Ada sebuah semboyan kata yang mengatakan, bahwa rasa itu ada bersama keterbiasaan dan kebersamaan yang berlalu. Menjadi sebuah semboyan yang kadang rancu dan sulit dimaknai, saat bait kata ini hanya dimaknai dengan perasaan saja. Seandainya hal tersebut ditujukan pada sesuatu yang tidak memiliki akal, bisa saja hal tersebut berlaku. Hingga, sebelum menarik sebuah benang merah dari semboyan di atas, saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk merefleksikan diri akan maksud tulisan ini saya buat untuk diri saya sendiri maupun untuk kalian semua.
***
Apakah Rasa itu?
Banyak pengertian yang mengartikan kata di atas. Ada yang berarti rasa adalah sesuatu yang dapat dirasa dan diraba oleh indera kita, tetapi ada juga yang berarti sesuatu yang tiada terasa, namun menjadi sesuatu yang sangat mendalam sekali, merangsek ke dalam tiap-tiap diri, hingga sadar ataupun tidak, menjadikan segala hal terasa halal tuk memenuhi rasa tersebut.
Relatif sekali pengertian di atas. Yap. Sepakat! Saat mengartikannya hanya dengan perasaan pula –bukan dengan akal-. Hingga, saat kita menjadikan akal kita lah sebagai dasar dalam berpikir, maka kita akan memahami makna rasa yang saya maksud di atas. Di mana, rasa di sini adalah sebuah titik sentuh ataupun titik bayang yang diyakini dia ada, sekalipun dia tak terlihat, dengan kaidah-kaidah keyakinan yang mendasar, bahwa saat rasa itu tiada diperbolehkan tuk berlebihan, maka, kan kita minimalisir dan kita kontrol sebagaimana kaidah-Nya mengaturkan.
Satu hal yang harus dipahami, bahwasanya sebuah rasa berkaitan erat dengan yang namanya naluri. Naluri seorang makhluk yang memang tiada dapat tuk dihilangkan, namun mampu tuk dikontrol sesuai dengan track aturan main dari-Nya. Maka, benturkan segala rasa yang ada dengan melalui proses berpikir yang hakiki, bukan hanya memperturutkan pada perasaan yang sejatinya begitu lemah dan bahkan kadang begitu mudah tuk dipengaruhi.
***
Kebebasan Rasa=Kebablasan
Banyak yang terjebak pada permainan perasaan. Salah satunya rasa menyukai yang tiada jelas batas-batasnya. Rasa menyayangi yang begitu berlebihan hingga-hingga menjadikan jiwa-jiwa yang memiliki rasa itu terjatuh pada sebuah jurang yang menyakitkan dan menghancurkan masa depannya.
Betapa menggelikan, saat seorang anak begitu menyayangi pasangannya, yang baru sebentar perkenalan mereka, belum jelas hubungan tersebut, dan belum jelas pula masa depan hubungan keduanya. Tetapi, tak sedikit yang berlaku tiada ta’at pada orang tua yang telah lama merawat, menyayangi serta mengorbankan banyak hal tuk diri mereka hingga detik ini.
Tak sedikit pula anak-anak gadis, yang begitu sopan dan tertutup bahkan malu di hadapan orang tuanya, namun, membukakan semua auratnya di hadapan pasangannya yang bukanlah mahramnya. Menyedihkan sangat masa depan remaja, apabila hal ini berlaku pada sebagian besar remaja kita saat ini.
***
Perangkap Gurita
Beginilah saat rasa hanya berpatokan pada perasaan saja, tidak disertai logika dalam berpikir. Eits, protesnya bukan ditujukan pada satu persatu orang saja ya. Karena saat yang diminta untuk memperbaiki pun hanya satu persatu orang saja, tetapi lingkaran hitam yang mencengkeram seluruh individu ini tiada diberangus atau diputus mata rantainya, maka, sia-sia sajalah segala proses perbaikan tersebut.
Pengaruh akan senantiasa menghampiri dan menggoda tiap-tiap diri, terlebih bagi diri yang memiliki pertahanan yang sangat lemah atau bahkan yang tidak memiliki pertahanan sama sekali. Maka dari itu, dalam mengoreksi sesuatu lihatlah dari akarnya, jangan hanya dari cabang-cabangnya saja. Supaya tidak banyak korban yang terkorbankan atas alternatif solusi yang diberikan.
