“Ku mengimani-Nya karena Dia menyejukkan hidupku!”
“Ku meyakini-Nya karena begitu banyak mukjizat yang ku temui di dunia ini!”
“Ku mempercayainya karena orang tuaku yang melahirkanku dalam keadaan muslim.”
Dan lain sebagainya.
Pernahkah kata-kata tersebut terlontar dari lisan kita? Tentulah ada, sekalipun hanya sesekali, dan itu pastinya dahulu, saat kita hanya memahami keyakinan kita hanya sekedar ritual keseharian yang kita laksanakan sebagai tuntutan seorang yang memiliki keyakinan.
Namun, adakah sempat terpikirkan, bagaimana titian jalan keimanan yang sebenarnya? Adakah kita membuktikannya dengan akal kita? Ataukah hanya dengan perasaan kita saja?
Bahkan di dalam banyak ayat, Allah senantiasa mengakhiri kalamNya dengan kata-kata “…bagi orang-orang yang berakal”. Namun, pun terdapat juga ayat-ayat yang di sana menekankan kepada bagaimana sesuatu itu dirasa dengan hati kita, semisal dalam keyakinan itu sendiri kan harusnya diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dalam sebuah perbuatan.
Maka, hendaknya ada keselarasan, keserasian dan penempatan-penempatan atasnya. Dan tentulah pasti, meletakkan keduanya di bawah sebuah kaidah baku yang hakiki, yaitu SyariatNya.
Karena sebagaimana yang kita pahami, menapaki sebuah jalan keimanan hanya dengan perasaan, sama saja dengan mengikatkan diri pada sebuah tali yang lemah, dan mudah putus. Tetapi berbeda dengan merentas jalan keimanan melalui proses berpikir, terlebih melalui kaidah berpikir yang cemerlang dan mendalam. Dalil aqli dan naqli yang menjadi pondasi mendasarnya.
Sehingga, haruslah tercipta suatu lingkaran yang kondusif untuk membangun pemikiran serta perasaan yang satu, dalam sebuah peraturan hidup yang satu pula, yaitu SyariatNya.
Rabu, 07 September 2011
Antara Akal dan Hati
“Ku mengimani-Nya karena Dia menyejukkan hidupku!”
“Ku meyakini-Nya karena begitu banyak mukjizat yang ku temui di dunia ini!”
“Ku mempercayainya karena orang tuaku yang melahirkanku dalam keadaan muslim.”
Dan lain sebagainya.
Pernahkah kata-kata tersebut terlontar dari lisan kita? Tentulah ada, sekalipun hanya sesekali, dan itu pastinya dahulu, saat kita hanya memahami keyakinan kita hanya sekedar ritual keseharian yang kita laksanakan sebagai tuntutan seorang yang memiliki keyakinan.
Namun, adakah sempat terpikirkan, bagaimana titian jalan keimanan yang sebenarnya? Adakah kita membuktikannya dengan akal kita? Ataukah hanya dengan perasaan kita saja?
Bahkan di dalam banyak ayat, Allah senantiasa mengakhiri kalamNya dengan kata-kata “…bagi orang-orang yang berakal”. Namun, pun terdapat juga ayat-ayat yang di sana menekankan kepada bagaimana sesuatu itu dirasa dengan hati kita, semisal dalam keyakinan itu sendiri kan harusnya diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dalam sebuah perbuatan.
Maka, hendaknya ada keselarasan, keserasian dan penempatan-penempatan atasnya. Dan tentulah pasti, meletakkan keduanya di bawah sebuah kaidah baku yang hakiki, yaitu SyariatNya.
Karena sebagaimana yang kita pahami, menapaki sebuah jalan keimanan hanya dengan perasaan, sama saja dengan mengikatkan diri pada sebuah tali yang lemah, dan mudah putus. Tetapi berbeda dengan merentas jalan keimanan melalui proses berpikir, terlebih melalui kaidah berpikir yang cemerlang dan mendalam. Dalil aqli dan naqli yang menjadi pondasi mendasarnya.
Sehingga, haruslah tercipta suatu lingkaran yang kondusif untuk membangun pemikiran serta perasaan yang satu, dalam sebuah peraturan hidup yang satu pula, yaitu SyariatNya.
“Ku meyakini-Nya karena begitu banyak mukjizat yang ku temui di dunia ini!”
