Sabtu, 08 September 2018

Kala Aksara Menuai Jariyah


Oleh Indri Faaza

Menulis. Aktivitas yang dipandang biasa, namun bagi saya sangat berharga. Bukan dilihat dari sisi kebisaan. Karena sejatinya saya tidak bisa menulis awalnya. Bahkan tak punya kemampuan atau bakat dalam menulis.

Di situlah kemudian saya berpikir tuk menjadikan kekurangan yang ada menjadi kelebihan. Dalam sebuah proses yang panjang, berawal dari menulis di buku diary, hingga menulis di media cetak. Semua dilalui dengan proses jatuh-bangun yang luar biasa payahnya.

Sekalipun sempat otodidak. Namun, akhirnya memutuskan tuk menekuni secara detail prosesnya dalam sebuah komunitas ataupun kelas menulis. Karena itu jauh lebih baik.

Dan akhirnya sampailah saya ke sebuah kelas istimewa. #WritingClassWithHas. Sekalipun baru pertemuan pertama, namun materinya luar biasa. Bagaimana menjadikan setiap amal itu menuai pahala? Termasuk dalam menulis. Bagaimana agar aksara yang dirangkai pada akhirnya menuai jariyah tuk penulisnya?

Aksara yang dirangkai tentunya tak sekedar kata demi kata yang hampa. Namun, aksara yang bernyawa. Sehingga akan mampu memengaruhi dan membangkitkan pemikiran dan perasaan pembaca.

Aksara yang bernyawa, yang menghantarkan kata demi kata berhujjah. Dimana yang benar akan disampaikan benar. Demikian pun sebaliknya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh mba Hasni Tagili bahwasanya, "Menulis merupakan aktivitas menjaring jariyah lewat aksara. Maka menulislah!". Jadi, jangan berkecil hati para pejuang pena. Sungguh, ujung pena kita akan menuai pahala kala aksara yang tertata tuk menggaungkan kebenaran. Bukan sekedar kata-kata sampah tak berguna. Apalagi hoax.

Maka, apabila hari ini kita masih terbiasa menuliskan hal-hal biasa, segera berhenti. Move on! Gantilah status atau postingan kita dengan konten penuh hikmah yang mengajak yang lain pada kebaikan. Di sanalah pahala akan bergulir dan mengalir sebagai amal jariyah hingga kelak kita telah tiada.

Sungguh jejak yang dapat kita tinggalkan melalui rangkaian aksara, itu sangat berarti. Sekalipun orang tak mengenal kita semasa di dunia. Biarlah kenangan mereka pada kita melalui proses hijrahnya, menjadi amal jariyah tuk kita.

Maka, menulislah! Sejak kini hingga nanti.

#KelarWCWHBatch3
#Meeting1
#WritingClassWithHas


Romansa Literasi Faaza


Masa memperkenalkan di masa dulu telah berlalu. Terganti dengan tumbuh dan berkembang para penulis ideologis di Borneo tercinta.


Tiada terkira rasanya syukur pada-Nya. Mungkin bukan melalui kita, tapi melalui yang lain. Sungguh kebangkitan para pejuang literasi itu kian nyata.

Mari melejit bersama! Menjadi para pejuang pena zaman now! Tak hanya dengan tinta, namun dengan jari jemari yang kian lincah menari di atas keyboard HP atau laptop kita!

#Revowriter #Revowriter7 #HariLiterasiInternasional #GerakanMedsosuntukDakwah
#MenghidupkanAtmosferLiterasi

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212655454881191&id=1230085820


Senin, 09 Juli 2018

Memoar Visi Pernikahan: “Dalam Bingkai Pernikahan, Kami Sempurnakan Visi Perubahan!”


