Jumat, 24 Juni 2011

Fenomena Isteri-isteri Zaman Sekarang

Saat ini banyak lelaki yang mengatakan betapa susahnya mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria syariat. Apalagi di kota-kota besar di mana pergaulan anak-anak perempuan begitu bebas. Belum lagi pengaruh budaya impor dari Barat yang masuk melalui telivisi yang kemudian ditiru menjadi gaya hidup. Zaman sekarang, untuk mencari pasangan memang harus hati-hati.

Laki-laki bila ditanya kriteria apa yang diinginkan untuk calon istrinya, yang pertama dijawab pasti wanita yang keibuan. Artinya wanita itu punya sifat lembut, penuh kasih sayang, cinta kepada anak kecil dan punya sifat perhatian.

Nah, kenyataannya pada masa sekarang, telah jarang wanita punya sifat keibuan. Yang jadi fenomena saat ini adalah para wanita muda senang hura-hura, mengidolakan artis-artis sinetron yang jelas-jelas punya prilaku bebas, matre/ materialistis (cinta harta), malas dan boros. Dan yang lebih parah lagi yaitu mereka tidak mengerti agama.

Kepada ALLAH ia jauh, sedang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak kenal. Dengan orang tua tak ada hormatnya, bahkan senang menghujat orang tua temannya (yang maksudnya mungkin baginya hanya saling canda, tetapi karena panduannya sinetron maka candanya itu mengumpat orang tua temannya). Padahal itu termasuk dosa besar. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara dosa besar adalah seorang laki-laki mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ‘Apakah (mungkin) seorang laki-laki mencela orang tuanya? ‘ Beliau menjawab: “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, lalu dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.” (Hadits muttafaq ‘alaih, disepakati shahihnya oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Dan satu lagi fenomena rusaknya wanita muda sekarang, yaitu sangat percaya diri yang sangat kuat dan dihinggapi pula apa yang disebut narsis sehingga mengakibatkan hilangnya rasa tawadhu’, apalagi rasa takut kepada ALLAH, itu hal yang tak mereka fikirkan.

Dikhabarkan, semakin mendekati qiyamat, jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki. Dalam kenyataan, meskipun wanita itu banyak, tetapi laki-laki tetap susah untuk memilih wanita sebagai pendamping hidupnya. Lain hal dengan laki-laki yang asal pilih. Asal senang sama senang sudah jadi. Yang begini tentu saja akan mudah didapat.

Ketika si wanita telah menjadi istri, ia tidak paham bagaimana mendekatkan diri kepada ALLAH SWT. Ia tidak tahu kewajiban untuk beribadah kepada Robb nya, karena selama menjadi remaja, ia hanya hura-hura. Ia pun tidak paham bagaimana bakti kepada suami. Karena selama ramaja panduan pendidikannya adalah artis-artis sinetron, yang diantaranya mengajarkan seorang istri melawan suami, seorang istri tidak tunduk kepada suami, dan digambarkan bagaimana cara menentang suami agar suami takut dengan istri.

Fenomena rusaknya wanita masa kini yang jauh dari kriteria wanita yang keibuan telah merasuki hampir seluruh wanita-wanita muda yang akan menjadi ibu rumah tangga. Padahal untuk memasuki dunia rumah tangga ada kewajiban yang besar yang mau tidak mau harus diikuti yaitu bakti kepada suami.

Hidup adalah untuk ibadah kepada sang pencipta, ALLAH SWT. Salah satu ibadah seorang istri yakni mematuhi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah berbakti kepada suami.

Janganlah diikuti fenomena yang sekarang sedang melanda para wanita.

Ikuti apa yang telah diajarkan agama. Karena biar bagaimanpun wanita dituntut untuk punya sifat keibuan dalam perannya sebagai istri. Wanita dituntut untuk taat kepada ALLAH SWT dan bakti kepada suaminya.

Bila perannya sebagai istri tetapi prilakunya masih mengikuti fenomena yang melanda para wanita muda masa kini, prilakunya mengikuti sinetron-sinetron maka tak akan ada kata tenteram dalam rumah tangganya dan tunggulah saat kehancuran diri dan keluarganya, serta tak akan ada jaminan selamatnya seorang ibu rumah tangga kelak di akhirat. Maka satu-satunya jalan menuju ketenteraman jiwa dan ketenteraman keluarga adalah bakti kepada suami setelah bakti kepada Allah Ta’ala. Ikuti peraturan agama. Selalu belajar sabar untuk menjalani peran sebagai istri dengan sederet kewajiban yang harus ditaati.

