Bayang kelam yang senantiasa menyelimuti Hariku,
Tanpa sinar, cahaya dan warna yang indah,
Yang dahulu kian mengiringi langkahku…
Mungkin hanya sang putri keong yang merasakan semua kekosongan ini,
Tanpa sebuah tepukan semangat lagi dari sang pangeran kodok…
Tak ingin mendurhakai ketetapan dan JanjiNya,
Namun, semua tak semudah membalikkan telapak tangan,
Kala menarik diri dari kenyataan ini,
Bak keluar dari tusukan duri-duri yang menusuk kulit,
Hingga daging-daging kulit pun terkoyak olehnya…
Hidup memanglah sebuah pilihan,
Tatkala pilihan itu dapat dengan tepat dipilih,
Namun, saat pilihan itu dihadapkan pada naluri,
Dimanakah tempat pilihan itu?
Saat naluri dihadapkan pula pada kondisi yang memojokkan,
Berkorban…
Itulah kunci dari akhir semua ini,
Pergi, menjauh, dan meninggalkan,
Demi seutas kebahagiaan yang sejati…
Kendati merelakan sebuah mimpi,
Mimpi yang terbentangi dinding-dinding kokoh nan membatu,
Dimana hanya ada dua peluang,
Dapat ditembus ataukah senantiasa kokoh…???
Maaf tuk asa yang sempat singgah,
Singgah dalam waktu yang singkat,
Namun, mematrikan banyak kesejukkan,
Memberikan semangat baru, yang sekarang redup kembali…
Mungkin pilihan inilah yang terbaik dibandingkan pilihan-pilihan yang lain,
Melepaskan dengan ikhlas dan penuh keyakinan,
Bahwa sesuatu yang baik, pasti akan menemukan yang baik pula,
Dan di kala sesuatu yang berbeda yang diterima,
Itu pulalah yang terbaik, terbaik dariNya…
Sang Pencipta kita yang hakiki,
Yang mengetahui apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan…
Biarlah bulir-bulir air mata nan halus ini,
Menjadi saksi bisu penantianku,
Dan menjadi penghapus harap pada suatu yang belum halal,
Hingga bulir-bulir ini menemukan tepian yang sehakikinya tuk bersinggah,
Tetaplah bercahaya BintangQ…
Allah senantiasa Bersama Kita…
Banjarmasin, 29 Oktober 2010
20% pertahananKu.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Last Message
jangan biarkan air matamu mengalir karena kesedihan penantian, jangan biarkan semuanya mengganggu hidupmu, dan ane ga pengen denger lagi ente sedih........
“MentariKu”
Kalau Memang Mentari Kan senantiasa Bersinar,
Tanpa bantuan Bulan dan Bintang,
Bersinarlah…
Namun, sadarilah…
Bahwa Mentari takkan mampu bersinar sendiri,
Karena ketika malam hari,
Pastinya kan gelap gulita,
Maka, terimalah bulan dan bintang sebagai sobatmu,
Karena mereka kan menemani dan menggantikanmu,
Kala kau ingin beristirahat sejenak…
Begitu pun dengan MentariKu,
Mungkin Kau mampu tuk senantiasa bercahaya,
Namun, sadarilah…
Suatu saat kau kan merasakan,
Bahwa kau pasti kan membutuhkan bintang dan bulan,
Tuk mengiringi perjalanan cahayamu…
Maka, belajarlah tuk menjadi yg Terbaik..
Dengan menerima orang lain sebagai bagian perjalanan hidupmu…
Karena Kau tak hidup sendiri…^^
For MentariKu…My Brother…
Nan jauh di sana…
Miss u…
Tanpa bantuan Bulan dan Bintang,
Bersinarlah…
Namun, sadarilah…
Bahwa Mentari takkan mampu bersinar sendiri,
Karena ketika malam hari,
Pastinya kan gelap gulita,
Maka, terimalah bulan dan bintang sebagai sobatmu,
Karena mereka kan menemani dan menggantikanmu,
Kala kau ingin beristirahat sejenak…
Begitu pun dengan MentariKu,
Mungkin Kau mampu tuk senantiasa bercahaya,
Namun, sadarilah…
Suatu saat kau kan merasakan,
Bahwa kau pasti kan membutuhkan bintang dan bulan,
Tuk mengiringi perjalanan cahayamu…
Maka, belajarlah tuk menjadi yg Terbaik..