“Aku berangkat dulu ya sayang?!”, pamit dia sebelum melanjutkan agenda dakwahnya malam ini. Sebagaimana malam-malam sebelumnya. Penuh agenda.
Dalam satu bulan ini, agenda malamku pun turut bertambah. Menunggu kepulangannya, sembari mengevaluasi dan memikirkan uslub baru tuk dakwahku di esok hari. Intinya, esok hari harus lebih baik dan semakin baik lagi. Mesti ada “upgrade valensi” setiap harinya.
Kemudian, jawaban sekaligus do’a singkat pun ku ucapkan padanya. “Hati-hati ya sayang! Semoga Allah mudahkan semua urusanmu”.
Sesaat, ku pun terdiam. Menunggu telepon dimatikan dari seberang sana. Namun,,,
Afwan, ada yang lupa!?”, kata dia merasa bersalah. Aku pun menjadi bertanya-tanya dan tertegun dalam tanya yang bercampur dengan rasa penasaranku.
Hingga, saat dia melanjutkan, “Ku sayang kamu, cinta! Assalamu’alaikum!”
Wa’alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh”, jawabku lirih. Tentunya dengan disertai sebuah ekspresi yang tak mampu tuk ku sembunyikan. Tersipu malu dalam bahagia dan syukur pada-Nya.
Subhanallah. Penuh kehangatan dan penuh dengan kejutan. Inilah dia, Imamku. Sosok luar biasa yang dihadiahkan Allah dalam sebuah skenario terindah-Nya, tuk menjadi penguat saat ku terjatuh, pembimbing saat ku kehilangan arah. Menjadi sahabat, dimana saat ku butuh bahu-nya tuk menuangkan seluruh lara yang terpendam, maka bahu itu selalu siap dan siaga. Bersama menopang amanah dakwah ini. Menjadi suami, di mana keridhoannya akan menghantarkanku pada keridhoan Allah. Insya Allah.
Tanpa disadari suara di seberang sana pun menghilang. Seiring dengan nada terputusnya telepon yang menggantikan kebersamaan jarak jauh kita dengan kesunyian. Sepi. Namun, suara lembutnya masih terngiang di telingaku. Nasihatnya yang senantiasa mengingatkanku pada-Nya dan dukungannya sebagaimana seorang sahabat, menjadikanku merasa nyaman bersamanya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb...
***
Seperti malam-malam pada beberapa tahun yang lalu. Malam ini pun ku nantikan kepulangannya. Menemani agendanya dengan beberapa agendaku. Aku tidak ingin apabila aktivitasku justru memberatkan timbangannya menuju neraka-Nya yang pedih kelak. Karena, kini ku telah menjadi tanggung jawabnya. Sehingga, ku berusaha agar aktivitas yang ku jalankan setiap harinya senantiasa dalam memenuhi seruan perintah-Nya, dalam poros aktivitas dakwah tentunya. Maka, ku habiskan waktu menunggu kepulangannya, dengan merancang plan dakwah di esok hari dan menyiapkan materi tuk agenda pembinaan ataupun kontak di esok hari.
Bahagia sekali rasanya dapat menemani sosok ikhwan yang luar biasa sepertinya. Semoga Allah senantiasa menjaga ikatan suci yang terjalin di antara kita dengan keimanan, ketakwaan dan keyakinan kita pada-Nya. Aamiin.
Senantiasa ku ingat pesan dari seorang adik. Bagiku, itu dapat menjadi pembantahku pada sebuah statement, bahwa “Wanita adalah Penghambat Revolusi”.
Dia mengingatkan, “bahwasanya saat kita menikah nanti, kita tidak sedang menemani seorang suami yang biasa-biasa saja. Di mana aktivitasnya hanya kerja dan mengurusi rumah tangga saja. Kita pun tidak akan selalu tertawa bersamanya. Justru kita akan lebih banyak menangis, karena bersama-sama memikirkan masalah umat yang ada di tengah-tengah kehidupan kita saat ini. Ingatlah, pernikahan kita tuk sebuah dedikasi terbaik di hadapan-Nya, kak! Suami kita nanti adalah sosok yang Luar Biasa. Nanti, kita akan menemani dia, yang pikiran dan perasaannya adalah umat, keluarga, dirinya dan keridhoan Allah. Siangnya bisa saja menjadi ibadah