Tampilkan postingan dengan label Dalam Bingkai Pernikahan Kami Sempurnakan Visi Perubahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalam Bingkai Pernikahan Kami Sempurnakan Visi Perubahan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2012

“SemangKA CINTA”



Siang bagai malam, begitupun malam bagai siang.
Kaki jadi kepala, begitupun kepala jadi kaki.
Bagimu, itulah hidup dalam pilihanmu.
Usaha dan do’a saling beriringan serta menopang satu dengan yang lainnya.
Subhanallah...
Langkahmu tiada tersurutkan sedikitpun.
Pada rayuan waktu maupun gemerlap dunia yang begitu melenakan.
Senyum maupun tawa riangmu seakan menjadi sinyal,
Bahwa kau benar-benar menikmati setiap proses yang Dia amanahkan padamu.
Entah apakah jadinya apabila keimanan itu tiada mengkristal,
Bisa jadi keistiqomahan adalah sesuatu yang mahal,
Hingga berujung pada beribu pembenaran yang akan memberatkanmu tuk berlari,
Mengejar perintah-Nya yang menghantarkanmu kelak menuju Surga-Nya.
Keyakinan pada pertolongan dan janji-Nya yang senantiasa kau hujamkan,
Tak hanya tukmu, namun tuk orang-orang yang kau sayangi.
Cinta,
Di sini ku mena’atimu dalam kesabaran dan kesyukuran yang tiada terkira.
Kau menjadikan pernikahan ini sebagai proses belajar kita dalam kebersamaan.
Belajar tuk maksimal,
Belajar tuk berkorban,
Belajar tuk memahami satu dengan lainnya.
Dan belajar, tuk merealisasikan visi bersama kita,
“Dalam Bingkai Pernikahan, Kami Sempurnakan Visi Perubahan”
Sayang,
Kau, ibarat sinar mentari pagi, setelah pekatnya malam.
Kau pun ibarat air yang menghilangkan dahagaku.
Tak satu pun keluhan terlontar dari lisanmu,
Tak pula kau bersedih hati menapaki jalan terjal penuh onak duri ini.
Karena, kau melalui setiap proses ini dengan penuh keyakinan.
Bahkan, kau senantiasa menguatkan, mengingatkan dan menginspirasiku.
Di setiap waktumu.
Tak peduli sepadat apapun amanahmu.
Kau luangkan waktu tukku.
Berdiskusi, tuk mengkristalkan pemahamanku.
Kau benar-benar pelangi, yang mewarnai hidupku dengan warna indahmu.
Kau hiasi perjalanan awal kita, dengan takwa yang mendalam.
Dan semoga, akhirnya nanti pun, kita menghadap-Nya tetap dalam ketakwaan.
Aamiin Ya Rabb...