Perlu disadari Ridho ALLAH berkaitan pula dengan hubungan isteri terhadap suami. Sebaliknya, kemarahan suami dapat mengakibatkan datangnya laknat bagi isteri. Contohnya adalah apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا بَاتَتْ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdda: “Apabila seorang wanita bermalam sementara ia tidak memenuhi ajakan suaminya di tempat tidur, maka Malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ini menunjukkan haramnya isteri menolak ajakan suami di tempat tidur tanpa halangan syar’i dan tidak karena haidh (ketika haidh pun suami masih punya hak untuk bersenang-senang dengan isteri di luar kain). Hadits ini artinya, laknat akan terus menerus atas isteri sehingga ia tidak lagi maksiat (dengan penolakannya itu) karena telah terbitnya fajar atau dengan bertaubatnya atau kembali ke tempat tidur suaminya.

Sebaliknya, suami juga tidak boleh dhalim kepada isteri. Sehingga lelaki yang terpuji adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap keluarganya yakni terutama kepada isteri.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَإِذَا مَاتَ صَاحِبُكُمْ فَدَعُوهُ

Dari ‘Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik kepada keluarganya, apabila sahabat kalian meninggal, maka biarkanlah (jangan mengungkit-ungkit kejelekannya).” (HR Ad-Darimi).

Ketika isteri berbakti kepada suami, sedang suami adalah orang yang baik kepada isterinya, maka di situlah terjalin rumah tangga yang harmonis dalam ridho Allah, insya Allah. Dan itulah yang disebut keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, keluarga yang tenteram, diliputi cinta dan kasih sayang. Itu semua hanya dapat diperoleh dengan jalan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala yang telah dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam. Oleh karena itu dalam hadits, wanita yang direkomendasikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperisteri adalah yang baik agamanya. Bila tidak, maka celaka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَز أخرجه البخاري، ومسلم ، وأبو داود، والنسائي.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Wanita dinikahi karena empat perkara, yaitu: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamannya. Carilah yang memiliki agama yang baik, maka engkau akan beruntung.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan An-Nasaai).

Sebagaimana agama (Islam) itu hanya untuk kemaslahatan di dunia dan akherat, maka ketika orang memiliki ilmu agama dan mengamalkannya dengan baik, di situlah maslahat yang besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akherat. Demikian pula dalam berumah tangga. Maka rumah tangga yang diharapkan berisi isteri yang berbakti kepada suami dan suami yang baik terhadap isteri dan keluarganya tidak lain hanya ada pada orang-orang yang mengerti agama dan mentaatinya.

Oleh karena itu bagi wanita yang sudah berkeluarga, handaknya tidak henti-hentinya menimba ilmu agama dan mengamalkannya agar mampu berbakti kepada Allah dan juga kepada suami serta bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi amanahnya. Sedangkan wanita yang belum atau tidak bersuami pun demikian pula, karena mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya itu bukan hanya untuk ketika adanya suami. Berbakti kepada Allah itu wajib, kewajiban nomor satu, dan itu wajib pula dilandasi dengan ilmu. Maka bagaimanapun, mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya itu tetap dituntut dalam hidup ini.

Dan berbahagialah para wanita yang mampu menjalankan ini. Sehingga mampu berbakti kepada Allah, masih pula berbakti kepada suami.

Seberapa kadar berbakti kepada suami itupun perlu dipelajari dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menegaskan:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ ».

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan para wanita agar bersujud kepada suami-suami mereka, karena hak yang telah Allah berikan atas mereka.” (HR Abu Daud, dishahikan Al-Albani dalam Shahih Abi Daud nomor 1873).

Itulah petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila isteri mematuhi agamanya (Islam) dan taat kepada suaminya (mengenai hal-hal yang tidak dilarang Allah dan Rasul-Nya) maka diberi khabar gembira sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ (ابن حبان عن أبى هريرة . أحمد عن عبد الرحمن بن عوف . البزار عن أنس)

Dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Bazzar, menurut Al-Albani hasan lighairih).

Khabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu hendaknya diperhatikan dan ditaati oleh setiap wanita Muslimah, agar berbahagia di dalam berumah tangga atau hidup di dunia ini, dan juga bahagia di akherat kelak.

(Dari buku Lifestyle Wanita Muslimah, Meluruskan Gaya Hidup Semu, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Juni 2011).
Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masa’ nggak boleh ikutan baca? Hehe... tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel ini kalo perlu en kamu baik hati suka menolong en rajin menabung, print artikel ini terus bagikan keteman-temanmu.. Asyik kan?



Setelah putus pacaran

Masa pacaran, siapa sich yang gak panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sich, saya yakin kamu udah pada insyaf kalo pacaran tuch cuma ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syari’at.

Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insyaf. Kamu yang gak mau lagi mempunyai ikatan yang gak sah. Kamu yang udah nyadar en gak pingin mengulangi lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu. Hadehh… gaswatt.

Tiba-tiba aja gak sengaja ketemu di angkot. Atau tempat les bahasa Inggris atau di jalan. Atau bisa juga karena kamu lagi beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duhh… gimana menyikapi rasa ini?

Padahal kamu tau bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana donk?



Ketika si dia hadir kembali

Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah dihatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehemm…

Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, gak terlihat. Karena gak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas. Catet ye!

Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib en yang nyata? Ya, meski tak ada satupun teman yang memergoi, tapi kamu pantas malu donk sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski gak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh… sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.

Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK (Putus Hubungan Kekasih) dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu gak mau jadi temannya syaitan, maka kamu pun gak mau lagi pacaran. Cuma yang kamu agak sedikit gak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.

Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktifis pacaran, biasanya rentan banget untuk di ajak balik oleh sang mantan. Memang sih gak semua, cuma jaga-jaga aja kalo kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!



Hati-hati musang berbulu domba

Jangan terjebak dengan bujuk rayu di dunia. Entah sang mantan ngajak balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dalam bingkai Islam. Mulutnya manis ngajak ta’aruf tapi aktifitasnya gak beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga donk), mau aja ia nginap berhari-hari dirumah si ikhwan tanpa hajat alias keperluan syar’i yang jelas, misalnya.

Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh tuh nginap dirumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat rekreasi. Duh duh… dimana pemahaman kamu tentang hukum syara’ selama ini? Perlu banget neh ikutan pembahasan topik pergaulan dalam Islam. Biar kamu paham, seperti apa sih yang diperbolehkan?

Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So, biar kamu gak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri en pergaulan. Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu bila akan salah langkah.

Kalo sudah sampe tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu sulit dihapus dari hati?

Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari kurang dekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balikkan hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan banyak melamun.

Kedua, ganti ‘kacamata’ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang begitu perfect dimatamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.

Jadi bisa aja kamu begitu dengan bedarah-darah saat memutuskannya. Hehehee… biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya masih sayang sama dia dan gak ingin berpisah darinya. Tapi kesadaranmu terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktifitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.

Ketiga, bisa jadi kamu ternyata gak begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.

Itu artinya, kamu belum benar-bener putus en mengikhlaskan dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang en ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ni malah asyik berlumur maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.



Iman adakalanya bertambah en berkurang. Ketika imanmu sedang tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah en ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang en ingin kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat pada aturan Islam, iman berkurang tentu jika maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pilih mana ayoo? Orang cerdas, pilih syari’atNya donk ya. Betul nda??



Yakinlah pada TakdirNya

Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syari’atNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu gak bisa donk ngaku-ngaku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So… ati-ati deh.

Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan menerima khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan untuk tidak mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang kualitas si ikhwan. Sumpah!

Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia mendongak en jatuh pingsan. Apakah suaminya berwajah seperti beast hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri dalam lubuk hatinya. Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan sang kekasih dengan dirinya lagi. Duh… udah jangan terharu gitu… cengeng amat.

Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang en menikahiku. Waduhh, kalo gitu caranya, kamu taat syari’at tapi dengan pamrih tuh. Namanya gak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal gak bakal diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.

Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih akhwat cakep banget en di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan baik en benar, pacar-pacarnya selalu cakep en kaya. Setelah ngaji, ia pun mem-PHK pacarnya en tidak mau lagi berhubungan dengan mereka.

Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya. Kok bisa ya…? Sangat bisa donk… karena kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik en harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka Insya Allah akan barokah dunia akhirat. En yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan kualitas dirimu kedepan.



“Aku baik-baik saja”

Yakinkan dirimu dengan prnsip: “aku akan baik-baik saja” (meski tanpa doi). Jangan terlalu memanjakan perasaaan. Kenangan itu hadir kalo kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu gak mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. tapi, itu bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan meninggalkan masa lalu yang berlumur dosa akibat menjadi aktifis pacaran.

Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzamkan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap en kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah berjilbab, berkerudung, en anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga, jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.

Pancangkan tekad kuat bahwa kamu gak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin pacaran. Kamu gak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal sejatinya adalah maksiat. Dan supaya gak terjatuh ke lubang yang sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pengin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.

Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik en perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya (silahkan buka al-Qur’an surat an-Nuur ayat 26). Kamu gak usah resah en gelisah masalah jodoh. Jangan berpikiran kalo nda pacaran maka nda dapat suami. Toh hidup kita bukan cuma ngurusi masalah ini kan? Selama kamu maksimal berikhtiar dengan jalan yang baik en benar, jodoh yang datang nanti juga gak jauh dari kualitasmu. Yakin bang-nget deh..!!



http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/setelah-putus-pacaran.html

Setelah putus pacaran

Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masa’ nggak boleh ikutan baca? Hehe... tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel ini kalo perlu en kamu baik hati suka menolong en rajin menabung, print artikel ini terus bagikan keteman-temanmu.. Asyik kan?



Setelah putus pacaran

Masa pacaran, siapa sich yang gak panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sich, saya yakin kamu udah pada insyaf kalo pacaran tuch cuma ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syari’at.

Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insyaf. Kamu yang gak mau lagi mempunyai ikatan yang gak sah. Kamu yang udah nyadar en gak pingin mengulangi lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu. Hadehh… gaswatt.

Tiba-tiba aja gak sengaja ketemu di angkot. Atau tempat les bahasa Inggris atau di jalan. Atau bisa juga karena kamu lagi beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duhh… gimana menyikapi rasa ini?

Padahal kamu tau bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana donk?



Ketika si dia hadir kembali

Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah dihatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehemm…

Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, gak terlihat. Karena gak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas. Catet ye!

Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib en yang nyata? Ya, meski tak ada satupun teman yang memergoi, tapi kamu pantas malu donk sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski gak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh… sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.

Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK (Putus Hubungan Kekasih) dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu gak mau jadi temannya syaitan, maka kamu pun gak mau lagi pacaran. Cuma yang kamu agak sedikit gak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.

Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktifis pacaran, biasanya rentan banget untuk di ajak balik oleh sang mantan. Memang sih gak semua, cuma jaga-jaga aja kalo kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!



Hati-hati musang berbulu domba

Jangan terjebak dengan bujuk rayu di dunia. Entah sang mantan ngajak balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dalam bingkai Islam. Mulutnya manis ngajak ta’aruf tapi aktifitasnya gak beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga donk), mau aja ia nginap berhari-hari dirumah si ikhwan tanpa hajat alias keperluan syar’i yang jelas, misalnya.

Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh tuh nginap dirumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat rekreasi. Duh duh… dimana pemahaman kamu tentang hukum syara’ selama ini? Perlu banget neh ikutan pembahasan topik pergaulan dalam Islam. Biar kamu paham, seperti apa sih yang diperbolehkan?

Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So, biar kamu gak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri en pergaulan. Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu bila akan salah langkah.

Kalo sudah sampe tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu sulit dihapus dari hati?

Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari kurang dekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balikkan hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan banyak melamun.

Kedua, ganti ‘kacamata’ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang begitu perfect dimatamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.

Jadi bisa aja kamu begitu dengan bedarah-darah saat memutuskannya. Hehehee… biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya masih sayang sama dia dan gak ingin berpisah darinya. Tapi kesadaranmu terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktifitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.

Ketiga, bisa jadi kamu ternyata gak begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.

Itu artinya, kamu belum benar-bener putus en mengikhlaskan dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang en ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ni malah asyik berlumur maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.