dia tuk keluarganya, dalam aktivitas mencari nafkah dalam ridho-Nya. Namun, tetaplah dakwah menjadi poros utama baginya. Karena pahala besar tuknya atas aktivitas ini. Kemudian, malamnya pun, bukan diisi dengan istirahat atas kelelahannya saja, melainkan dipenuhi dengan agenda dakwah, rapat, halaqahupgrade valensi, dll. Terlebih, saat nanti khilafah tegak. Bisa jadi, kita akan terpisah dalam waktu yang tidak sebentar darinya. Dan itu artinya, bisa saja, kita akan mempercayakan dia pada seorang rekan kita yang dapat memantik futuhatnya di sana. Insya Allah, surga-Nya tuk kita, kak! Maka, apabila kita cemburu pada aktivitasnya yang mulia itu, berarti kita-lah penghambat revolusi itu. Tetapi, saat kita memahami dan mendukungnya dengan mengingatkan dan menguatkannya, serta berkontribusi bersama-sama dengannya, maka, insya Allah, kita adalah Pemantik Revolusi baginya, umat, dan kemenangan Islam itu sendiri tentunya”.
Pesan yang benar-benar menamparku. Bahkan, air mata pun tak pernah dapat ku tahan saat mengingatnya. Insya Allah, ku pasti bisa menjadi yang terbaik, sekalipun tak akan pernah bisa tuk sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik-Nya.
Sungguh, kebersamaan yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Sebagaimana proses ta’aruf dan khitbah dengannya yang tak pernah terpikirkan olehku. Skenario yang benar-benar indah bagiku. Ketika kita meyakini, bahwasanya semua pasti akan indah pada waktunya. Indah, bukan dengan persepsi kita yang tak ber-tuan. Serta, bukan dalam aktivitas yang dimurkai-Nya. Namun, indah dalam keterikatan kita pada Syariat-Nya. Dengan keyakinan yang mengakar dan jernih.
“Dalam Bingkai Pernikahan, Kami Sempurnakan Visi Perubahan!”
***
Kini, kebersamaan kita tak terasa hampir enam tahun lamanya. Ujian dan cobaan yang kita rasakan selama ini sungguh masih belum ada apa-apanya. Alhamdulillah, kita pun kini telah dikarunia putra-putri yang sholeh dan sholehah. Semoga Allah senantiasa menjaga kelurusan dan ketulusan niat maupun langkah kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Dengan menjadikan dakwah sebagai poros hidup kita.
Pelayaran kita baru saja dimulai, sayang. Maka, tetap fokuslah pada tujuan kita di depan sana. Surga-Nya nan indah menjadi pelabuhan terakhir atas pelayaran kapal kita. Sekalipun, ombak kecil, maupun besar menerjang kapal kita, keyakinan kita pada-Nya tidak akan tergoyahkan sedikit pun. Karena kita memiliki Allah yang akan senantiasa membersamai kita, dalam suka maupun duka kita. Keyakinan yang tidak akan terpatahkan, sekalipun bumi ini terbelah. Ataupun, ruh telah terpisah dari jasadnya. Ia-nya tetap akan senantiasa menancap kuat di dalam diri ini.
Bersama kita melayakkan diri kita tuk menjemput janji-Nya. Melalui tangan-tangan kita, ataukah penerus yang telah kita persiapkan dan bina bersama. Aku akan selalu menemanimu –nyata ataupun maya-, dalam do’a dan kontribusi maksimal di jalan dakwah yang mulia ini. Wajib dan sunnah, yang akan kita kejar bersama. Insya Allah, saat jasad ini pun terpisah nanti darimu, cintaku padamu karena-Nya, tak akan pernah berubah. Sekalipun skenario-Nya nanti mengharuskanku ikhlas pada segala keputusan-Nya, ku akan meridhoinya, selama engkau ridho pula padaku. Hingga, menjadikan Surga-Nya indah bagiku, dan mengalihkan pandanganku dari fana-nya gemerlap dunia ini. Insya Allah. Semoga Allah senantiasa karuniakan hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih dengan iman dan islam dalam diri kita berdua. Aamiin.
***
Dalam Rindu nan Syahdu
09092012
_Faaza_