“Ku mempercayainya karena orang tuaku yang melahirkanku dalam keadaan muslim.”
Dan lain sebagainya.
Pernahkah kata-kata tersebut terlontar dari lisan kita? Tentulah ada, sekalipun hanya sesekali, dan itu pastinya dahulu, saat kita hanya memahami keyakinan kita hanya sekedar ritual keseharian yang kita laksanakan sebagai tuntutan seorang yang memiliki keyakinan.
Namun, adakah sempat terpikirkan, bagaimana titian jalan keimanan yang sebenarnya? Adakah kita membuktikannya dengan akal kita? Ataukah hanya dengan perasaan kita saja?
Bahkan di dalam banyak ayat, Allah senantiasa mengakhiri kalamNya dengan kata-kata “…bagi orang-orang yang berakal”. Namun, pun terdapat juga ayat-ayat yang di sana menekankan kepada bagaimana sesuatu itu dirasa dengan hati kita, semisal dalam keyakinan itu sendiri kan harusnya diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dalam sebuah perbuatan.
Maka, hendaknya ada keselarasan, keserasian dan penempatan-penempatan atasnya. Dan tentulah pasti, meletakkan keduanya di bawah sebuah kaidah baku yang hakiki, yaitu SyariatNya.
Karena sebagaimana yang kita pahami, menapaki sebuah jalan keimanan hanya dengan perasaan, sama saja dengan mengikatkan diri pada sebuah tali yang lemah, dan mudah putus. Tetapi berbeda dengan merentas jalan keimanan melalui proses berpikir, terlebih melalui kaidah berpikir yang cemerlang dan mendalam. Dalil aqli dan naqli yang menjadi pondasi mendasarnya.
Sehingga, haruslah tercipta suatu lingkaran yang kondusif untuk membangun pemikiran serta perasaan yang satu, dalam sebuah peraturan hidup yang satu pula, yaitu SyariatNya.
Selasa, 30 Agustus 2011
~Hanya Seutas Angan dan Mimpi~
Tidak sedikit orang yang terjatuh, bahkan tersungkur, saat mimpi-mimpinya hanya sekedar angan-angan dan hanya ada dalam sebauh buaian. dan bisa jadi, inilah salah satu penyebab orang-orang takut tuk bermimpi.
mungkin tak jauh berbeda dengan diriku. awalnya ku pun enggan dan takut tuk memimpikan sesuatu. bahkan, sangat takut tuk merakit dan merajut mimpi di atas kertas ataupun dalam balutan sebuah pena.
takut akan hanya menjadi harapan saja. atau mungkin, hanya sekedar menjadi penghibur serta penyemangat sementara saja. semua tidak dapat dijadikan alasan tuk tidak bermimpi. karena kerugian dua kali lipat, saat menjadikan hidup berjalan begitu-begitu saja dan tanpa arah serta tujuan yang pasti.
mimpi yang ku maksud di sini bukan sekedar mimpi biasa. namun, ianya merupakan peta kehidupan yang memiliki waktu tuk mencapainya. kalaupun diri tidak mampu tuk menjadikannya nyata, jadikanlah ia hanya sekedar pembelajaran atau hanya sebatas angan yang menggambarkan sebuah hikmah yang luar biasa dalam hidup kita.
jangan pernah berhenti tuk bermimpi. selama harga sebuah mimpi belum ditetapkan dan dipatenkan bagi diri kita. mimpi yang hakiki serta yang sejati adalah berada di SurgaNya dalam penghargaan sebagai Mujahid/ah di hadapanNya.
"Allahu Akbar!"
mungkin tak jauh berbeda dengan diriku. awalnya ku pun enggan dan takut tuk memimpikan sesuatu. bahkan, sangat takut tuk merakit dan merajut mimpi di atas kertas ataupun dalam balutan sebuah pena.
takut akan hanya menjadi harapan saja. atau mungkin, hanya sekedar menjadi penghibur serta penyemangat sementara saja. semua tidak dapat dijadikan alasan tuk tidak bermimpi. karena kerugian dua kali lipat, saat menjadikan hidup berjalan begitu-begitu saja dan tanpa arah serta tujuan yang pasti.
mimpi yang ku maksud di sini bukan sekedar mimpi biasa. namun, ianya merupakan peta kehidupan yang memiliki waktu tuk mencapainya. kalaupun diri tidak mampu tuk menjadikannya nyata, jadikanlah ia hanya sekedar pembelajaran atau hanya sebatas angan yang menggambarkan sebuah hikmah yang luar biasa dalam hidup kita.
jangan pernah berhenti tuk bermimpi. selama harga sebuah mimpi belum ditetapkan dan dipatenkan bagi diri kita. mimpi yang hakiki serta yang sejati adalah berada di SurgaNya dalam penghargaan sebagai Mujahid/ah di hadapanNya.
