-korea pun bisa. Mereka ngerasa dunia milik mereka dengan kesenangan-kesenangan mereka. Gak peduli ma apa yang ada di sekeliling mereka).

Sesi Ketiga, Atraksi Tawuran Pelajar
Slogan : Gue Jagoan Neon.
(Di sini pemain bisa pake botol-botol bekas buat gambarin tawuran antar pelajar. Bisa pakai pisau mainan buat gambarin aksi anarkis tawuran mereka. Bahkan, kalau ada rantai, dan perlengkapan tawuran lainnya).

Sinopsis 3
Semua kekacauan ditampilin. Seolah kericuhan benar-benar sudah tidak bisa dielakkan lagi. Digambarkan kondisi tersebut ada diberbagai tempat di negeri tersebut. Hingga berlangsung beberapa lama, dalam durasi waktu yang sudah ditentukan panitia.

Kemudian masuklah pemain dari tim pemuda islam dengan membawa Ar-roya…

Sinopsis 4
Dalam bagian ini tampil sekelompok gerakan pemuda islam
Slogan : Gak Ngaji Gak Gaul, Dakwah It's My Life, Gue Pejuang Islam.
(Mereka mengelilingi remaja & mahasiswa yang rusak tadi dengan mengibarkan ar-roya dengan menampilkan slogan yang sudah dibuat panitia. Sontak remaja yang ada -remaja & mahasiswa rusak- kaget dan bingung. Kemudian, para pemuda tadi menyalami dan mengajak mereka untuk ikut dalam barisan perjuangan islam sebagaimana mereka. Awalnya, ada yang menolak dan mencoba menghindar. Namun kemudian, setelah para pemuda islam tadi mengajak remaja & mahasiswa rusak tsb untuk dibina intensif dengan pendekatan intelektual -diskusi- dan ngaji tentunya. Akhirnya, semua pemuda tersebut interest dan sepakat untuk turut ambil bagian. Hingga kemudian, mereka pun pada akhirnya turut mencerahkan yang lainnya, dengan bersama-sama bergerak & bersatu, serta menjadi bagian dalam perjuangan Syariah-Khilafah).

Kemudian, semua pemain menutup teratrikal dengan berkumpul dan bersama-sama meneriakkan Takbir.
Allahu Akbar!
(Teatrikal pun selesai).

Created by: Faaza

Refleksi Sumpah Pemuda, Mahasiswa dan Pelajar Hizbut Tahrir Indonesia: “Partisipasi Penuh Pemuda Menyongsong Kebangkitan Islam!”



Ahad, 28 Oktober 2012. Tepatnya di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Ratusan Mahasiswa dan pelajar Hizbut Tahrir Indonesia  (HTI) bersama ratusan elemen mahasiswa dan remaja di Indonesia bergabung mendukung perjuangan syariah Islam dalam Aksi Refleksi Sumpah Pemuda, dengan Tema: “Partisipasi Penuh Pemuda Menyongsong Kebangkitan Islam”.

Aksi ini dimulai pukul 09.00-12.00 WIB. Beragam rangkaian acara ditampilkan. Bermula dari persiapan panitian dengan yel-yel yang luar biasa. Seperti: “Pemuda Demokrasi? Arogan dan Anarkis!”. Kemudian disambung lagi dengan: “Pemuda Islam? Intelektual dan Taat Syariah!”. Dan beberapa yel-yel yang tidak kalah menghentakkan wilayah Bundaran HI dan masyarakat sekitar yang berada di lokasi tersebut dengan pekikan Takbir yang dikumandangkan peserta aksi. Sembari melakukan longmarch, memutari Bundaran HI tersebut.

Kemudian aksi ini juga diisi dengan beberapa orasi dari para orator yang luar biasa, baik dari perwakilan mahasiswa maupun pelajar yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh salah seorang orator. Aktifis Mahasiswa (HTI), Irawan, dalam orasinya menyatakan penyebab kemiskinan, korupsi merajalela, mafia hukum dan pajak serta degradasi moral pemuda negeri ini karena pendidikan yang sekuler merupakan hasil dari sistem kapitalisme-liberalisme yang diterapkan di negeri ini. “Ini harusnya diganti dengan sistem Islam,” ujarnya disambut pekikkan takbir dari peserta aksi. Sebagai seorang muslim, jelas Irawan, kita harusnya bersungguh-sungguh dalam menjalankan islam dalam kehidupan sehari-hari, serta senantiasa bersemangat memperjuangkan Islam. “Memperjuangkan Islam agar dapat diterapkan dalam bingkai khilafah,” tutur mahasiswa Universitas Indonesia.