Selasa, 02 April 2013

Jalan Para Pemberani


oleh RJ

Sebelum Rasulullah SAW diutus dunia arab berada di zaman kegelapan, mulai gaya hidup yg permisivism-barbarianisme hingga keyakinan paganisme. Pada awalnya Makah adalah menganut agama tauhid yg di bawa Nabi Ibrahim As, namun seiring berputarnya roda zaman keyakinan tauhid ini mulai terabrasi dan terkotori dgn ke syirikan.
Setelah beratus tahun berada dalam the dark age diutuslah seorang Muhammad SAW sebagai pembawa obor revolusi yang membawa bangsa Arab dan dunia menuju zaman renaisanse jauh sebelum Eropa mendeklarasikannya. Saat menerima wahyu pertama Rasulullah SAW menyeru orang-orang terdekatnya untuk bergabung dan bersama dalam komunitas perlawanan yang beliau pimpin, namun ini masih bersifat underground. Sahabat yang tergabung dalam komunitas ini beliau meng-internalisasikan aqidah dan ideologi Islam sebagai senjata perlawanan, dan beliau bentuk aqliayah dan nafsiyah para sahabat sebagai bekal perjuangan. Sehingga terciptalah manusia-manusia radikal, ideologis dan revolusioner.

Kemudian datanglah perintah Tuhan agar Rasulullah SAW menyampaikan Risalah nya secara terang-terangan.
“sampaikanlah olehmu secara terang-terangan apa saja yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” (TQS.Al Hijr:94)

Rasulullah SAW dan komunitas nya pun terjun kemasyarakat untuk menyampaikan risalahnya, melancarkan propaganda, melempar wacana, dan membuka ruang diskusi-diskusi terbuka. Komunitas ini melakukan perang pemikiran. Merekonstruksi aqidah Islam, dan merekonstruksi pemikiran sesat dan melawan tatanan sosial yang membusuk dizamannya. Mulai dari menyeru kepada Al Islam, menjelaskan kebodohan paganisme masyarakat Quraisyi, Melawan perekonominan yang bersifat eksploitatif, melawan segala bentuk penindasan terhadap proletar dan buruh, mendeklarasikan egaliterian dan melawan segala bentuk diskriminasi sosial terhadap kaum wanita.

Dalam kamus perjuangan Rasulullah SAW tidak didapati kata kompromi, walau konsekuensinya harus merenggang nyawa karenanya. Fase berat ini beralangsung selama 13 Tahun kenabian Muhammad SAW, selama ini pula penguasa kafir Makah memproklamirkan penolakan. Mereka sangat faham apa yang dibawa Muhammad, seandainya Rasulullah SAW hanya menyeru kepada ritual, spiritual, seremoni, dan moralitas belaka niscaya para penguasa Quraisyi akan menerima dengan tangan terbukan tanpa harus melakukan resistensi. namun apa yang dibawa Rasulullah SAW bukan hanya itu, Rasulullah SAW menawarkan sebuah Revolusi total terhadap Aqidah dan tatanan sosial. Dan hal ini akan menghancurkan eksistensi kekuasaan mereka.

Untuk tetap mempertahankan eksistensi, kekuasaan, dominasi dan status quo di masyarakat merekapun menghalalkan segala cara. Awalnya mereka menawarkan langkah kompromis agar Rasulullah SAW mau berhenti menyampaikan ajarannya, langkah itu adalah menawarkan kekuasaan dan mengajak Rasul untuk bergabung dengan parlemen jahiliyah, juga tawaran harta dan wanita. Namun semua itu ditolak Rasulullah SAW dengan tegas tanpa kompromi.

“ Demi Allah, Andai Saja Mereka Bisa Meletakkan Matahari Ditangan Kananku, dan Bulan di tangan Kiriku, Lalu Mereka Memintaku Untuk Meninggalkan Urusan Ini (Islam), Maka Demi Allah, Sampai Urusan Ini (Islam) di Menangkan Allah, Atau Aku Harus Binasa Di Jalan Nya, Aku Tidak Akan Meninggalkan Nya” (HR.Ibn Hisyam).

Saat strategi kompromis kaum Quraisyi gagal total, mereka melancarkan strategi murahan seperti fitnah dan cacian murahan yg mengatakan Muhammad adalah peramal, penyair hingga penyihir kejam dan mendistorsi segala ajarannya, semua ini dilakukan agar masyarakat takut, menjauhi dan mendustakan ajaran yang di bawa Muhammad SAW. Ketika trik fitnah ini tidak efektif untuk menghentikan langkah perjuangan Rasulullah SAW dan pengikutnya, mereka mulai menggunakan tindakan-tindakan kotor dan represif. Penyiksaan demi penyiksaan terhadap Rasulullah SAW dan para sahabat, hingga puncaknya rencana untuk membunuh Muhammad SAW. semua dilakukan hanya dengan satu harapan agar Rasulullah SAW menghentikan dakwahnya.