Dapat dilihat dan dirasakan, akar dari masalah rasa, seperti yang saya katakan di atas, kendatipun simple, ternyata, efeknya sangat luar biasa. Ini bukan dongeng ataupun permainan saja, tapi ini terkait perjalanan hidup yang pada akhirnya akan berakhir dan dimintakan pertanggung jawaban dari-Nya.
Maka, apabila dibuka akar masalahnya, beginilah sistematikanya.^_^
***
Sistem Liberal->Neoliberal, Sekuler, dan Kapitalis
Bahasan yang berat sekali. Yap. Apabila anda mengartikan apa yang anda baca itu berat. Tetapi, saat anda melihatnya sebagai sesuatu yang ringan dan mudah dipahami, maka, begitupun yang akan anda terima.
Maka, apabila dikatakan permasalahan hanya berkutat pada tataran orang perorangnya saja, jelas itu sangat sempit sekali. Bahkan, sangat-sangat sempit.
Bayangkan saja, sekuat apapun pohon, saaat akarnya telah diserang oleh penyakit yang sangat ganas, ditambah keadaan sekitar yang kian memporak-porandakan. Masih dapatkan pohon tersebut bertahan dalam waktu yang lama?
Begitu pun dengan diri manusia, yang dilengkapi dengan 3 naluri dengan aturan/prosedur pemenuhan yang tidak sembarangan tuk pemenuhannya. Maka yang menjadi pertanyaan, ditengah keterbatasan dan kekurangan sesosok manusia, dapatkah manusia menjawab segala masalah yang dihadapi manusia juga?
Adakah kehebatan manusia mampu menghasilkan tuk membentuk bulan dan bumi serta pengaturan cahaya matahari dalam berbagai perjalanannya kian sempurna terkecuali dilakukan oleh Sang Maha Sempurna? Serta adakah manusia dapat menciptakan, menghidupkan dan mematikan manusia yang lain?
Jawabannya sudah tentu dapat diketahui. Menolak Tuhan sebagai Pengatur dengan berbagai upaya pembenaran, bagi hati-hati dan biang-biangnya pengokoh peradaban sampah ini. Namun, bergerak melawan arus dan menginginkan satu solusi yang real, bahwa hanya Sang Pencipta lah yang mengetahui apa-apa yang dibutuhkan ciptaanNya, itulah Para Penggerak dan Penggagas!
Benar saja kiranya, bahwa sebuah kebaikan yang terstruktur dapat mengalahkan kejahatan yang tidak terstruktur, begitupun sebuah kejahatan yang terstruktur tentunya pun dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terstruktur.
Maka, seperti yang dikatakan seorang motivator, bahwa sesuatu yang tidak baik saja bisa sukses, dan sesuatu yang tidak jujur saja dapat berkuasa, mengapa justru sesuatu yang telah dijaga dan dijanjikanNya justru malu, mundur ataupun takut?
Tidak ada istilah Istirahat, menyerah ataupun mundur bagi para penggerak dan penggagas. Maka, bagi diri yang Allah berikan akal, tentulah dapat menundukkan perasaannya di bawah akal yang begitu cemerlang, mendalam dan luar biasa. Bukan seperti sosok-sosok yang tidak Allah berikan kelebihan.
Terus bergerak dan senantiasa bergerak! Karena hidup dan mati hanya sekali, maka bergeraklah berkali-kali.
~Faza.Al-Fakhirah~
Sabtu, 06 Agustus 2011
“Semua Tentang Perasaan” (Acak-Acak bin Mencak-Mencak, ^0^)
Ada sebuah semboyan kata yang mengatakan, bahwa rasa itu ada bersama keterbiasaan dan kebersamaan yang berlalu. Menjadi sebuah semboyan yang kadang rancu dan sulit dimaknai, saat bait kata ini hanya dimaknai dengan perasaan saja. Seandainya hal tersebut ditujukan pada sesuatu yang tidak memiliki akal, bisa saja hal tersebut berlaku. Hingga, sebelum menarik sebuah benang merah dari semboyan di atas, saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk merefleksikan diri akan maksud tulisan ini saya buat untuk diri saya sendiri maupun untuk kalian semua.
***
Apakah Rasa itu?