"Allahu Akbar!"
~Hanya Seutas Angan dan Mimpi~
Tidak sedikit orang yang terjatuh, bahkan tersungkur, saat mimpi-mimpinya hanya sekedar angan-angan dan hanya ada dalam sebauh buaian. dan bisa jadi, inilah salah satu penyebab orang-orang takut tuk bermimpi.
mungkin tak jauh berbeda dengan diriku. awalnya ku pun enggan dan takut tuk memimpikan sesuatu. bahkan, sangat takut tuk merakit dan merajut mimpi di atas kertas ataupun dalam balutan sebuah pena.
takut akan hanya menjadi harapan saja. atau mungkin, hanya sekedar menjadi penghibur serta penyemangat sementara saja. semua tidak dapat dijadikan alasan tuk tidak bermimpi. karena kerugian dua kali lipat, saat menjadikan hidup berjalan begitu-begitu saja dan tanpa arah serta tujuan yang pasti.
mimpi yang ku maksud di sini bukan sekedar mimpi biasa. namun, ianya merupakan peta kehidupan yang memiliki waktu tuk mencapainya. kalaupun diri tidak mampu tuk menjadikannya nyata, jadikanlah ia hanya sekedar pembelajaran atau hanya sebatas angan yang menggambarkan sebuah hikmah yang luar biasa dalam hidup kita.
jangan pernah berhenti tuk bermimpi. selama harga sebuah mimpi belum ditetapkan dan dipatenkan bagi diri kita. mimpi yang hakiki serta yang sejati adalah berada di SurgaNya dalam penghargaan sebagai Mujahid/ah di hadapanNya.
"Allahu Akbar!"
mungkin tak jauh berbeda dengan diriku. awalnya ku pun enggan dan takut tuk memimpikan sesuatu. bahkan, sangat takut tuk merakit dan merajut mimpi di atas kertas ataupun dalam balutan sebuah pena.
takut akan hanya menjadi harapan saja. atau mungkin, hanya sekedar menjadi penghibur serta penyemangat sementara saja. semua tidak dapat dijadikan alasan tuk tidak bermimpi. karena kerugian dua kali lipat, saat menjadikan hidup berjalan begitu-begitu saja dan tanpa arah serta tujuan yang pasti.
mimpi yang ku maksud di sini bukan sekedar mimpi biasa. namun, ianya merupakan peta kehidupan yang memiliki waktu tuk mencapainya. kalaupun diri tidak mampu tuk menjadikannya nyata, jadikanlah ia hanya sekedar pembelajaran atau hanya sebatas angan yang menggambarkan sebuah hikmah yang luar biasa dalam hidup kita.
jangan pernah berhenti tuk bermimpi. selama harga sebuah mimpi belum ditetapkan dan dipatenkan bagi diri kita. mimpi yang hakiki serta yang sejati adalah berada di SurgaNya dalam penghargaan sebagai Mujahid/ah di hadapanNya.
"Allahu Akbar!"
~Sugesti~
seseorang akan tergerak ataupun bergerak, saat ada sebuah panggilan dari dalam dirinya, sehingga menghantarkannya pada sebuah kesadaran akan adanya sesuatu yang harus diperbuat.
begitu pun tentunya, orang-orang yang mendapatkan panggilan dari keyakinannya, melalui jalan pemikiran dan menyatu pula dengan perasaannya.
dia tidak hanya bergerak tanpa sesuatu yang mengendalikan dan menghantarkannya pada sebuah tujuan, namun ia pun akan memikirkan berbagai cara kreatif untuk menuju pada tujuan tersebut.
sebuah kekuatan yang orang-orang katakan itu adalah sugesti. namun, tidak selalu sugesti itu muncul dari dorongan orang-orang di sekeliling kita. kekuatan sugesti yang terbesar adalah muncul dan mecuat dari dalam diri kita masing-masing. dorongan untuk berpikir, bertindak dan menciptakan sesuatu sebagai karya terindah yang hanya akan dipersembahkan tuk Sang Pemilik karya kehidupan ini.
kekuatan sugesti inilah yang setidaknya telah menghantarkan saya pada sebuah kekuatan di balik kelemahan yang kadang mengitari diri dan kehidupan saya. namun, bukan sugesti buta, ataupun sugesti negatif yang hanya bertuan pada sebuah manfaat. melainkan sugesti positif dan menginspirasi hidup kita.