Dengan menerima orang lain sebagai bagian perjalanan hidupmu…
Karena Kau tak hidup sendiri…^^
For MentariKu…My Brother…
Nan jauh di sana…
Miss u…
Kamis, 28 Oktober 2010
Kebenaran itu Pahit, namun harus disampaikan!
Setiap orang itu pastinya merasakan bukan, bagaimana ketika menyampaikan sebuah kebohongan? Kendati sedikit banyak merasakan ketenangan, namun pada akhirnya kegelisahan kan menyertainya.
Kendatipun banyak yang merasakan hal itu, namun banyak pula yang merasakan kenyamanan dengan kebohongan itu. Misalkan saja, bagaimana keadaan diri yang kadang menutup diri dari perintah-perintahNya yang sejatinya kita mengetahuinya. Berusaha menghalalkan hukum-hukumnya dengan legalitas keinginannya. Membuat sesuatu yang tak diperbolehkanNya menjadi berlabelkan halal –dalam artian muncul embel-embel syariah tuk penghalalannya- walaupun pada akhirnya berkesan memaksakan.
Lain kondisinya dengan orang-orang yang menjadikan kebenaran sebagai pondasi aktivitasnya. Begitu banyak ujian yang dihadapi oleh orang-orang yang mengemban visi ini. Mulai dari dicemooh, dijauhi, diasingkan bahkan harus rela melepaskan segala hal yang berharga dalam hidupnya –termasuk orang-orang yang disayangi- ketika itu bertentangan dengan kebenaran.
Dalam hidup orang-orang yang mengemban visi ini senantiasa tertancap tujuan yang jelas, yaitu suatu Tahta Kemuliaan di hadapanNya. Hingga, ketika kebenaran itu tak tersampaikan, ataupun dia lari dari kebenaran itu, dia akan merasa dia adalah orang yang paling sia-sia.
***
Pada hakikatnya, kebenaran itu adalah suatu hal yang diharapkan semua orang. Karena sejatinya manusia tak ingin dibohongi ataupun dikhianati. Namun, fenomena orang-orang yang mau tuk melaksanakan amanah ini sangatlah sedikit. Karena, kadang kebenaran itu akan menjadi mata pisau yang akan mencincang dirinya sendiri, ketika dia melaksanakannya dengan setengah hati atau bahkan dapat saja menjadi boomerang dalam kehidupan seseorang ketika dia melaksanakan kebenaran karena suatu manfaat saja.
Sobat, Terimalah kebenaran itu dan sampaikanlah kebenaran itu, kendatipun itu pahit dan menyakitkan. Karena, ketika kebenaran itu ditutupi dengan kebohongan, kan didapati segala sesuatu yang tak baik kan menimpa kita semua. Karena sejatinya tujuan manusia diciptakan olehNya adalah untuk menyampaikan kebenaran dan nasihat-nasihat yang penuh dengan hikmah sebagai bentuk Idrok silabillah di jalanNya. KeridhoanNya lah yang kita harapkan, bukan eksistensi dunia yang semu.
***
Banyak Surah dan hadits yang mengharuskan kita tuk menyampaikan kebenaran. Dan ketika kebenaran itu disampaikan dengan tingkat risiko yang tidak kecil, maka kita telah mengaplikasikan secara nyata keimanan kita dalam hidup kita.
Senantiasa hiasi hidup dengan kebenaran dan kejujuran. Jangan kau jadikan hidupmu sia-sia hanya karena menukar visi hidup yang mulia dengan gemerlap kesenangan dunia yang semu.
Salam Kebenaran tuk Kejayaan Islam
By: Mecha
Kendatipun banyak yang merasakan hal itu, namun banyak pula yang merasakan kenyamanan dengan kebohongan itu. Misalkan saja, bagaimana keadaan diri yang kadang menutup diri dari perintah-perintahNya yang sejatinya kita mengetahuinya. Berusaha menghalalkan hukum-hukumnya dengan legalitas keinginannya. Membuat sesuatu yang tak diperbolehkanNya menjadi berlabelkan halal –dalam artian muncul embel-embel syariah tuk penghalalannya- walaupun pada akhirnya berkesan memaksakan.