Dalam ruang rinduku padamu,
28 Nov 2012, 23:16 WITA.
_Faaza_

Rabu, 31 Oktober 2012

Belajar Mencintaimu dari Kekuranganku



Bertemankan sepi, diiringi alunan nasyid, dan hembusan angin buatan dari kipas mini-ku. Malam ini sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada sebuah kegundahan yang tak terjawab. Ada sebuah kekhawatiran yang tak dimengerti. Begitupun, ada sebuah harap yang tak bertuan. Benar-benar malam yang membuatku menjadi sosok paling bodoh dan benar-benar tak berdaya. Entahlah, apakah kiranya yang menggerogoti kekuatan dan keyakinan dalam diri, hingga naluri yang sejatinya dapat diminimalisir, justru menjadi bom waktu yang siap tuk meledak.
Melirik waktu yang begitu cepat berlalu. Seakan mengeksekusiku dalam perih tak berkawan. Hanya sang pemilik jiwa ini yang dapat mengerti akan jeritan hati yang mencekam ini. Tak ada yang bisa ku sembunyikan dari-Nya akan sebuah rasa rindu, bercampur kekhawatiran yang mendalam. Saat ingatanku menghampiri satu sosok yang sangat ku sayang, dengan kebersamaan yang belum dapat dikondisikan. Salahku juga sebenarnya. Ku yang lalai pada kewajibanku sebagai seorang istri. “Masya Allah, dalam dua minggu perjalananku dengannya, ku masih belum dapat memberikan rasa nyaman tuknya. Ku senantiasa hadirkan bertubi-tubi masalah tuknya. Apakah ini cerminan istri yang soleha?”. Di saat seperti ini, pastilah butir-butir air mata tiada dapat tuk ku bendung. Ia-nya hadir dengan begitu alami. Mengurai sesak yang terkerangkeng, menjadi kesembaban indera penglihatanku.
Mungkin, ku maupun kamu, masih belum terbiasa dengan apa yang kita jalani bersama dalam dua pekan yang berlalu ini. Seakan cinta itu hadir saat kita bersama, dan berubah menjadi kekhawatiran yang berlebihan, saat kita berjauhan seperti saat ini. Terlebih saat tak ku dapati kabar tentangmu. Emosi kian membuncah, menghadirkan beribu kepiluan yang tak dapat ku kontrol.
Sungguh, Ku menyadari. Ku bukanlah Khadijah, yang begitu sabar, totalitas dalam menemani sang suami –Rasulullah- dalam mengemban amanah beliau. Pun, bukan pula Fathimah, yang begitu setia dan ta’at, menjaga kesempurnaan pengabdiannya pada sang suami –Ali bin Abi Thalib-. Atau, sosok Maryam, yang begitu kuat melewati ujian dari Rabb-Nya. Sekalipun, para Shohabiyah tersebut dan shohabiyah lainnya yang tak pernah lekang oleh waktu menjadi panutanku, dan membuatku iri dengan keluar-biasaan mereka. Namun, tetaplah ku akui jati diriku sejatinya. Ku hanyalah sosok yang lemah, dan hanya dengan-Nya, ku menjadi kuat serta dapat menapaki setiap ujian yang ada. Keyakinanku pada-Nya yang menghantarkanku pada benteng pertahanan terkokoh yang selama ini telah ku bangun. Hingga kini, ku benar-benar takut, apabila kecintaanku padamu, bukanlah cinta sang hamba pada tuannya. Di mana, bisa jadi ku terlupa. Bahwasanya, saat tak ku dapati ridho darimu, maka Dia pun tak akan curahkan kebarokahan-Nya tukku.
Ku senantiasa belajar bagaimana menyayangi dan membuatmu nyaman dengan kehadiranku. Sekalipun, ku pahami, kadang ada saja tingkah polahku yang membuatmu bertanya-tanya. “Ada apa ini?”. Nasehat bahwa, kebersamaan kita adalah tuk saling melengkapi dan menguatkan, bukan tuk saling menyakiti, seakan menjadi tamparan tuk ku renungi. Seperti inikah akan ku dedikasikan diriku tukmu, sebagai bagian dari tulang rusukmu? Kembali ku terpaku dalam penyesalanku.
Ku bertanya pada diriku. “Apakah kamu yang masih belum terbiasa sebagai suamiku, ataukah ku yang sejatinya belum terbiasa sebagai istrimu?”. Kecamuk kian bersahutan di kepala yang seakan-akan mau pecah rasanya. “Bagaimanakah kiranya kita dapat menjadi pasangan yang solid, apabila hingga kini, kita masih belum bisa tuk saling memahami antara yang satu dengan yang lainnya. Memahami, bahwa istri kamu ini memiliki tingkat sensitifitas yang luar biasa. Dan memahami, bahwa kamu adalah suami yang luar biasa dengan agendamu.
Terlebih, saat memori kembali memoarkan diskusi pra pernikahan kita mengenai “poligami”. Ya Rabb, sehina inikah ku? Hingga, ku masih belum bisa “legowo” pada qada-Mu. Memikirkan apa yang belum dapat ku ketahui kejadian nyatanya. Bisa jadi, kelak berbeda dengan apa yang ku pikirkan kini. Namun, itulah kekuranganku, saat ku ingin menyayangi dan mencintaimu karena-Nya. Ku terlalu egois pada diriku maupun dirimu. Padahal, Ridho & Surga-Nya, itu jauh lebih berharga tuk hamba yang hina sepertiku.
Ya. Kini ku benar-benar memahami. Perjalanan yang akan ku lalui bersamamu, bukanlah seperti jalan tol, yang mulus, bebas hambatan. Namun, perjalananku denganmu ini, ibarat sebuah kapal yang berlayar di tengah lautan lepas. Kadang kita akan menghadapi ombak yang tenang, dan kadang pun akan kita hadapi ombak yang dahsyat. Bahkan, bisa jadi badai yang menggelegar, disertai kilat dan petirnya, siap sedia mengincar biduk pelayaran kita.
Lantas, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan membiarkan pelayaran kita tanpa arah? Ataukah kita sendiri yang akan memporak-porandakan biduk armada pelayaran kita? Tentu saja tidak, bukan?! Mengapa? Karena cinta dan sayang kita bertautan antara satu dan lainnya dengan keyakinan pada-Nya. Ya. Kita memiliki Dia sebagai penunjuk petualangan kita ini. Hingga, sebesar apapun ombak, badai, kilat dan petir yang kita temui di tengah pelayaran kita, akan mampu tuk kita lewati bersama. Tentunya, bersama dalam visi nikah yang kita niatkan bersama. “Dalam Bingkai Pernikahan, Kita Sempurnakan Visi Perubahan”. Senantiasa akan ku genggam, dan ku jaga kesucian ikatan ini, hingga nanti, saat Dia pertemukan kita kembali di Istana Cinta kita. Di Surga-Nya. Insya Allah.
Ku benar-benar ingin menjadi bidadarimu selamanya. Hingga, menjadikan pandangan, pikiran maupun perasaanmu teralihkan dari bidadari-bidadari langit yang kecantikan dan kesolehahannya tak diragukan lagi.
Kasihku, perjalanan kita baru saja dimulai. Maka, mari kita perkuat kesolidan hubungan kita dengan keyakinan, disertai komunikasi dan kepercayaan yang terajut karena-Nya. Senantiasa ku menyayangimu dan akan terus menyayangimu. Kau pangeranku, imamku, sahabatku, suami terbaik dalam hidupku.