Banyak pengertian yang mengartikan kata di atas. Ada yang berarti rasa adalah sesuatu yang dapat dirasa dan diraba oleh indera kita, tetapi ada juga yang berarti sesuatu yang tiada terasa, namun menjadi sesuatu yang sangat mendalam sekali, merangsek ke dalam tiap-tiap diri, hingga sadar ataupun tidak, menjadikan segala hal terasa halal tuk memenuhi rasa tersebut.
Relatif sekali pengertian di atas. Yap. Sepakat! Saat mengartikannya hanya dengan perasaan pula –bukan dengan akal-. Hingga, saat kita menjadikan akal kita lah sebagai dasar dalam berpikir, maka kita akan memahami makna rasa yang saya maksud di atas. Di mana, rasa di sini adalah sebuah titik sentuh ataupun titik bayang yang diyakini dia ada, sekalipun dia tak terlihat, dengan kaidah-kaidah keyakinan yang mendasar, bahwa saat rasa itu tiada diperbolehkan tuk berlebihan, maka, kan kita minimalisir dan kita kontrol sebagaimana kaidah-Nya mengaturkan.
Satu hal yang harus dipahami, bahwasanya sebuah rasa berkaitan erat dengan yang namanya naluri. Naluri seorang makhluk yang memang tiada dapat tuk dihilangkan, namun mampu tuk dikontrol sesuai dengan track aturan main dari-Nya. Maka, benturkan segala rasa yang ada dengan melalui proses berpikir yang hakiki, bukan hanya memperturutkan pada perasaan yang sejatinya begitu lemah dan bahkan kadang begitu mudah tuk dipengaruhi.
***
Kebebasan Rasa=Kebablasan
Banyak yang terjebak pada permainan perasaan. Salah satunya rasa menyukai yang tiada jelas batas-batasnya. Rasa menyayangi yang begitu berlebihan hingga-hingga menjadikan jiwa-jiwa yang memiliki rasa itu terjatuh pada sebuah jurang yang menyakitkan dan menghancurkan masa depannya.
Betapa menggelikan, saat seorang anak begitu menyayangi pasangannya, yang baru sebentar perkenalan mereka, belum jelas hubungan tersebut, dan belum jelas pula masa depan hubungan keduanya. Tetapi, tak sedikit yang berlaku tiada ta’at pada orang tua yang telah lama merawat, menyayangi serta mengorbankan banyak hal tuk diri mereka hingga detik ini.
Tak sedikit pula anak-anak gadis, yang begitu sopan dan tertutup bahkan malu di hadapan orang tuanya, namun, membukakan semua auratnya di hadapan pasangannya yang bukanlah mahramnya. Menyedihkan sangat masa depan remaja, apabila hal ini berlaku pada sebagian besar remaja kita saat ini.
***
Perangkap Gurita
Beginilah saat rasa hanya berpatokan pada perasaan saja, tidak disertai logika dalam berpikir. Eits, protesnya bukan ditujukan pada satu persatu orang saja ya. Karena saat yang diminta untuk memperbaiki pun hanya satu persatu orang saja, tetapi lingkaran hitam yang mencengkeram seluruh individu ini tiada diberangus atau diputus mata rantainya, maka, sia-sia sajalah segala proses perbaikan tersebut.
Pengaruh akan senantiasa menghampiri dan menggoda tiap-tiap diri, terlebih bagi diri yang memiliki pertahanan yang sangat lemah atau bahkan yang tidak memiliki pertahanan sama sekali. Maka dari itu, dalam mengoreksi sesuatu lihatlah dari akarnya, jangan hanya dari cabang-cabangnya saja. Supaya tidak banyak korban yang terkorbankan atas alternatif solusi yang diberikan.
Dapat dilihat dan dirasakan, akar dari masalah rasa, seperti yang saya katakan di atas, kendatipun simple, ternyata, efeknya sangat luar biasa. Ini bukan dongeng ataupun permainan saja, tapi ini terkait perjalanan hidup yang pada akhirnya akan berakhir dan dimintakan pertanggung jawaban dari-Nya.
Maka, apabila dibuka akar masalahnya, beginilah sistematikanya.^_^
***
Sistem Liberal->Neoliberal, Sekuler, dan Kapitalis
Bahasan yang berat sekali. Yap. Apabila anda mengartikan apa yang anda baca itu berat. Tetapi, saat anda melihatnya sebagai sesuatu yang ringan dan mudah dipahami, maka, begitupun yang akan anda terima.