Iman adakalanya bertambah en berkurang. Ketika imanmu sedang tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah en ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang en ingin kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat pada aturan Islam, iman berkurang tentu jika maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pilih mana ayoo? Orang cerdas, pilih syari’atNya donk ya. Betul nda??



Yakinlah pada TakdirNya

Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syari’atNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu gak bisa donk ngaku-ngaku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So… ati-ati deh.

Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan menerima khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan untuk tidak mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang kualitas si ikhwan. Sumpah!

Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia mendongak en jatuh pingsan. Apakah suaminya berwajah seperti beast hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri dalam lubuk hatinya. Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan sang kekasih dengan dirinya lagi. Duh… udah jangan terharu gitu… cengeng amat.

Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang en menikahiku. Waduhh, kalo gitu caranya, kamu taat syari’at tapi dengan pamrih tuh. Namanya gak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal gak bakal diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.

Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih akhwat cakep banget en di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan baik en benar, pacar-pacarnya selalu cakep en kaya. Setelah ngaji, ia pun mem-PHK pacarnya en tidak mau lagi berhubungan dengan mereka.

Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya. Kok bisa ya…? Sangat bisa donk… karena kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik en harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka Insya Allah akan barokah dunia akhirat. En yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan kualitas dirimu kedepan.



“Aku baik-baik saja”

Yakinkan dirimu dengan prnsip: “aku akan baik-baik saja” (meski tanpa doi). Jangan terlalu memanjakan perasaaan. Kenangan itu hadir kalo kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu gak mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. tapi, itu bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan meninggalkan masa lalu yang berlumur dosa akibat menjadi aktifis pacaran.

Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzamkan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap en kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah berjilbab, berkerudung, en anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga, jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.

Pancangkan tekad kuat bahwa kamu gak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin pacaran. Kamu gak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal sejatinya adalah maksiat. Dan supaya gak terjatuh ke lubang yang sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pengin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.

Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik en perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya (silahkan buka al-Qur’an surat an-Nuur ayat 26). Kamu gak usah resah en gelisah masalah jodoh. Jangan berpikiran kalo nda pacaran maka nda dapat suami. Toh hidup kita bukan cuma ngurusi masalah ini kan? Selama kamu maksimal berikhtiar dengan jalan yang baik en benar, jodoh yang datang nanti juga gak jauh dari kualitasmu. Yakin bang-nget deh..!!



http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/setelah-putus-pacaran.html
Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masa’ nggak boleh ikutan baca? Hehe... tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel ini kalo perlu en kamu baik hati suka menolong en rajin menabung, print artikel ini terus bagikan keteman-temanmu.. Asyik kan?



Setelah putus pacaran

Masa pacaran, siapa sich yang gak panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sich, saya yakin kamu udah pada insyaf kalo pacaran tuch cuma ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syari’at.

Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insyaf. Kamu yang gak mau lagi mempunyai ikatan yang gak sah. Kamu yang udah nyadar en gak pingin mengulangi lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu. Hadehh… gaswatt.

Tiba-tiba aja gak sengaja ketemu di angkot. Atau tempat les bahasa Inggris atau di jalan. Atau bisa juga karena kamu lagi beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duhh… gimana menyikapi rasa ini?

Padahal kamu tau bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana donk?



Ketika si dia hadir kembali

Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah dihatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehemm…

Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, gak terlihat. Karena gak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas. Catet ye!

Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib en yang nyata? Ya, meski tak ada satupun teman yang memergoi, tapi kamu pantas malu donk sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski gak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh… sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.

Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK (Putus Hubungan Kekasih) dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu gak mau jadi temannya syaitan, maka kamu pun gak mau lagi pacaran. Cuma yang kamu agak sedikit gak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.

Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktifis pacaran, biasanya rentan banget untuk di ajak balik oleh sang mantan. Memang sih gak semua, cuma jaga-jaga aja kalo kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!



Hati-hati musang berbulu domba

Jangan terjebak dengan bujuk rayu di dunia. Entah sang mantan ngajak balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dalam bingkai Islam. Mulutnya manis ngajak ta’aruf tapi aktifitasnya gak beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga donk), mau aja ia nginap berhari-hari dirumah si ikhwan tanpa hajat alias keperluan syar’i yang jelas, misalnya.

Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh tuh nginap dirumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat rekreasi. Duh duh… dimana pemahaman kamu tentang hukum syara’ selama ini? Perlu banget neh ikutan pembahasan topik pergaulan dalam Islam. Biar kamu paham, seperti apa sih yang diperbolehkan?

Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So, biar kamu gak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri en pergaulan. Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu bila akan salah langkah.

Kalo sudah sampe tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu sulit dihapus dari hati?

Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari kurang dekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balikkan hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan banyak melamun.

Kedua, ganti ‘kacamata’ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang begitu perfect dimatamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.

Jadi bisa aja kamu begitu dengan bedarah-darah saat memutuskannya. Hehehee… biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya masih sayang sama dia dan gak ingin berpisah darinya. Tapi kesadaranmu terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktifitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.

Ketiga, bisa jadi kamu ternyata gak begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.

Itu artinya, kamu belum benar-bener putus en mengikhlaskan dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang en ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ni malah asyik berlumur maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.



Iman adakalanya bertambah en berkurang. Ketika imanmu sedang tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah en ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang en ingin kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat pada aturan Islam, iman berkurang tentu jika maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pilih mana ayoo? Orang cerdas, pilih syari’atNya donk ya. Betul nda??



Yakinlah pada TakdirNya

Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syari’atNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu gak bisa donk ngaku-ngaku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So… ati-ati deh.

Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan menerima khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan untuk tidak mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang kualitas si ikhwan. Sumpah!

Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia mendongak en jatuh pingsan. Apakah suaminya berwajah seperti beast hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri dalam lubuk hatinya. Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan sang kekasih dengan dirinya lagi. Duh… udah jangan terharu gitu… cengeng amat.

Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang en menikahiku. Waduhh, kalo gitu caranya, kamu taat syari’at tapi dengan pamrih tuh. Namanya gak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal gak bakal diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.

Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih akhwat cakep banget en di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan baik en benar, pacar-pacarnya selalu cakep en kaya. Setelah ngaji, ia pun mem-PHK pacarnya en tidak mau lagi berhubungan dengan mereka.

Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya. Kok bisa ya…? Sangat bisa donk… karena kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik en harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka Insya Allah akan barokah dunia akhirat. En yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan kualitas dirimu kedepan.



“Aku baik-baik saja”

Yakinkan dirimu dengan prnsip: “aku akan baik-baik saja” (meski tanpa doi). Jangan terlalu memanjakan perasaaan. Kenangan itu hadir kalo kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu gak mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. tapi, itu bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan meninggalkan masa lalu yang berlumur dosa akibat menjadi aktifis pacaran.

Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzamkan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap en kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah berjilbab, berkerudung, en anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga, jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.

Pancangkan tekad kuat bahwa kamu gak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin pacaran. Kamu gak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal sejatinya adalah maksiat. Dan supaya gak terjatuh ke lubang yang sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pengin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.

Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik en perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya (silahkan buka al-Qur’an surat an-Nuur ayat 26). Kamu gak usah resah en gelisah masalah jodoh. Jangan berpikiran kalo nda pacaran maka nda dapat suami. Toh hidup kita bukan cuma ngurusi masalah ini kan? Selama kamu maksimal berikhtiar dengan jalan yang baik en benar, jodoh yang datang nanti juga gak jauh dari kualitasmu. Yakin bang-nget deh..!!



http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/setelah-putus-pacaran.html

Selasa, 31 Mei 2011

"Kesuksesan Itu Amat Dekat"