Sebelum aksi ini berakhir, panitia juga mempersembahkan sebuah teatrikal yang bertemakan “Potret Suram Pemuda di bawah Bayang-Bayang Kapitalisme”. Digambarkan bagaimana pemuda dalam sistem kapitalis-sekuler, telah melahirkan generasi yang gagal dan rusak. Mulai dari pemuda yang premanis, hedonis bahkan anarkis. Sangat berbeda dengan pemuda islam yang senantiasa dikenang oleh sejarah, maupun yang saat ini tengah berjuang untuk mengembalikan kehidupan islam ke tengah-tengah umat. Sehingga, teatrikal ini membuat antusias peserta maupun pengguna jalan untuk menyaksikan bahkan mengabadikan teatrikal tersebut.
Di penghujung acara. Dipimpin oleh perwakilan mahasiswa Universitas Indonesia. Para peserta kembali mengazamkan diri atas perjuangan yang saat ini tengah mereka perjuangkan. Sumpah Mahasiswa Islam kembali dikumandangkan bersama-sama ratusan peserta yang hadir.
Kemudian, acara ditutup dengan do’a dan muhasabah.

_Faaza_

Selasa, 25 September 2012

Sepanjang waktuku bersamamu



Ba’da akad. Setelah tanggung jawab orang tua berpindah kepada sesosok ikhwan yang telah menjadikanku halal atasnya. Menjadikanku sebagai pakaian maupun perhiasan untuknya, begitupun sebaliknya. Perasaan maupun pemikiranku rasanya membeku untuk sesaat, ketika dia ada di sampingku. Begitu dekat, begitu hangat.
Seperti mimpi rasanya. Sosok yang selama ini ku rindukan kehadirannya di dalam bilik hatiku yang terjaga, kini ada di hadapanku. Menyentuhku dalam sentuhan yang bersahaja. Sekalipun, pandangan ini masih belum mampu ku arahkan untuk menatapnya. Karena, kecintaan dan keta’atanku pada-Nya telah membuatku menutup segala ruang interaksiku terhadap sosok yang berbeda jenis denganku. Hingga, menjadikanku mematung di hadapannya.
Bisikan lembut dari hatiku menyentakkanku hingga tersadar. Saat bisikan itu menyuarakan, “Ya Allah, inikah imam yang akan menuntunku kepada Jannah-Mu?”. Sosok yang tidak biasa menurutku, karena ia luar biasa. Sosok yang akan ku temani dengan batas ketidak wajaran menurutku. Mengapa? Karena ku yakin, aktivitasnya pastilah berbeda dari aktivitas kebanyakan pemimpin rumah tangga yang ada. Siang bagai malam, dan malam pun bagai siang, dalam aktivitas mulianya. Tidak ada yang berbeda dari pagi hingga malamnya, karena dipenuhi dengan aktivitas yang diridhoi-Nya. Insya Allah.
Waktu, materi, tenaga, pikiran, keringat, langkah, bahkan darahnya, senantiasa akan dia korbankan untuk menjemput sebuah kemenangan yang telah dijanjikan-Nya. Maut bukanlah perkara yang dia takuti, namun, bukan pula perkara yang diharapkannya. Akan tetapi, maut adalah puncak kerinduannya pada sebuah pertemuan dengan Sang Kholiqnya.
Subhanallah. Sosok yang begitu sabar dan pengayom, serta bersahaja. Hari-hari pun dilalui bersamanya dalam suka maupun duka yang amat berarti. Penuh hikmah yang mengantarkan pada sebuah muhasabah bersama. Bukanlah kesempurnaan yang menjadikanku memilihnya, melainkan kekurangan yang mengantarkan pada kami untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Saling menguatkan dan menasehati dalam kebenaran maupun kesabaran. Insya Allah.
***
Sepanjang waktuku kan ku habiskan bersamamu. Sekalipun kini jarak dan waktu memisahkanku denganmu. Namun ku yakin, semua pasti akan indah pada waktunya. Lalui segala ujian yang ada dengan kesabaran dan ketawakalan pada-Nya. Maafkanku atas kelemahanku. Sungguh, ku bersyukur dipertemukan-Nya denganmu. Bersama dalam aktivitas mulia, yang tiada pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Skenario terindah dari Allah, karena kau dihadirkan-Nya untuk menemani sisa usiaku dalam keta’atanku pada-Nya dan kepatuhanku padamu. Bersama, menjemput kemenangan yang hakiki. Bersama, membangun istana di surga-Nya. Sungguh, ku benar-benar jatuh cinta padamu, sayang.