Lain kondisinya dengan orang-orang yang menjadikan kebenaran sebagai pondasi aktivitasnya. Begitu banyak ujian yang dihadapi oleh orang-orang yang mengemban visi ini. Mulai dari dicemooh, dijauhi, diasingkan bahkan harus rela melepaskan segala hal yang berharga dalam hidupnya –termasuk orang-orang yang disayangi- ketika itu bertentangan dengan kebenaran.
Dalam hidup orang-orang yang mengemban visi ini senantiasa tertancap tujuan yang jelas, yaitu suatu Tahta Kemuliaan di hadapanNya. Hingga, ketika kebenaran itu tak tersampaikan, ataupun dia lari dari kebenaran itu, dia akan merasa dia adalah orang yang paling sia-sia.
***
Pada hakikatnya, kebenaran itu adalah suatu hal yang diharapkan semua orang. Karena sejatinya manusia tak ingin dibohongi ataupun dikhianati. Namun, fenomena orang-orang yang mau tuk melaksanakan amanah ini sangatlah sedikit. Karena, kadang kebenaran itu akan menjadi mata pisau yang akan mencincang dirinya sendiri, ketika dia melaksanakannya dengan setengah hati atau bahkan dapat saja menjadi boomerang dalam kehidupan seseorang ketika dia melaksanakan kebenaran karena suatu manfaat saja.
Sobat, Terimalah kebenaran itu dan sampaikanlah kebenaran itu, kendatipun itu pahit dan menyakitkan. Karena, ketika kebenaran itu ditutupi dengan kebohongan, kan didapati segala sesuatu yang tak baik kan menimpa kita semua. Karena sejatinya tujuan manusia diciptakan olehNya adalah untuk menyampaikan kebenaran dan nasihat-nasihat yang penuh dengan hikmah sebagai bentuk Idrok silabillah di jalanNya. KeridhoanNya lah yang kita harapkan, bukan eksistensi dunia yang semu.
***
Banyak Surah dan hadits yang mengharuskan kita tuk menyampaikan kebenaran. Dan ketika kebenaran itu disampaikan dengan tingkat risiko yang tidak kecil, maka kita telah mengaplikasikan secara nyata keimanan kita dalam hidup kita.
Senantiasa hiasi hidup dengan kebenaran dan kejujuran. Jangan kau jadikan hidupmu sia-sia hanya karena menukar visi hidup yang mulia dengan gemerlap kesenangan dunia yang semu.
Salam Kebenaran tuk Kejayaan Islam
By: Mecha
PEMUDA KINI DAN NANTI
Dengan berat hati harus diakui, kemerosotan masyarakat saat ini paling kentara ditandai dengan kemerosotan mentalitas pemuda-pemudinya. Kita bisa lihat pelaku seks bebas adalah pemuda, pemadat adalah pemuda, pelaku tawuran adalah pemuda, suporter-suporter anarkis adalah pemuda, dan kebanyakan gelandangan adalah pemuda. Simpelnya, hancurnya masyarakat kita digawangi oleh kehancuran para pemudanya. Kebanyakan Pemuda saat ini sudah kehilangan segala-galanya; baik Identitas, Kapasitas, Integritas, maupun Kapabilitas. Alih-alih menjadi Bagian dari solusi malah ternyata menjadi bagian dari masalah!.
Bicara pemuda tentu tidak terlepas dari bicara tentang mahasiswa. Harus diakui bahwa mahasiswa berada pada puncak piramida kepemudaan. Hal ini wajar mengingat mahasiswa memiliki intelektualitas diatas rata-rata.
Melihat kondisi kemahasiswaan saat ini, mungkin tidak ada istilah yang paling relevan kecuali istiah “Mati Suri”. Sekarang ini, sangat jarang sekali ada mahasiswa yang kritis, serta memiliki kepekaan terhadap konstelasi politik, sosial dan ekonomi. Yang ada adalah mahasiwa yang opportunis, materialistis, dan hedonis.