Pagi ini teman saya kehilangan kunci kesayangannya. Dia mencari kunci kesayangannya itu di depan rumahnya yang terang oleh sinar lampu. Tiba-tiba seorang lelaki datang membantunya dengan terlebih dahulu bertanya, “Anda sedang mencari apa?” Dijawabnya, “Saya mencari kunci” kemudian mereka pun mencari bersama-sama.
Setelah hampir satu jam mereka mencari, namun tidak menemukan kunci itu. Lantas lelaki yang membantunya bertanya, ”Anda kehilangan kunci dimana?” Dengan enteng teman saya menjawab, ”Hilangnya di dalam rumah, tetapi karena di rumah gelap jadi saya mencarinya di tempat ini.” Gubrak!!!
Sobat, banyak orang mencari kunci kesuksesan di luar dirinya. Padahal kunci kesuksesan sangatlah dekat yaitu ada pada pikiran dan hatinya. Seperti halnya tubuh manusia, bila Anda ingin sehat maka Anda perlu memberi asupan makanan yang bergizi dan menyehatkan ke dalam tubuh Anda. Begitupun bila Anda ingin sukses maka pikiran dan hati andapun harus memperolah asupan yang bergizi dan menyehatkan.
Asupan itu bisa berupa belajar, membaca buku, mendengarkan CD yang bermutu, Anda bertemu dengan orang-orang yang positif, melalui jejaring sosial, follow orang-orang yang positif di twitter, itu semua adalah makanan yang membuat pikiran dan hati Anda sehat. Bila secara rutin Anda selalu memberi asupan yang benar dan tepat ke dalam pikiran dan hati Anda maka sebenarnya Anda sudah memperoleh kunci sukses hidup Anda.
Mulai hari ini, Anda tak perlu silau dengan kesuksesan yang telah diperoleh orang lain. Andapun tak perlu jauh-jauh mencari kunci kesuksesan di luar diri Anda. Selalu sempurnakan dan perbaikilah pikiran dan hati Anda dengan sesuatu yang positif, maka kunci sukses sudah ada di tangan Anda.

"Kesuksesan Itu Amat Dekat"

Pagi ini teman saya kehilangan kunci kesayangannya. Dia mencari kunci kesayangannya itu di depan rumahnya yang terang oleh sinar lampu. Tiba-tiba seorang lelaki datang membantunya dengan terlebih dahulu bertanya, “Anda sedang mencari apa?” Dijawabnya, “Saya mencari kunci” kemudian mereka pun mencari bersama-sama.
Setelah hampir satu jam mereka mencari, namun tidak menemukan kunci itu. Lantas lelaki yang membantunya bertanya, ”Anda kehilangan kunci dimana?” Dengan enteng teman saya menjawab, ”Hilangnya di dalam rumah, tetapi karena di rumah gelap jadi saya mencarinya di tempat ini.” Gubrak!!!
Sobat, banyak orang mencari kunci kesuksesan di luar dirinya. Padahal kunci kesuksesan sangatlah dekat yaitu ada pada pikiran dan hatinya. Seperti halnya tubuh manusia, bila Anda ingin sehat maka Anda perlu memberi asupan makanan yang bergizi dan menyehatkan ke dalam tubuh Anda. Begitupun bila Anda ingin sukses maka pikiran dan hati andapun harus memperolah asupan yang bergizi dan menyehatkan.
Asupan itu bisa berupa belajar, membaca buku, mendengarkan CD yang bermutu, Anda bertemu dengan orang-orang yang positif, melalui jejaring sosial, follow orang-orang yang positif di twitter, itu semua adalah makanan yang membuat pikiran dan hati Anda sehat. Bila secara rutin Anda selalu memberi asupan yang benar dan tepat ke dalam pikiran dan hati Anda maka sebenarnya Anda sudah memperoleh kunci sukses hidup Anda.
Mulai hari ini, Anda tak perlu silau dengan kesuksesan yang telah diperoleh orang lain. Andapun tak perlu jauh-jauh mencari kunci kesuksesan di luar diri Anda. Selalu sempurnakan dan perbaikilah pikiran dan hati Anda dengan sesuatu yang positif, maka kunci sukses sudah ada di tangan Anda.

“Teruntuk Para Pengemban Dakwah”