Uhibbukafillah... ^-^

Rabu, 19 September 2012

"Dipersatukan dalam Ikatan Nikah"


Detik-detik Ijab Qabul kini telah di depan mata. Prosesi akad nikah nan syahdu, tengah menghitung waktu saja. Subhanallah. Berkali-kali lafadz meninggikan asma-Nya tiada terputus dari lisan ini. Penantian panjang, yang menjadi bagian skenario indah dari-Nya, kini berganti dengan sebuah jawaban suci nan mengharu-biru hati ini. Alhamdulillah, diri ini dipertemukan denganmu. Sosok yang penuh dengan tanggung jawab & kasih sayang, di tengah garangnya dirimu dalam setiap aksi jalanan, menentang tirani tak bertuan, melaju-melesat-dan bergerak bersama rekan-rekan black orange troper yang kau sayangi karena-Nya.
Terasa bagaikan mimpi. Kau benar-benar hadir tuk menjemputku. Membawaku dalam sebuah ikatan nan suci, ikatan ketaqwaan pada-Nya. Saat lantunan ayat suci, surah At-Taubah ayat 24, kau bacakan dengan penghayatan yang bersahaja. Air mata pun tak dapat tuk dibendung. Ayat tersebut menamparku secara halus, bahwa sekalipun kelak ku membersamaimu, bukan berarti ku kan senantiasa bersamamu dalam kesenangan saja. Akan banyak sekali ujian dakwah yang kan kita lalui. Cinta & sayang yang terbatasi oleh jarak & waktu. Ya, semua bukan karena tuntutan eksistensi. Namun, semua karena perintah dakwah & ketaqwaan kita pada-Nya.
Hingga, tak terasa, saat kenyataan diri ini telah menjadi halal tukmu. Rasanya, tiada dapat tuk dielakkan sebuah rasa bahagia menyeruak & menari-nari di dalam ruang rindu hati ini. Terima kasih ya Rabb, tuk semua skenario indah yang telah Kau tetapkan tukku & tuk dia. Sungguh, tak pernah terbayangkan, prosesi ta’aruf-khitbah, dari awal ku mengenalmu hingga pada prosesi pernikahan islami dapat terlaksana dengan ijin & pertolongan dari-Nya. Alhamdulillah.
Kini, kau dan aku telah bersama dalam pertemuan & perpisahan kita. Saling mengingatkan, menguatkan dan melengkapi atas kekurangan & kelebihan masing-masingnya. Belajar dari melalui berbagai proses, tentulah sangat menyenangkan. Banyak arti yang dapat kita petik bersama. Hingga, nantinya menjadikan kita tumbuh & berkembang sebagai sepasang insan yang luar biasa. Insya Allah. Semoga Allah senantiasa menguatkan langkah & keimanan kita dalam ikatan nikah ini, tuk berkontribusi maksimal & optimal dalam dakwah Syariah & Khilafah!!!
Dengan Ijin-Nya, kita pasti mampu mewujudkan apa yang menjadi mimpi kita bersama. Melahirkan generasi penerus yang luar biasa. Menjadikanmu pemimpin yang tangguh, di mana Insya Allah, Kemuliaan di bawah Naungan Islam atau Syahid-lah cita-cita tertinggi kita berdua. Yakinlah, Khilafah akan Tegak di tangan-tangan kita, bersamaan dengan kesungguh-sungguhan kita.
Insya Allah.

“Skenario Indah di balik Metamorfosa Dakwah”


Tema: Saat Futur Dalam Dakwah

Ada yang berbeda dengan penampilanku kini. Baik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada yang dapat terlihat terkecuali muka dan telapak tanganku. Sangat jauh berbeda dengan aku yang dahulu. Dengan style simple yang menampilkan karakter tomboy-ku.
Senyum kecil mengembang penuh kebahagiaan. Setiap kali teringat pada sebuah proses luar biasa yang tidak pernah terpikirkan olehku. Menjadi bagian dari para aktivis dalam menggenggam bara api kebenaran, tentulah bukan sebuah aktivitas yang mudah ataupun menyenangkan bagi kebanyakan orang. Namun, aktivitas ini begitu indah buatku.
Syukur penuh kesyahduan atas setiap nikmat dan karunia iman serta islam dari-Nya, nampaknya tidak pernah ada habisnya. Terlebih saat berkaca pada sekeliling, di mana masih banyak orang yang belum tercerahkan oleh hidayah-Nya. Hingga, itu menjadikanku merasa menjadi sosok yang special dan istimewa di hadapan-Nya. Kembali ku melafadzkan asma-Nya dalam sebuah kesyukuranku pada-Nya.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana proses yang ku jalani hingga ku bisa seperti saat ini. Berubah total baik dari cara berpikir maupun penampilan. Ya, ku jawab karena islam-lah yang telah mengalihkan pandanganku dari gemerlap dunia yang begitu fana ini kepada indah Akhirat-Nya.