Sebenarnya ada segelintir kalangan yang masih memiliki semangat pergerakan. Mereka ini yang disebut sebagai aktivis. Namun, sekali lagi kita harus mengurut dada melihat tingkah pola gerakan mahasiswa saat ini yang sudah bergeser jauh menjadi gerakan yang opportunis bahkan anarkis. Aktivis mahasiswa lebih suka duduk manis dalam acara talk show dan dagelan politik di Televisi, daripada melakukan diskusi dalam rangka mencari solusi. Disisi lain publik dipertontonkan oleh aksi-aksi anarkis khas mahasiswa semacam bakar ban, blokir jalan, lempar batu, tawuran, serta bentrok dengan polisi.
Sesungguhnya ada sebuah pertanyaan besar bagi mahassiswa, pertanyaan yang sesungguhnya ada dalam benak seluruh rakyat, “Apa yang sebenarnya mahasiswa bisa lakukan saat ini?”. pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh seorang mahasiswa.
Dalam konteks ini mahasiswa membutuhkan apa yang disebut dengan IDEOLOGI. Inilah yang akan kemudian menjadi bara penggelora perjuangan mahasiswa. An Nabhaniy dalam bukunya "at takaatul al hizbiy" menegaskan bahwa ideologi merupakan perkara mutlak untuk membangkitkan masyarakat. Artinya, ketika mahasiswa menginginkan sebuah perubahan fundamental bagi dirinya, masyarakatnya dan negerinya, maka mahasiswa harus mengadopsi satu ideologi, memahaminya dan memahamkanya kepada masyarakat. Karena hanya ideologi yang akan membangkitkan mahasiswa, membangkitkan masyarakat sekaligus menciptakan perubahan fundamental. Artinya pula, mahasiswa harus menjadi garda terdepan golongan masyarakat yang memiliki pemahaman ideologi.
Dewasa ini terdapat 3 ideologi besar dunia yang siap merubah masyarakat; Kapitalisme, Sosialisme, dan Islam. Mahasiswa dituntut cerdas dalam memilih salah satu ideologi tersebut. Dalam konteks sekarang Kapitalisme masih memegang kendali dunia dengan intervensi dan hegemoni Amerika atas negara lain. Sementara Sosialisme sudah hancur seiring dengan runtuhnya ekskalasi politik Uni Sovyet yang berujung pada terpecahnya negara tersebut menjadi beberapa negara. Dan yang terakhir idiologi islam. Sampai sejauh ini, setelah keruntuhan daulah khilafah ustmaniyah, Ideologi Islam sudah tidak lagi diemban dan diterapkan. saat ini Islam hanya tersisa sebagai ajaran agama ritual belaka.
Maka sudah selayaknyalah mahasiswa mulsim mengemban ideologi islam serta meng-kristalisasi-kannya dalam kehidupan. Kristalisasi ideologi Islam tidak dapat dilakukan dengan cara instan, dan melalui cara-cara pemaksaan. Kristalisasi ideologi Islam hanya bisa dilakukan melalui proses pembinaan (tatsqif) yang dilakukan melalui kajian-kajian intensif. Dalam kajian yang intensif inilah mahasiswa diperlihatkan berbagai macam realitas sosial, termasuk berbagai macam permasalahan kehidupan kemudian menjadikan Syariat Islam sebagai pisau analisis mereka. Hanya dengan pola semacam inilah, daya kritis mahasiswa akan terasah hingga mendorong kemampuan intelektualnya. Sehingga, mahasiswa akan memiliki “kekuatan berpikir” bukan “berpikir kekuatan”.
Terakhir, saya Teringat pesan Hasan Al Banna, saat ini seluruh aset kebangkitan telah habis, kecuali satu. Pemuda. Mengapa pemuda? Karena pemudalah yang memiliki peran paling strategis untuk membangkitkan masyarakat. Maka, yakinkan diri, kembangkan potensi, dan pahatkan dalam hati, “Karena Aku pemuda, maka kan aku ubah dunia”. []
Allahu A'lam
==
Fahrur Ar-Rozy
Mahasiswa FISIP UNPAD
revolusisystem@yahoo.co.id
Bicara pemuda tentu tidak terlepas dari bicara tentang mahasiswa. Harus diakui bahwa mahasiswa berada pada puncak piramida kepemudaan. Hal ini wajar mengingat mahasiswa memiliki intelektualitas diatas rata-rata.