Maka, apabila dikatakan permasalahan hanya berkutat pada tataran orang perorangnya saja, jelas itu sangat sempit sekali. Bahkan, sangat-sangat sempit.
Bayangkan saja, sekuat apapun pohon, saaat akarnya telah diserang oleh penyakit yang sangat ganas, ditambah keadaan sekitar yang kian memporak-porandakan. Masih dapatkan pohon tersebut bertahan dalam waktu yang lama?
Begitu pun dengan diri manusia, yang dilengkapi dengan 3 naluri dengan aturan/prosedur pemenuhan yang tidak sembarangan tuk pemenuhannya. Maka yang menjadi pertanyaan, ditengah keterbatasan dan kekurangan sesosok manusia, dapatkah manusia menjawab segala masalah yang dihadapi manusia juga?
Adakah kehebatan manusia mampu menghasilkan tuk membentuk bulan dan bumi serta pengaturan cahaya matahari dalam berbagai perjalanannya kian sempurna terkecuali dilakukan oleh Sang Maha Sempurna? Serta adakah manusia dapat menciptakan, menghidupkan dan mematikan manusia yang lain?
Jawabannya sudah tentu dapat diketahui. Menolak Tuhan sebagai Pengatur dengan berbagai upaya pembenaran, bagi hati-hati dan biang-biangnya pengokoh peradaban sampah ini. Namun, bergerak melawan arus dan menginginkan satu solusi yang real, bahwa hanya Sang Pencipta lah yang mengetahui apa-apa yang dibutuhkan ciptaanNya, itulah Para Penggerak dan Penggagas!
Benar saja kiranya, bahwa sebuah kebaikan yang terstruktur dapat mengalahkan kejahatan yang tidak terstruktur, begitupun sebuah kejahatan yang terstruktur tentunya pun dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terstruktur.
Maka, seperti yang dikatakan seorang motivator, bahwa sesuatu yang tidak baik saja bisa sukses, dan sesuatu yang tidak jujur saja dapat berkuasa, mengapa justru sesuatu yang telah dijaga dan dijanjikanNya justru malu, mundur ataupun takut?
Tidak ada istilah Istirahat, menyerah ataupun mundur bagi para penggerak dan penggagas. Maka, bagi diri yang Allah berikan akal, tentulah dapat menundukkan perasaannya di bawah akal yang begitu cemerlang, mendalam dan luar biasa. Bukan seperti sosok-sosok yang tidak Allah berikan kelebihan.
Terus bergerak dan senantiasa bergerak! Karena hidup dan mati hanya sekali, maka bergeraklah berkali-kali.
~Faza.Al-Fakhirah~
***
Apakah Rasa itu?
Banyak pengertian yang mengartikan kata di atas. Ada yang berarti rasa adalah sesuatu yang dapat dirasa dan diraba oleh indera kita, tetapi ada juga yang berarti sesuatu yang tiada terasa, namun menjadi sesuatu yang sangat mendalam sekali, merangsek ke dalam tiap-tiap diri, hingga sadar ataupun tidak, menjadikan segala hal terasa halal tuk memenuhi rasa tersebut.
Relatif sekali pengertian di atas. Yap. Sepakat! Saat mengartikannya hanya dengan perasaan pula –bukan dengan akal-. Hingga, saat kita menjadikan akal kita lah sebagai dasar dalam berpikir, maka kita akan memahami makna rasa yang saya maksud di atas. Di mana, rasa di sini adalah sebuah titik sentuh ataupun titik bayang yang diyakini dia ada, sekalipun dia tak terlihat, dengan kaidah-kaidah keyakinan yang mendasar, bahwa saat rasa itu tiada diperbolehkan tuk berlebihan, maka, kan kita minimalisir dan kita kontrol sebagaimana kaidah-Nya mengaturkan.
Satu hal yang harus dipahami, bahwasanya sebuah rasa berkaitan erat dengan yang namanya naluri. Naluri seorang makhluk yang memang tiada dapat tuk dihilangkan, namun mampu tuk dikontrol sesuai dengan track aturan main dari-Nya. Maka, benturkan segala rasa yang ada dengan melalui proses berpikir yang hakiki, bukan hanya memperturutkan pada perasaan yang sejatinya begitu lemah dan bahkan kadang begitu mudah tuk dipengaruhi.