"Salam Sukses dan Luar Biasa!"
begitu pun tentunya, orang-orang yang mendapatkan panggilan dari keyakinannya, melalui jalan pemikiran dan menyatu pula dengan perasaannya.
dia tidak hanya bergerak tanpa sesuatu yang mengendalikan dan menghantarkannya pada sebuah tujuan, namun ia pun akan memikirkan berbagai cara kreatif untuk menuju pada tujuan tersebut.
sebuah kekuatan yang orang-orang katakan itu adalah sugesti. namun, tidak selalu sugesti itu muncul dari dorongan orang-orang di sekeliling kita. kekuatan sugesti yang terbesar adalah muncul dan mecuat dari dalam diri kita masing-masing. dorongan untuk berpikir, bertindak dan menciptakan sesuatu sebagai karya terindah yang hanya akan dipersembahkan tuk Sang Pemilik karya kehidupan ini.
kekuatan sugesti inilah yang setidaknya telah menghantarkan saya pada sebuah kekuatan di balik kelemahan yang kadang mengitari diri dan kehidupan saya. namun, bukan sugesti buta, ataupun sugesti negatif yang hanya bertuan pada sebuah manfaat. melainkan sugesti positif dan menginspirasi hidup kita.
"Salam Sukses dan Luar Biasa!"
~Sugesti~
seseorang akan tergerak ataupun bergerak, saat ada sebuah panggilan dari dalam dirinya, sehingga menghantarkannya pada sebuah kesadaran akan adanya sesuatu yang harus diperbuat.
begitu pun tentunya, orang-orang yang mendapatkan panggilan dari keyakinannya, melalui jalan pemikiran dan menyatu pula dengan perasaannya.
dia tidak hanya bergerak tanpa sesuatu yang mengendalikan dan menghantarkannya pada sebuah tujuan, namun ia pun akan memikirkan berbagai cara kreatif untuk menuju pada tujuan tersebut.
sebuah kekuatan yang orang-orang katakan itu adalah sugesti. namun, tidak selalu sugesti itu muncul dari dorongan orang-orang di sekeliling kita. kekuatan sugesti yang terbesar adalah muncul dan mecuat dari dalam diri kita masing-masing. dorongan untuk berpikir, bertindak dan menciptakan sesuatu sebagai karya terindah yang hanya akan dipersembahkan tuk Sang Pemilik karya kehidupan ini.
kekuatan sugesti inilah yang setidaknya telah menghantarkan saya pada sebuah kekuatan di balik kelemahan yang kadang mengitari diri dan kehidupan saya. namun, bukan sugesti buta, ataupun sugesti negatif yang hanya bertuan pada sebuah manfaat. melainkan sugesti positif dan menginspirasi hidup kita.
"Salam Sukses dan Luar Biasa!"
begitu pun tentunya, orang-orang yang mendapatkan panggilan dari keyakinannya, melalui jalan pemikiran dan menyatu pula dengan perasaannya.
dia tidak hanya bergerak tanpa sesuatu yang mengendalikan dan menghantarkannya pada sebuah tujuan, namun ia pun akan memikirkan berbagai cara kreatif untuk menuju pada tujuan tersebut.
sebuah kekuatan yang orang-orang katakan itu adalah sugesti. namun, tidak selalu sugesti itu muncul dari dorongan orang-orang di sekeliling kita. kekuatan sugesti yang terbesar adalah muncul dan mecuat dari dalam diri kita masing-masing. dorongan untuk berpikir, bertindak dan menciptakan sesuatu sebagai karya terindah yang hanya akan dipersembahkan tuk Sang Pemilik karya kehidupan ini.
kekuatan sugesti inilah yang setidaknya telah menghantarkan saya pada sebuah kekuatan di balik kelemahan yang kadang mengitari diri dan kehidupan saya. namun, bukan sugesti buta, ataupun sugesti negatif yang hanya bertuan pada sebuah manfaat. melainkan sugesti positif dan menginspirasi hidup kita.