Jadi apa yang terjadi pada aktivis Islam hari ini bukanlah hal yang baru fitnah, garis keras, ekstrimis hingga teroris. Juga dialami Rasulullah SAW dan para sahabat hanya saja dalam bahasa yang berbeda, jika dulu Rasul dikatakan penyihir kejam, untuk saat ini kata itu telah diganti dengan teroris. sementara penyiksaan jauh lebih dulu dialami Bilal, Yassir, Abu Dzar al Ghifari bahkan Rasulullah SAW tidak bebas dari penyiksaan.

Perlawanan Rasulullah SAW dan komunitas nya terus berlangsung. Fitnah demi fitnah, penganiayaan demi penganiayaan, hingga pembokotan hanya menjadikan sahabat sebagai manusia-manusia hebat dan tahan banting, walaupun sempat hampir frustasi karena kemenangan tak kunjung datang, namun itulah cara Allah untuk melihat siapa hambanya yang berhak untuk meraih title Mukmin

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
(TQS.Al Ankabut:2-3).
Namun Allah juga memberi kabar gembira sebagai asupan semangat bagi para generasi Awal ini disaat mereka hampir frustasi “Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”(TQS.Al Baqarah:214).

Shadaqallah benarlah semua janji Allah, bahwa kemenangan Islam dan kaum muslimin itu keniscayaan, seiring berjalannya waktu kondisi dakwah yg sudah tdk kondusif dan terhimpit datanglah kabar gembira dari negeri yatsrib, dua kekuatan besar suku Aus dan Khazraj menyatakan ke Islamannya dan memberikan kekuasaan, harta bahkan nyawa mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan dari perantaraan mereka inilah kemudia tegak Daulah Islam pertama di Madinah, sebuah institusi penegak hukum-hukum Allah, institusi pembebasan, penjaga harta, darah dan kehormatan manusia, sebagai rahmat bagi siapa saja yang bernaung di bawah panjinya, negara yg menghidupkan pengetahuan dan membawa manusia kepada perababan yg cemerlang.

Negara ini bertahan selama 13 abad, membentang 2/3 dunia menembus batas-batas territorial benua, menyatukan manusia dengan akidah tanpa melihat bangsa, ras, hingga warna kulit. Dari Jazirah Arabiyah hingga Indonesia. Nagara itu adalah “DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH”

Namun saat ini semua tingga sejarah kawan, Khilafah telah tiada. Ibu kita telah dibunuh. Negara yang dipertahan kan dengan darah dan air mata para mujahidin telah diporak-porandakank kafir laknat. Karena itu Tugas kita hari ini adalah melakukan perjuangan total untuk mengembalikannya.

Teruntuk kalian yang telah mengucakan Syahadat bergabunglah kawan dalam perjuangan ini, isilah shaf-shaf kosong. Sesungguhnya perjuangan ini indah kawan, inilah jalan kita, jalan pewaris risalah Ambiya, inilah jalan menuju syahid, dan inilah jalan untuk melihat wajah Tuhan mu……………….
Namun jalan ini terlalu sepi untuk para penakut, dan terlalu berbahaya untuk para pengecut….
Jalan ini hanyalah jalan untuk para pemberani!!!! Untuk kalian para pemberani kami tunggu kalian. Disekitarmu ada hal yang tersembunyi, ada cita-cita yang indah, dan ada masa depan cerah dan kemenangan yang indah!!!! ALLAHU AKBAR

Senin, 03 Desember 2012

“SemangKA CINTA”