***
Kebebasan Rasa=Kebablasan
Banyak yang terjebak pada permainan perasaan. Salah satunya rasa menyukai yang tiada jelas batas-batasnya. Rasa menyayangi yang begitu berlebihan hingga-hingga menjadikan jiwa-jiwa yang memiliki rasa itu terjatuh pada sebuah jurang yang menyakitkan dan menghancurkan masa depannya.
Betapa menggelikan, saat seorang anak begitu menyayangi pasangannya, yang baru sebentar perkenalan mereka, belum jelas hubungan tersebut, dan belum jelas pula masa depan hubungan keduanya. Tetapi, tak sedikit yang berlaku tiada ta’at pada orang tua yang telah lama merawat, menyayangi serta mengorbankan banyak hal tuk diri mereka hingga detik ini.
Tak sedikit pula anak-anak gadis, yang begitu sopan dan tertutup bahkan malu di hadapan orang tuanya, namun, membukakan semua auratnya di hadapan pasangannya yang bukanlah mahramnya. Menyedihkan sangat masa depan remaja, apabila hal ini berlaku pada sebagian besar remaja kita saat ini.
***
Perangkap Gurita
Beginilah saat rasa hanya berpatokan pada perasaan saja, tidak disertai logika dalam berpikir. Eits, protesnya bukan ditujukan pada satu persatu orang saja ya. Karena saat yang diminta untuk memperbaiki pun hanya satu persatu orang saja, tetapi lingkaran hitam yang mencengkeram seluruh individu ini tiada diberangus atau diputus mata rantainya, maka, sia-sia sajalah segala proses perbaikan tersebut.
Pengaruh akan senantiasa menghampiri dan menggoda tiap-tiap diri, terlebih bagi diri yang memiliki pertahanan yang sangat lemah atau bahkan yang tidak memiliki pertahanan sama sekali. Maka dari itu, dalam mengoreksi sesuatu lihatlah dari akarnya, jangan hanya dari cabang-cabangnya saja. Supaya tidak banyak korban yang terkorbankan atas alternatif solusi yang diberikan.
Dapat dilihat dan dirasakan, akar dari masalah rasa, seperti yang saya katakan di atas, kendatipun simple, ternyata, efeknya sangat luar biasa. Ini bukan dongeng ataupun permainan saja, tapi ini terkait perjalanan hidup yang pada akhirnya akan berakhir dan dimintakan pertanggung jawaban dari-Nya.
Maka, apabila dibuka akar masalahnya, beginilah sistematikanya.^_^
***
Sistem Liberal->Neoliberal, Sekuler, dan Kapitalis
Bahasan yang berat sekali. Yap. Apabila anda mengartikan apa yang anda baca itu berat. Tetapi, saat anda melihatnya sebagai sesuatu yang ringan dan mudah dipahami, maka, begitupun yang akan anda terima.
Maka, apabila dikatakan permasalahan hanya berkutat pada tataran orang perorangnya saja, jelas itu sangat sempit sekali. Bahkan, sangat-sangat sempit.
Bayangkan saja, sekuat apapun pohon, saaat akarnya telah diserang oleh penyakit yang sangat ganas, ditambah keadaan sekitar yang kian memporak-porandakan. Masih dapatkan pohon tersebut bertahan dalam waktu yang lama?
Begitu pun dengan diri manusia, yang dilengkapi dengan 3 naluri dengan aturan/prosedur pemenuhan yang tidak sembarangan tuk pemenuhannya. Maka yang menjadi pertanyaan, ditengah keterbatasan dan kekurangan sesosok manusia, dapatkah manusia menjawab segala masalah yang dihadapi manusia juga?
Adakah kehebatan manusia mampu menghasilkan tuk membentuk bulan dan bumi serta pengaturan cahaya matahari dalam berbagai perjalanannya kian sempurna terkecuali dilakukan oleh Sang Maha Sempurna? Serta adakah manusia dapat menciptakan, menghidupkan dan mematikan manusia yang lain?
Jawabannya sudah tentu dapat diketahui. Menolak Tuhan sebagai Pengatur dengan berbagai upaya pembenaran, bagi hati-hati dan biang-biangnya pengokoh peradaban sampah ini. Namun, bergerak melawan arus dan menginginkan satu solusi yang real, bahwa hanya Sang Pencipta lah yang mengetahui apa-apa yang dibutuhkan ciptaanNya, itulah Para Penggerak dan Penggagas!