"Salam Sukses dan Luar Biasa!"
Rabu, 10 Agustus 2011
“Maaf…”
“Jujur, kaka begitu perhatian, karena kaka sayang ma kamu!”
Wajah polos dan lugu itu pun tampak biasa-biasa saja mendengar semua kata yang disampaikan orang yang dihormatinya sebagai kaka tersebut. Seketika kemudian dia pun tersenyum dan berkata: “Sayang Kaka pada Ade-nya kan, Mas?”
Sontak, laki-laki itu pun terdiam. Tanpa kata, ia pun berlalu dari hadapan gadis manis yang begitu disayangnya itu.
***
Malam ini tanpa disengaja gadis tersebut mencerna kembali maksud perkataan sang kaka yang tiada kabar setelah peristiwa siang tadi. “Tak seperti biasanya dia seperti ini”, gumamnya lirih. Dibukanya buku diary kesayangannya. Niat hati ingin menuliskan apa yang dirasakannya. Namun, tanpa sengaja jarinya terhenti pada sebuah catatan peristiwa yang hampir-hampir membuatnya putus asa. Ya, saat dia harus menerima kenyataan, bahwasanya orang yang disayanginya pergi meninggalkannya.
Tanpa disadari matanya telah memanas, dan air matanya pun membasahi pipinya nan putih merona. Pikirannya telah terbang pada kejadian 3 tahun silam. Di mana saat-saat terindah dalam hidupnya, ketika orang yang disayangnya akan melamarnya. Namun, tiga hari sebelum hari yang ditunggu-tunggunya tersebut, laki-laki yang dinantikannya itu pergi tanpa kabar, menginggalkannya.
Hancur berkeping-keping rasanya hatinya. Hampir-hampir dia ingin menempuh jalan singkat tuk mengakhiri hidupnya. Namun, saat itu kedua orang tuanya memohon dengan begitu sejadi-jadinya, agar anak semata wayang itu tidak melakukan hal demikian.
Akhirnya, hari-hari pun dilaluinya dalam derail air mata, keringnya hati, bagai malam yang kian sunyi. Berlalu dan terlewati dalam kurun waktu yang lama.
***
“Taukah kamu dik, hidup itu singkat. Maka, jangan kau siakan hidupmu pada sebuah masalah yang sebenarnya itu tak berarti apa-apa tukmu!”
Perkataan kaka yang ibu hadirkan ia dalam keluarga ini seolah menjadi sebuah titik terang bagi hidup gadis itu. Perlahan-lahan kehidupannya mulai membaik. Bahkan tawa renyahnya kembali meriuhkan sunyinya rumah yang hanya dihuni 3 keluarga kecil ini.
***
Tersenyum kecil ia memandang fotonya bersama kaka yang begitu menyayanginya itu. Waktu seakan menjadikan keduanya benar-benar seperti sosok saudara kandung yang saling mengisi dan melengkapi satu dengan yang lain.
Seakan mulai disadarinya maksud dari perkataan sang kaka tadi. Bukan tidak mengerti, namun ia berupaya menutup pintu rasa itu, setelah luka yang kian menyayatnya di masa lalu. Dia pun menyadari, bahwa dia tak ingin menyakiti serta merusak apa yang telah susah payah dibangunnya bersama sosok teduh sang kaka yang telah menjadi bagian dari keluarganya.
***
Pagi ini pun tak didapatinya pesan ataupun telepon pengganggu dari kakanya itu. “Hemm, apa mungkin dia marah?”, kalimat tanya pun akhirnya mencuat dari bibir gadis tersebut. Tanpa berpikir panjang dituruninya tangga kamarnya menuju ke meja makan, menemui kedua orang tuanya yang telah menantinya tuk makan bersama. Dan sempat terkejut, karena kaka yang memiliki kebiasaan tidak pernah sarapan tersebut, akhirnya turut serta meramaikan sarapan bersama di pagi ini. “Pagi yang cerah!”, bisiknya perlahan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Opening Faza's Blog
Assalamu'alaikum!
Apa Kabarnya Hari ini?
~Ahlan wa sahlan~
Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"
~Allahu Akbar~