Luv u, Cinta...

Selasa, 25 September 2012

Sepanjang waktuku bersamamu



Ba’da akad. Setelah tanggung jawab orang tua berpindah kepada sesosok ikhwan yang telah menjadikanku halal atasnya. Menjadikanku sebagai pakaian maupun perhiasan untuknya, begitupun sebaliknya. Perasaan maupun pemikiranku rasanya membeku untuk sesaat, ketika dia ada di sampingku. Begitu dekat, begitu hangat.
Seperti mimpi rasanya. Sosok yang selama ini ku rindukan kehadirannya di dalam bilik hatiku yang terjaga, kini ada di hadapanku. Menyentuhku dalam sentuhan yang bersahaja. Sekalipun, pandangan ini masih belum mampu ku arahkan untuk menatapnya. Karena, kecintaan dan keta’atanku pada-Nya telah membuatku menutup segala ruang interaksiku terhadap sosok yang berbeda jenis denganku. Hingga, menjadikanku mematung di hadapannya.
Bisikan lembut dari hatiku menyentakkanku hingga tersadar. Saat bisikan itu menyuarakan, “Ya Allah, inikah imam yang akan menuntunku kepada Jannah-Mu?”. Sosok yang tidak biasa menurutku, karena ia luar biasa. Sosok yang akan ku temani dengan batas ketidak wajaran menurutku. Mengapa? Karena ku yakin, aktivitasnya pastilah berbeda dari aktivitas kebanyakan pemimpin rumah tangga yang ada. Siang bagai malam, dan malam pun bagai siang, dalam aktivitas mulianya. Tidak ada yang berbeda dari pagi hingga malamnya, karena dipenuhi dengan aktivitas yang diridhoi-Nya. Insya Allah.
Waktu, materi, tenaga, pikiran, keringat, langkah, bahkan darahnya, senantiasa akan dia korbankan untuk menjemput sebuah kemenangan yang telah dijanjikan-Nya. Maut bukanlah perkara yang dia takuti, namun, bukan pula perkara yang diharapkannya. Akan tetapi, maut adalah puncak kerinduannya pada sebuah pertemuan dengan Sang Kholiqnya.
Subhanallah. Sosok yang begitu sabar dan pengayom, serta bersahaja. Hari-hari pun dilalui bersamanya dalam suka maupun duka yang amat berarti. Penuh hikmah yang mengantarkan pada sebuah muhasabah bersama. Bukanlah kesempurnaan yang menjadikanku memilihnya, melainkan kekurangan yang mengantarkan pada kami untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Saling menguatkan dan menasehati dalam kebenaran maupun kesabaran. Insya Allah.
***
Sepanjang waktuku kan ku habiskan bersamamu. Sekalipun kini jarak dan waktu memisahkanku denganmu. Namun ku yakin, semua pasti akan indah pada waktunya. Lalui segala ujian yang ada dengan kesabaran dan ketawakalan pada-Nya. Maafkanku atas kelemahanku. Sungguh, ku bersyukur dipertemukan-Nya denganmu. Bersama dalam aktivitas mulia, yang tiada pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Skenario terindah dari Allah, karena kau dihadirkan-Nya untuk menemani sisa usiaku dalam keta’atanku pada-Nya dan kepatuhanku padamu. Bersama, menjemput kemenangan yang hakiki. Bersama, membangun istana di surga-Nya. Sungguh, ku benar-benar jatuh cinta padamu, sayang.