Siang bagai malam, begitupun malam bagai siang.
Kaki jadi kepala, begitupun kepala jadi kaki.
Bagimu, itulah hidup dalam pilihanmu.
Usaha dan do’a saling beriringan serta menopang satu dengan yang lainnya.
Subhanallah...
Langkahmu tiada tersurutkan sedikitpun.
Pada rayuan waktu maupun gemerlap dunia yang begitu melenakan.
Senyum maupun tawa riangmu seakan menjadi sinyal,
Bahwa kau benar-benar menikmati setiap proses yang Dia amanahkan padamu.
Entah apakah jadinya apabila keimanan itu tiada mengkristal,
Bisa jadi keistiqomahan adalah sesuatu yang mahal,
Hingga berujung pada beribu pembenaran yang akan memberatkanmu tuk berlari,
Mengejar perintah-Nya yang menghantarkanmu kelak menuju Surga-Nya.
Keyakinan pada pertolongan dan janji-Nya yang senantiasa kau hujamkan,
Tak hanya tukmu, namun tuk orang-orang yang kau sayangi.
Cinta,
Di sini ku mena’atimu dalam kesabaran dan kesyukuran yang tiada terkira.
Kau menjadikan pernikahan ini sebagai proses belajar kita dalam kebersamaan.
Belajar tuk maksimal,
Belajar tuk berkorban,
Belajar tuk memahami satu dengan lainnya.
Dan belajar, tuk merealisasikan visi bersama kita,
“Dalam Bingkai Pernikahan, Kami Sempurnakan Visi Perubahan”
Sayang,
Kau, ibarat sinar mentari pagi, setelah pekatnya malam.
Kau pun ibarat air yang menghilangkan dahagaku.
Tak satu pun keluhan terlontar dari lisanmu,
Tak pula kau bersedih hati menapaki jalan terjal penuh onak duri ini.
Karena, kau melalui setiap proses ini dengan penuh keyakinan.
Bahkan, kau senantiasa menguatkan, mengingatkan dan menginspirasiku.
Di setiap waktumu.
Tak peduli sepadat apapun amanahmu.
Kau luangkan waktu tukku.
Berdiskusi, tuk mengkristalkan pemahamanku.
Kau benar-benar pelangi, yang mewarnai hidupku dengan warna indahmu.
Kau hiasi perjalanan awal kita, dengan takwa yang mendalam.
Dan semoga, akhirnya nanti pun, kita menghadap-Nya tetap dalam ketakwaan.
Aamiin Ya Rabb...

Dalam ruang rinduku padamu,
28 Nov 2012, 23:16 WITA.
_Faaza_

Minggu, 04 November 2012

Laa Tansa Bookstore



Laa Tansa Bookstore

Agen Tunggal Gaulfresh dan Distributor Buku2 Islami
Banjarmasin-Jakarta

“The Best of Quality Service & Product”

Konten Produk:
Buku-buku Terbitan Gaulfresh (Diskon 20% dengan Pengambilan buku minimal 20 buku, dan Diskon 15% dengan Pengambilan buku minimal 10 buku, 10% di bawahnya)

Buku-buku Islami Terbitan Al-Azhar Press, PTI Press, dan Anomali (Diskon 15% dengan Pengambilan buku minimal 10 buku, 10% di bawahnya)

Buku-buku Islami lainnya (10% untuk setiap pembelian)

Aksesoris Bros Panel-Home Production (Kisaran Harga Rp 5.000 s/d Rp 10.000)

Aksesoris Bros Pin (Kecil Rp 1.500 s/d Rp 2.000, Sedang Rp 2.000 s/d Rp 3.500, dan Besar Rp 5.000)

Gantungan Kunci (Kisaran Harga Rp 2.500 s/d Rp 7.500)

Contact Person:
Banjarmasin (Faaza_0896 9152 3805)
Jakarta (Ardan_0877 8296 2812)

Puisi Tetangga (Ibramsyah Amandit)


Ibramsyah Amandit
JALAN PUISI

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan naik menuju Allah
meniti asma, sifat, af’alullah

Lama diri bersimbah
panas serta berbasah-basah
tunduk tengadah pulang ke diri
nyatanya tak siapa pemilik apa

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan pupus di dalam Allah
hilang panas hilang basah
punah diri dalam Allah
suara jiwa mengkalamullah

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan pulang dari Allah dengan Allah
ulat kepompong berubah polah
sukma terbang selendang kiswah

Puisiku perjalanan mikraj;
turun di pintu-pintu rumah
sudah bersayap puisi amanah
kata-kata rahmat berpetuah