Melihat kondisi kemahasiswaan saat ini, mungkin tidak ada istilah yang paling relevan kecuali istiah “Mati Suri”. Sekarang ini, sangat jarang sekali ada mahasiswa yang kritis, serta memiliki kepekaan terhadap konstelasi politik, sosial dan ekonomi. Yang ada adalah mahasiwa yang opportunis, materialistis, dan hedonis.
Sebenarnya ada segelintir kalangan yang masih memiliki semangat pergerakan. Mereka ini yang disebut sebagai aktivis. Namun, sekali lagi kita harus mengurut dada melihat tingkah pola gerakan mahasiswa saat ini yang sudah bergeser jauh menjadi gerakan yang opportunis bahkan anarkis. Aktivis mahasiswa lebih suka duduk manis dalam acara talk show dan dagelan politik di Televisi, daripada melakukan diskusi dalam rangka mencari solusi. Disisi lain publik dipertontonkan oleh aksi-aksi anarkis khas mahasiswa semacam bakar ban, blokir jalan, lempar batu, tawuran, serta bentrok dengan polisi.
Sesungguhnya ada sebuah pertanyaan besar bagi mahassiswa, pertanyaan yang sesungguhnya ada dalam benak seluruh rakyat, “Apa yang sebenarnya mahasiswa bisa lakukan saat ini?”. pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh seorang mahasiswa.
Dalam konteks ini mahasiswa membutuhkan apa yang disebut dengan IDEOLOGI. Inilah yang akan kemudian menjadi bara penggelora perjuangan mahasiswa. An Nabhaniy dalam bukunya "at takaatul al hizbiy" menegaskan bahwa ideologi merupakan perkara mutlak untuk membangkitkan masyarakat. Artinya, ketika mahasiswa menginginkan sebuah perubahan fundamental bagi dirinya, masyarakatnya dan negerinya, maka mahasiswa harus mengadopsi satu ideologi, memahaminya dan memahamkanya kepada masyarakat. Karena hanya ideologi yang akan membangkitkan mahasiswa, membangkitkan masyarakat sekaligus menciptakan perubahan fundamental. Artinya pula, mahasiswa harus menjadi garda terdepan golongan masyarakat yang memiliki pemahaman ideologi.
Dewasa ini terdapat 3 ideologi besar dunia yang siap merubah masyarakat; Kapitalisme, Sosialisme, dan Islam. Mahasiswa dituntut cerdas dalam memilih salah satu ideologi tersebut. Dalam konteks sekarang Kapitalisme masih memegang kendali dunia dengan intervensi dan hegemoni Amerika atas negara lain. Sementara Sosialisme sudah hancur seiring dengan runtuhnya ekskalasi politik Uni Sovyet yang berujung pada terpecahnya negara tersebut menjadi beberapa negara. Dan yang terakhir idiologi islam. Sampai sejauh ini, setelah keruntuhan daulah khilafah ustmaniyah, Ideologi Islam sudah tidak lagi diemban dan diterapkan. saat ini Islam hanya tersisa sebagai ajaran agama ritual belaka.
Maka sudah selayaknyalah mahasiswa mulsim mengemban ideologi islam serta meng-kristalisasi-kannya dalam kehidupan. Kristalisasi ideologi Islam tidak dapat dilakukan dengan cara instan, dan melalui cara-cara pemaksaan. Kristalisasi ideologi Islam hanya bisa dilakukan melalui proses pembinaan (tatsqif) yang dilakukan melalui kajian-kajian intensif. Dalam kajian yang intensif inilah mahasiswa diperlihatkan berbagai macam realitas sosial, termasuk berbagai macam permasalahan kehidupan kemudian menjadikan Syariat Islam sebagai pisau analisis mereka. Hanya dengan pola semacam inilah, daya kritis mahasiswa akan terasah hingga mendorong kemampuan intelektualnya. Sehingga, mahasiswa akan memiliki “kekuatan berpikir” bukan “berpikir kekuatan”.
Terakhir, saya Teringat pesan Hasan Al Banna, saat ini seluruh aset kebangkitan telah habis, kecuali satu. Pemuda. Mengapa pemuda? Karena pemudalah yang memiliki peran paling strategis untuk membangkitkan masyarakat. Maka, yakinkan diri, kembangkan potensi, dan pahatkan dalam hati, “Karena Aku pemuda, maka kan aku ubah dunia”. []
Allahu A'lam
==
Fahrur Ar-Rozy
Mahasiswa FISIP UNPAD
revolusisystem@yahoo.co.id
Rabu, 27 Oktober 2010
karena Dakwah adalah Cinta
Memang seperti itu dakwah...Dakwah adalah cinta...Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu...Sampai pikiranmu...Sampai perhatianmu...Berjalan, duduk, dan tidurmu...