Dengan air mata yang tiada habisnya ku seka. Ku goreskan bait demi bait kata ini. Menggoreskan apa yang ku rasa, ku dengar, ku lihat dan sedang ku hadapi.
Bukan karena berputus asa ataupun menyerah dari aksiku di luar sana, akan tetapi melalui tulisan ini, ku ingin mengintropeksi diri serta ku harap ini pun dapat menjadi inspirasi bagi para pengemban dakwah lain. Di mana melalui lisannya senantiasa tiada terhenti lafadz dzikir untukNya, yang tiada kan pernah ada kebohongan atas lafadz cinta padaNya dan RasulNya, yang tiada kan terhenti derap langkah dan rongrongan atas kedzoliman yang ada, menghempaskan segala ketimpangan tatanan yang ada, tuk mengembalikannya kepada yang hakiki, hingga nafas dan jantung terhenti dari aktivitas sujud padaNya.
Senantiasa segala aktivitas tercurah semata-mata hanya untukNya, agar lebih baik dan semakin baik dalam peribadahan yang tiada kan pernah diterka, hingga batas akhir kapankah peribadahan ini kan berakhir?
Teruntuk para pengemban dakwah, yang senantiasa dengan lantangnya dalam menyeru kepada yang ma’ruf dan tiada mengenal kompromi terhadap kebathilan. Hingga detik ini darah-darahnya senatiasa dialiri akan perjuangan penerapan Syariah dan Khilafah, ku persembahkan tulisan ini untuk kalian.
***
Banyak yang berkata, sulit untuk menjadi seorang pengemban dakwah. Lantas, apakah berarti kita mundur dari kewajiban yang tiada kan pernah berubah sedetik pun walau kita berlari ataupun menghindar?
Adakalanya orang berkata, pengemban dakwah itu harus perfect, bahkan apabila diibaratkan, ia seperti malaikat. Hingga, sekecil apapun kesalahan, seolah itu adalah duri berbisa dalam hidup dan perjalanan dakwah mereka. Lantas, bagaimana dengan mereka yang hidupnya hanya dipenuhi dengan aktivitas sia-sia atau penuh dengan aktivitas maksiat?
Padahal, tiada dapat dipungkiri, pengemban dakwah pun adalah sosok manusia biasa yang sedang berusaha untuk menjadi lebih baik dan semakin baik dari hari ke harinya. Karena seperti yang dikatakan Rasulullah, orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan orang yang hari esok lebih buruk dari hari ini, maka ia adalah orang yang celaka.
Betapa sia-sianya hidup, saat kedzoliman demi kedzoliman itu ada di depan mata, justru kita dengan acuhnya, tiada ingin tau atau secara sadar atau tidak sadar menjadi pendukung atas kedzoliman yang ada. Maka, berhati-hatilah kawan, apabila suatu masa nanti, Allah pun tiada menghiraukan kalian tatkala di padang Mahsyar nanti!
***
Taukah kalian kawan? Bahwasanya kehidupan seorang pengemban dakwah itu sangat sederhana. Hingga-hingga bukannya tak ingin harta, namun cukuplah bagiNya Allah dan Ilmu islam itu sendiri yang menjadi harta dalam hidupnya.
Dan taukah kalian saudaraku? Bahwasanya penyatuan dua hati bagi pengemban dakwah bukanlah sebuah momen mengukir berbagai keindahan bersama. Melainkan, penyatuan satu visi yang akan diwujudkan bersama, melalui berbagai ujian bersama, dan menerima segala resiko atas kesepakatan yang telah diputuskan bersama.
Berharap waktu yang banyak pada seorang pengemban dakwah, seperti berharap tangan kita dapat menyentuh langit. Akan tetapi, berharap dapat memaksimalkan waktu dan saling memahami dan membantu serta mendukung dalam segala aktivitas dakwah, itulah sejatinya kebersamaan.
Semoga, Allah meluruskan niat yang hampir-hampir saja bengkok. Dan menyatukan satu perjuangan dalam sebuah keistiqomahan, hingga syiar-syiar syariah dan khilafah kian membahana dalam kebersamaan ini.
Tetap yakinlah, dan senantiasa gigihlah. Segerakanlah apa-apa yang memang menjadi kewajiban kita padaNya dan laksanakanlah pula sunnah-sunnah RasulNya. Serta jangan sekali-kali berani kalian sentuh perkara yang makruh, apalagi yang haram.
Murnikanlah niat dan kesungguh-sungguhan kalian semata-mata karenaNya dan untukNya.

Di tengah begitu cepatnya arus lalu lintas jalanan,
Mengejar target waktu hingga mencapai tujuan,
Melalui proses perenungan dan taffakur atas segala nikmat yg diberikanNya.

_Mecha_
At 12:23

Opening Faza's Blog

Assalamu'alaikum!
~Ahlan wa sahlan~

Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"

~Allahu Akbar~