Tamban, 3/11/2012

PULANG

Pulanglah...
Pulang, hai angin Sulaiman
pembaca cuaca dan keadaan

Jendela selalu terbuka
ke sarang lumbung semula
tempat eraman segala cita

Angin lepas ke manapun telah berlayar
penat kembara melintas buih sia-sia

Tiadakah di sini lebih baik;
kamar karantina kelumpuhan
bagi mendaras ulang aksara-aksara
memaknai isyarat purba dan tanda-tanda
antara selaput khayal
mimpi yang memperpanjang bayang
Apa artinya kebaikan tersumbat?
putih hati tertimbun-timbun
tak menetas telur di koloni dinasti
dari makhluk bersayap lumpuh kaki
meski kelumpuhan bukanlah cacat
bukan aib bahan tertawaan
layaknya kekuasaan yang berkeliaran
berbatas bahagia dengan rakyat

Pulanglah...
di induk kebisuan
di pangkal niat suci semuci
lalu tertawalah, hai jiwa pengembara sia-sia!

Tamban, 21/10/2012

SEPERTI MUSA

Ketika Tuhan mengambil perjanjian-Nya (dengan kelumpuhanku)
aku seperti Nabi Musa
diangkat di depanku (beban bagai) Gunung Thursina
Lalu Tuhan berfirman:
“Ambillah (uzur) Kami bentangkan kepadamu dengan tabah
dan insyaflah (dalam kelumpuhan itu)
agar kau menjadi takwa.”

Saat subuh di kamar karantina lumpuh
berderai air mata dan tawa

bergetar diri penuh rasa bahagia
“Musa lumpuh” membaca Surah al-Baqarah 63
menyadari atas rahasia Tuhannya
bahwa lumpuhku agar menjadi takwa
lebih baik daripada sehat maksiat

Tamban, 24/10/2012

ZERO AREA

Di lingkaran kehidupan
aku putus kegiatan

Di lingkaran pergaulan
aku asyik memangku tangan

Di lingkaran waktu sehari
kulepas kupu-kupu menari

Di lingkaran percakapan
hatiku bersahutan

Di lingkaran kejadian
kutuntaskan perjanjian

Di lingkaran perasaan
pagi esok aku berkain kafan

Di lingkaran nasib
aku digantung Tuhan

Tamban, 20/10/2012

PUTRA KUALA

Kelahiranku bukan merapal nama;
hutan galam, kelakai, air coklat asam
jalan kampung rusak.
Jembatan Rumpiang
mondar-mandir tongkang batu bara
sejumlah kantor sejumlah warga
tanah gambut basah becek lembut
daerah bantaran pasang surut

Berkali-kali biasa kubaca
bagai susun huruf-huruf penanda
atributmu, Batola!
Tapi aku terlahir bukan merapal namamu...

Aku putra yang dahaga di rahimmu
beri pemuas hausku dengan lemak manismu
aku nalar perambah dada kuala
aku juga perasa pemabuk gila
menari di darah dagingmu rawa becekmu
menari di pinggir pantai di arus sungai
di rancang bangun hidup dan kematianku
di pelabuhan tambatan anak cucu

Sambut mabukku;
yang menggebu hasrat ombak membiru
aku siang di mabuk terang
aku surya di denyar petang
aku purnama pengibas bayang
embun jiwa dalam tarian mabukku gila, Batola
Kata-kataku ini sabda!
Tarian kasih dan cintaku bergelora
berputar dalam genderang laga
tariku tari pejuang
tari siang terang
aku surya aku purnama aku pejuang
mengukir tebing menderu kuala
aku purnama embun penyejuk jiwa

Batola, Batola...
merendahlah
berikan puting susu ibumu
sebelum terbakar punah
bila kau tegak berpongah-pongah

Tamban, 26/10/2012

BUNGA-BUNGA

Kubaca subhanallah di putih melati
Kubaca alhamdulillah di bunga matahari
Kubaca Allahu Akbar di teratai mekar
Aku stroke di mawar berduri
Jangan kau iri…
Cintaku nyeri ditusuk Illahi

Tamban, 27/10/2012

Opening Faza's Blog

Assalamu'alaikum!
~Ahlan wa sahlan~

Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"

~Allahu Akbar~