Benar saja kiranya, bahwa sebuah kebaikan yang terstruktur dapat mengalahkan kejahatan yang tidak terstruktur, begitupun sebuah kejahatan yang terstruktur tentunya pun dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terstruktur.
Maka, seperti yang dikatakan seorang motivator, bahwa sesuatu yang tidak baik saja bisa sukses, dan sesuatu yang tidak jujur saja dapat berkuasa, mengapa justru sesuatu yang telah dijaga dan dijanjikanNya justru malu, mundur ataupun takut?
Tidak ada istilah Istirahat, menyerah ataupun mundur bagi para penggerak dan penggagas. Maka, bagi diri yang Allah berikan akal, tentulah dapat menundukkan perasaannya di bawah akal yang begitu cemerlang, mendalam dan luar biasa. Bukan seperti sosok-sosok yang tidak Allah berikan kelebihan.
Terus bergerak dan senantiasa bergerak! Karena hidup dan mati hanya sekali, maka bergeraklah berkali-kali.
~Faza.Al-Fakhirah~
Sabtu, 30 Juli 2011
~Lecutan Motivasi~
Sebenarnya banyak pertanyaan dan pernyataan yang lalu lalang dalam pikiran 1 bulan ini. Terkait kepastian akan pilihan-pilihan yang sedang dibuat, tantangan-tantangan yang sedang dihadapi, konflik-konflik kecil yang tak dapat tuk dipungkiri kehadirannya, dan beberapa tekanan demi tekanan kecil yang kian menari mengiringi langkah kaki.
Depresi? Yap. Ada sedikit energi negatif yang menjadikan apa yang dirajut dan diperjuangkan pun luluh lantak. Terdiam, berlari, dan menghindar untuk beberapa waktu, itu bukanlah solusi. Sampah-lah kalo demikian adanya.
Cacian dan teriakan tuk memotivasi diri senantiasa menyertai, di tengah kondisi fisik yang kian merajuk.
Curahan hatikah ini? Terserahlah diartikan apa? Hanya saja, berharap hikmah dapat dipetik atas perkara hidup yang setiap orang pasti menjalani, merasakan dan menghadapinya. Tetapi, lagi-lagi semua kembali pada diri, bahwa jiwa-jiwa tangguh berbeda dengan jiwa-jiwa pengecut dan memilih mundur atau terjebak hanya tuk alasan-alasan sampah ini saja.
Senantiasa mencoba tuk berbagi dengan orang-orang yang dapat memberikan inspirasi. Dan inilah yang menjadikan hidup penuh warna, karena saling mengisi dan saling melengkapi.
Banyak hal ternyata yang menjadi koreksi dan banyak hal pula yang harusnya diperbaharui. Sekalipun perbedaan atas sebuah keputusan itu pastilah adanya.
Pengalaman telah mengajarkan banyak hal. Salah satunya bagaimana agar tetap dapat berdiri kokoh di tengah jutaan kaum-kaum yang berdasi ataupun berkantong tebal membentuk kehidupan yang sejatinya bukan milik mereka.
Warna-warni kehidupan. Di mana kadang hanya dipandang sebagai pelangi setelah hujan membasahi bumi ini saja. Padahal, sejatinya menyimpan berjuta arti dan makna yang dapat diambil hikmah ataupun pembelajaran atasnya.
Kembali tertegun tuk beberapa waktu. Mengurai satu persatu benang kusut, hingga dapat kembali lurus dan tiada bercabang atasnya tuk menguraikannya. Demikian pun, agar dapat kembali bangkit dan berjuang dalam topangan energi positif yang mengitari langkah kaki ini ke depannya.
Inilah hidup. Penuh dengan kedinamisan. Dan harusnya pun penuh dengan kekreatifan serta kecerdasan yang harusnya dibangun tuk menjawab segala tantangan yang ada. Agar bukan menjadikan diri sebagai sampah peradabahn saja, melainkan dapat menjadi “Sang Pioner” ataupun “Visioner” dalam menghentak dan menghacurkan peradaban yang ada tuk menggantikannya dengan peradaban yang hakiki dan menjadikan barokah tentunya.
~Faza~
Depresi? Yap. Ada sedikit energi negatif yang menjadikan apa yang dirajut dan diperjuangkan pun luluh lantak. Terdiam, berlari, dan menghindar untuk beberapa waktu, itu bukanlah solusi. Sampah-lah kalo demikian adanya.