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.Tentang umat yg kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.Sampai tulang belulangmu.Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.Tubuh yg luluh lantak diseret-seret.Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.Beliau memang akan tua juga.Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.Dia memimpin hanya sebentar.Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah.Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik.Kepalanya sampai botak.Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan.Bukannya tidak membosankan.Dakwah bukannya tidak menyakitkan.Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani, justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana.
Pun mereka pergi, akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.
Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang. “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta.Mengajak kita untuk terus berlari.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satu harus mengalah.
terus berjuang sampai kemuliaan itu kembali gemilangterus bersemangat semasih raga ini masih ada dalam badan
sungguh kemenangan itu adalah suatu keniscayaan, yang harus diperjuangkan dengan pengorbanan bahkan sampai tetes darah penghabisan.
Terus bergerak, Karena berproses bukan berarti diam . . .
http://pemikir-ideologis.blogspot.com/2010/10/karena-dakwah-adalah-cinta.html?spref=fb
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.Tentang umat yg kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.Sampai tulang belulangmu.Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.Tubuh yg luluh lantak diseret-seret.Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.Beliau memang akan tua juga.Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.Dia memimpin hanya sebentar.Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah.Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik.Kepalanya sampai botak.Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan.Bukannya tidak membosankan.Dakwah bukannya tidak menyakitkan.Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani, justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana.
Pun mereka pergi, akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.
Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang. “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta.Mengajak kita untuk terus berlari.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satu harus mengalah.
terus berjuang sampai kemuliaan itu kembali gemilangterus bersemangat semasih raga ini masih ada dalam badan
sungguh kemenangan itu adalah suatu keniscayaan, yang harus diperjuangkan dengan pengorbanan bahkan sampai tetes darah penghabisan.
Terus bergerak, Karena berproses bukan berarti diam . . .
http://pemikir-ideologis.blogspot.com/2010/10/karena-dakwah-adalah-cinta.html?spref=fb
SalahQ apa???
Mungkin sedikit egois saat membuat tulisan ini. Mengapa ku berkata demikian? Karena sedikit banyak ku telah memikirkan diriku sendiri di tengah kemelut umat yang saat ini berjuang antara hidup dan mati mereka. Dan mengapa ku katakan egois? Karena ku telah membagi pemikiranku tuk diriku sendiri, di tengah amanah-amanah yang sejatinya begitu Mulia dariNya.
Sebenarnya tak begitu berat ujian yg harus ku hadapi. Hanya saja, ku sendiri tak mengerti dan tak memahaminya. Dan energiku dibuat habis oleh ujian ini. Kedzaliman terbesar dalam hidupku. Karena ku telah menjadikan urusan umat sedikit terbengkalai dengan aktivitasku ini. Namun, ketika aktivitas ini ku laksanakan, justru cemoohan demi cemoohan yg ku terima.
Terkadang ku berpikir. Apakah Allah tak Ridho dengan aktivitasku ini? Hemm, bisa saja seperti demikian. Karena, disadari atau pun tidak. Konsentrasiku telah banyak ku larikan pada aktivitasku ini –aktivitas duniawi banget- yang mungkin saja membuat Dia cemburu pada aktivitasku ini.
Kadang bagai sebuah pertarungan sengit di dalam diri. Karena antara semangat dan keputusasaan itu bergerak beriringan dan saling menjatuhkan. Namun, lebih banyak semangat yg ku dapatkan. Hanya saja, saat semangat itu tumbuh dalam sebuah kesadaran, ujian yg akan dihadapi pun semakin berat.
Mulai dari ujian di dalam diri sendiri, hingga diuji oleh dosen penguji –eitz, keliru, maksudnya ujian dari luar dan ujian lainnya- yang kadang melemahkan hingga membuat tetesan air mata yang berharga kadang tak terbendung lagi di pelupuknya.