***

IKUTI Sayembara #NBR “NYALA DAKWAH DARI PENJURU DUNIA, Berbagi Inspirasi, Berbagai Motivasi Dakwah, Karena Dakwah Itu Indah”

Persyaratan Sayembara Nulis Buku Rombongan #NBR :

  1. Peserta sayembara: Pria/Wanita, Muslim, diutamakan pernah dan atau masih berdomisili di luar negeri. Bagi yang berdomisili di berbagai daerah di Indonesia sangat boleh untuk mengikuti.
  2. Naskah merupakan kisah/pengalaman pribadi yang berisi pengalaman dakwah yang pernah dialami, tantangan-tantangan, cara-cara, dan keberhasilannya. Atau jika menceritakan sosok pengemban dakwah lainnya yang menjadi inspirasi dengan seizin yang bersangkutan.
  3. Naskah tidak mengandung unsur ghibah dan menceritakan aib seseorang. Untuk nama-nama subjek dan objek dakwah boleh berupa nama samaran.
  4. Panjang naskah minimal 4 halaman, maksimal 7 halaman, spasi 1,5, ukuran A4.
  5. Penggalan (cupilkan) naskah ditulis di note FB (jangan semua naskah); wajib disertakan/ cantumkan pengumuman sayembara ini dibawah cuplikan naskah di FB. Kemudian tag (tandai) akun FB Nur Maulidiyah/ Nur maulidiyah II dan FB 25 temanmu yang lain.
  6. Kirim naskah lengkapnya ke email alliwa_1924@yahoo.com (a.n Nur Maulidiyah) dan  di CC (tembusan) ke email: freshzone@al-azharpress.com, dengan subyek email “rombongan nulis – nama penulis”
  7. Sertakan identitas /biodata/biografi singkat, contoh biografi singkat ada di bawah.
  8. Naskah diterima paling lambat tanggal 18 September 2012.
  9. Para peserta wajib meng “Like” atau “Suka” fanspage.http://www.facebook.com/AlAzharFresh
  10.   Satu peserta boleh mengirim lebih dari satu naskah
  11.   Tema utama “Nyala Dakwah dari Penjuru Dunia”, pilihan sub tema:
a. Part I :  Saingan dakwahku
(pengalaman dan tantangan dakwah menghadapi misionaris maupun penggiat dari agama lainnya)
b. Part II : Indahnya Dakwah pada Sang Darah Muda
(pengalaman keberhasilan dakwah pada remaja, trik-trik /uslub yang digunakan untuk menarik remaja, hambatan dan tantangannya)
c. Part III : Dakwah pada para Bunda, Sang Tiang Negara
(pengalaman keberhasilan dakwah pada ibu-ibu, uslub yang digunakan agar materi sampai pada Ibu-ibu dengan kondisi kesibukan para ibu)
d. Part IV : Saat Futur dalam Dakwah
(pengalaman para da’i saat terbentur dengan masalah-masalah pribadi, mengalami kefuturan dan bangkit kembali. Bagaimana ia bisa memenangkan diri dari ujian dunia)
e. Part V : Sinergi Da’wah : Walau Berbeda Kendaraan, Kami Satu Tujuan
(pengalaman bersinergi dengan kelompok dakwah lain, sinergi yang saling menguatkan)
f. Part VI : Bersama Para Tokoh, Dakwah Kian Kokoh
(pengalaman berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik yang akhirnya mendukung dakwah) 
  12.  Naskah akan diseleksi oleh ketua Rombongan (Nur Maulidiyah), selanjutnya naskah akan diserahkan ke pihak Al Azhar Fresh Zone Publishing untuk di kwalifikasi sesuai SOP penerbit.
13.  Pengumuman pemenang sayembara akan dilakukan oleh pihak Al Azhar Fresh Zone Publishing dan sepengetahuan Ketua Rombongan, pada tanggal 25 September 2012 via FB.
14. Reward bagi naskah yang lolos berupa 1 buah buku bukti terbit dan mendapatkan royalti buku dengan  sistem beli putus sesuai dengan kontribusi lembar naskah yang lolos. 
15. Bagi naskah yang tidak lolos, akan dikembalikan kepada penulis.


EVENT INI DIDUKUNG OLEH AL AZHAR FRESH ZONE PUBLISHING

Opening Faza's Blog

Assalamu'alaikum!
~Ahlan wa sahlan~

Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"

~Allahu Akbar~