Cacian dan teriakan tuk memotivasi diri senantiasa menyertai, di tengah kondisi fisik yang kian merajuk.
Curahan hatikah ini? Terserahlah diartikan apa? Hanya saja, berharap hikmah dapat dipetik atas perkara hidup yang setiap orang pasti menjalani, merasakan dan menghadapinya. Tetapi, lagi-lagi semua kembali pada diri, bahwa jiwa-jiwa tangguh berbeda dengan jiwa-jiwa pengecut dan memilih mundur atau terjebak hanya tuk alasan-alasan sampah ini saja.
Senantiasa mencoba tuk berbagi dengan orang-orang yang dapat memberikan inspirasi. Dan inilah yang menjadikan hidup penuh warna, karena saling mengisi dan saling melengkapi.
Banyak hal ternyata yang menjadi koreksi dan banyak hal pula yang harusnya diperbaharui. Sekalipun perbedaan atas sebuah keputusan itu pastilah adanya.
Pengalaman telah mengajarkan banyak hal. Salah satunya bagaimana agar tetap dapat berdiri kokoh di tengah jutaan kaum-kaum yang berdasi ataupun berkantong tebal membentuk kehidupan yang sejatinya bukan milik mereka.
Warna-warni kehidupan. Di mana kadang hanya dipandang sebagai pelangi setelah hujan membasahi bumi ini saja. Padahal, sejatinya menyimpan berjuta arti dan makna yang dapat diambil hikmah ataupun pembelajaran atasnya.
Kembali tertegun tuk beberapa waktu. Mengurai satu persatu benang kusut, hingga dapat kembali lurus dan tiada bercabang atasnya tuk menguraikannya. Demikian pun, agar dapat kembali bangkit dan berjuang dalam topangan energi positif yang mengitari langkah kaki ini ke depannya.
Inilah hidup. Penuh dengan kedinamisan. Dan harusnya pun penuh dengan kekreatifan serta kecerdasan yang harusnya dibangun tuk menjawab segala tantangan yang ada. Agar bukan menjadikan diri sebagai sampah peradabahn saja, melainkan dapat menjadi “Sang Pioner” ataupun “Visioner” dalam menghentak dan menghacurkan peradaban yang ada tuk menggantikannya dengan peradaban yang hakiki dan menjadikan barokah tentunya.
~Faza~
“Next Story, Mutiara di Pelupuk Mata”
Hampir saja keputus asaan menimpa atas mimpi-mimpi yang telah ditorehkan. Salah satunya adalah mimpi bisnis yang sedang vakum dari konsentrasi karena teralihkan pada sebuah deadline yang memang harus diselesaikan, dan aktivitas lainnya yang benar-benar menguras waktu khusus.
Tidak ingin menyalahkan siapapun, karena diri tentunya hanya ingin berusaha mengevaluasi diri sendiri. Kesalahan murni berasal dari dalam diri, yang mungkin saja ka
rena ketidak teraturan dalam menajerial waktu, diri maupun yang lainnya.
Mencoba berdiskusi dengan orang tua yang tentunya memiliki banyak pengalaman. Diselingi pula dengan diskusi lainnya. Tanpa disadari, kembali diri tersandung pada sebuah batu besar, yaitu mimpi-mimpi yang kini ditantangkan keduanya kepada diri. Pembelajaran akan melihat sesuatu pada prosesnya, kembali mengentakkan dan membangunkan diri ini, bahwa hasil yang dicapai saat ini karena kekurang maksimalan dalam prosesnya.
Berbagai pertimbangan menjadi masukan buat diri secara pribadi. Sembari menjalin koneksi kerja dengan rekan-rekan yang ada di luar sana, sesekali mengingatkan diri tuk menengok, menelaah dan mempelajari bahan-bahan skripsi yang harus diselesaikan, dan tentunya diiringi do’a padaNya sepanjang waktu. Inilah kunci pembuka rezeki bagi seorang pemula tentunya seperti diri ini. Beriring dengan usaha yang tiada pernah ada hentinya tuk menjadi seorang entrepreneurship muslimah.
Kembali teringat pada proposal hidup yang tertempel di dinding kamar. Beberapa target yang belum tercapai seiring ritme waktu yang kian berputar. Tiada terasa dada pun serasa sesak dan air mata menggenang di pelupuk mata. Cepat-cepat tuk ditepis keraguan tak berarti yang seketika hadir tuk kembali meyakinkan diri, bahwa masih ada waktu tuk mewujudkan semua mimpi itu dan membuktikan pada semua bahwa diri ini pasti bisa.