Bukannya mengeluh. Hanya saja, mencoba mengintropeksi diri. Apakah telah maksimal apa yang ku katakan semua semata-mata karenaNya? Sehingga, saat terjatuh pun, ku masih mampu tuk bangkit. Karena, begitu egois bila ku berpikir hanya ku manusia yang paling bermasalah di dunia ini. Ibarat kata, sesungguhnya di atas langit, masih ada langit. Maka, cobalah berbesar hati atas ujian yang dihadapi. Anggaplah itu caraNya tuk mempertinggi derajat Kemuliaan kita di hadapanNya.
Cobalah lebih bijaksana dalam menghadapi sesuatu. Karena sesungguhnya Allah bersam-sama hambaNya. Bersama orang-orang yang senantiasa tak mengenal lelah dalam perjalanan hidupnya. Tak mengenal berhenti dalam mempeajari hakikat kehidupan. Dan tak pernah berlari ketika ujian itu begitu nampak di depan mata.
Jadilah orang-orang yang peka, sadar, memahami dan dapat menghargai orang lain. Bukan orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan begitu egois dengan dunianya.
“Barang Siapa Bangun di pagi hari, sementara dia tidak memikirkan urusan kaum muslim, maka dia tidak termasuk golongan umat Islam.” (HR. Hakim)
Salam Sukses, Kawan!!!^^
By: Mecha
http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=487021948979
Sebenarnya tak begitu berat ujian yg harus ku hadapi. Hanya saja, ku sendiri tak mengerti dan tak memahaminya. Dan energiku dibuat habis oleh ujian ini. Kedzaliman terbesar dalam hidupku. Karena ku telah menjadikan urusan umat sedikit terbengkalai dengan aktivitasku ini. Namun, ketika aktivitas ini ku laksanakan, justru cemoohan demi cemoohan yg ku terima.
Terkadang ku berpikir. Apakah Allah tak Ridho dengan aktivitasku ini? Hemm, bisa saja seperti demikian. Karena, disadari atau pun tidak. Konsentrasiku telah banyak ku larikan pada aktivitasku ini –aktivitas duniawi banget- yang mungkin saja membuat Dia cemburu pada aktivitasku ini.
Kadang bagai sebuah pertarungan sengit di dalam diri. Karena antara semangat dan keputusasaan itu bergerak beriringan dan saling menjatuhkan. Namun, lebih banyak semangat yg ku dapatkan. Hanya saja, saat semangat itu tumbuh dalam sebuah kesadaran, ujian yg akan dihadapi pun semakin berat.
Mulai dari ujian di dalam diri sendiri, hingga diuji oleh dosen penguji –eitz, keliru, maksudnya ujian dari luar dan ujian lainnya- yang kadang melemahkan hingga membuat tetesan air mata yang berharga kadang tak terbendung lagi di pelupuknya.
Bukannya mengeluh. Hanya saja, mencoba mengintropeksi diri. Apakah telah maksimal apa yang ku katakan semua semata-mata karenaNya? Sehingga, saat terjatuh pun, ku masih mampu tuk bangkit. Karena, begitu egois bila ku berpikir hanya ku manusia yang paling bermasalah di dunia ini. Ibarat kata, sesungguhnya di atas langit, masih ada langit. Maka, cobalah berbesar hati atas ujian yang dihadapi. Anggaplah itu caraNya tuk mempertinggi derajat Kemuliaan kita di hadapanNya.
Cobalah lebih bijaksana dalam menghadapi sesuatu. Karena sesungguhnya Allah bersam-sama hambaNya. Bersama orang-orang yang senantiasa tak mengenal lelah dalam perjalanan hidupnya. Tak mengenal berhenti dalam mempeajari hakikat kehidupan. Dan tak pernah berlari ketika ujian itu begitu nampak di depan mata.
Jadilah orang-orang yang peka, sadar, memahami dan dapat menghargai orang lain. Bukan orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan begitu egois dengan dunianya.
“Barang Siapa Bangun di pagi hari, sementara dia tidak memikirkan urusan kaum muslim, maka dia tidak termasuk golongan umat Islam.” (HR. Hakim)
Salam Sukses, Kawan!!!^^
By: Mecha
http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=487021948979
Langganan:
Postingan (Atom)
Opening Faza's Blog
Assalamu'alaikum!
Apa Kabarnya Hari ini?
~Ahlan wa sahlan~
Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"
~Allahu Akbar~