Uhibbukafillah... ^-^

Rabu, 19 September 2012

"Dipersatukan dalam Ikatan Nikah"


Detik-detik Ijab Qabul kini telah di depan mata. Prosesi akad nikah nan syahdu, tengah menghitung waktu saja. Subhanallah. Berkali-kali lafadz meninggikan asma-Nya tiada terputus dari lisan ini. Penantian panjang, yang menjadi bagian skenario indah dari-Nya, kini berganti dengan sebuah jawaban suci nan mengharu-biru hati ini. Alhamdulillah, diri ini dipertemukan denganmu. Sosok yang penuh dengan tanggung jawab & kasih sayang, di tengah garangnya dirimu dalam setiap aksi jalanan, menentang tirani tak bertuan, melaju-melesat-dan bergerak bersama rekan-rekan black orange troper yang kau sayangi karena-Nya.
Terasa bagaikan mimpi. Kau benar-benar hadir tuk menjemputku. Membawaku dalam sebuah ikatan nan suci, ikatan ketaqwaan pada-Nya. Saat lantunan ayat suci, surah At-Taubah ayat 24, kau bacakan dengan penghayatan yang bersahaja. Air mata pun tak dapat tuk dibendung. Ayat tersebut menamparku secara halus, bahwa sekalipun kelak ku membersamaimu, bukan berarti ku kan senantiasa bersamamu dalam kesenangan saja. Akan banyak sekali ujian dakwah yang kan kita lalui. Cinta & sayang yang terbatasi oleh jarak & waktu. Ya, semua bukan karena tuntutan eksistensi. Namun, semua karena perintah dakwah & ketaqwaan kita pada-Nya.
Hingga, tak terasa, saat kenyataan diri ini telah menjadi halal tukmu. Rasanya, tiada dapat tuk dielakkan sebuah rasa bahagia menyeruak & menari-nari di dalam ruang rindu hati ini. Terima kasih ya Rabb, tuk semua skenario indah yang telah Kau tetapkan tukku & tuk dia. Sungguh, tak pernah terbayangkan, prosesi ta’aruf-khitbah, dari awal ku mengenalmu hingga pada prosesi pernikahan islami dapat terlaksana dengan ijin & pertolongan dari-Nya. Alhamdulillah.
Kini, kau dan aku telah bersama dalam pertemuan & perpisahan kita. Saling mengingatkan, menguatkan dan melengkapi atas kekurangan & kelebihan masing-masingnya. Belajar dari melalui berbagai proses, tentulah sangat menyenangkan. Banyak arti yang dapat kita petik bersama. Hingga, nantinya menjadikan kita tumbuh & berkembang sebagai sepasang insan yang luar biasa. Insya Allah. Semoga Allah senantiasa menguatkan langkah & keimanan kita dalam ikatan nikah ini, tuk berkontribusi maksimal & optimal dalam dakwah Syariah & Khilafah!!!
Dengan Ijin-Nya, kita pasti mampu mewujudkan apa yang menjadi mimpi kita bersama. Melahirkan generasi penerus yang luar biasa. Menjadikanmu pemimpin yang tangguh, di mana Insya Allah, Kemuliaan di bawah Naungan Islam atau Syahid-lah cita-cita tertinggi kita berdua. Yakinlah, Khilafah akan Tegak di tangan-tangan kita, bersamaan dengan kesungguh-sungguhan kita.
Insya Allah.

Opening Faza's Blog

Assalamu'alaikum!
~Ahlan wa sahlan~

Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"

~Allahu Akbar~