Maka, kembali merapikan semuanya. Fokus! Yap. Itulah kunci yang beberapa pekan ini sempat terlupakan. Dahulu senantiasa ada mapping time untuk deadline-deadline target yang ingin diraih. Tetapi, semenjak ujian demi ujian kesehatan merangsek dan menyerang diri, semua seakan-akan memupuskan harapan-harapan tuk dapat bertahan dengan segala topangan yang ada.
Akan tetapi, tiada ingin mendahului takdirNya. Maka, kembali menegakkan diri tuk bersungguh-sungguh dengan target yang ingin dicapai. Sekalipun pada akhirnya mungkin saja nanti menyakitkan, tetapi yang terutama adalah memaksimalkan diri dalam mengusahakannya disertai do’a dan keyakinan yang mendalam serta mengakar hanya padaNya.
~Faza~
Tidak ingin menyalahkan siapapun, karena diri tentunya hanya ingin berusaha mengevaluasi diri sendiri. Kesalahan murni berasal dari dalam diri, yang mungkin saja ka
rena ketidak teraturan dalam menajerial waktu, diri maupun yang lainnya.
Mencoba berdiskusi dengan orang tua yang tentunya memiliki banyak pengalaman. Diselingi pula dengan diskusi lainnya. Tanpa disadari, kembali diri tersandung pada sebuah batu besar, yaitu mimpi-mimpi yang kini ditantangkan keduanya kepada diri. Pembelajaran akan melihat sesuatu pada prosesnya, kembali mengentakkan dan membangunkan diri ini, bahwa hasil yang dicapai saat ini karena kekurang maksimalan dalam prosesnya.
Berbagai pertimbangan menjadi masukan buat diri secara pribadi. Sembari menjalin koneksi kerja dengan rekan-rekan yang ada di luar sana, sesekali mengingatkan diri tuk menengok, menelaah dan mempelajari bahan-bahan skripsi yang harus diselesaikan, dan tentunya diiringi do’a padaNya sepanjang waktu. Inilah kunci pembuka rezeki bagi seorang pemula tentunya seperti diri ini. Beriring dengan usaha yang tiada pernah ada hentinya tuk menjadi seorang entrepreneurship muslimah.
Kembali teringat pada proposal hidup yang tertempel di dinding kamar. Beberapa target yang belum tercapai seiring ritme waktu yang kian berputar. Tiada terasa dada pun serasa sesak dan air mata menggenang di pelupuk mata. Cepat-cepat tuk ditepis keraguan tak berarti yang seketika hadir tuk kembali meyakinkan diri, bahwa masih ada waktu tuk mewujudkan semua mimpi itu dan membuktikan pada semua bahwa diri ini pasti bisa.
Maka, kembali merapikan semuanya. Fokus! Yap. Itulah kunci yang beberapa pekan ini sempat terlupakan. Dahulu senantiasa ada mapping time untuk deadline-deadline target yang ingin diraih. Tetapi, semenjak ujian demi ujian kesehatan merangsek dan menyerang diri, semua seakan-akan memupuskan harapan-harapan tuk dapat bertahan dengan segala topangan yang ada.
Akan tetapi, tiada ingin mendahului takdirNya. Maka, kembali menegakkan diri tuk bersungguh-sungguh dengan target yang ingin dicapai. Sekalipun pada akhirnya mungkin saja nanti menyakitkan, tetapi yang terutama adalah memaksimalkan diri dalam mengusahakannya disertai do’a dan keyakinan yang mendalam serta mengakar hanya padaNya.
~Faza~
Kamis, 28 Juli 2011
“Semburat Pelangi Cinta”
Awalnya ku berfikir cinta hanyalah sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai pelengkap hidup. Ibarat barang seperti barang komplementer. Mewarnai setiap perjalanan dan langkah kaki, kemanapun ia mengarah. Maka, ku awali perjalanan cinta yang telah terlewati hanya sebatas cinta monyet, yang datang dan berlalu begitu saja.
***
Sedikit gambaran ketika ku mengenal cinta di awal hidupku. Basis lingkungan yang mengajarkanku hidup selaras dan serasi dengan para anggota geng cowok, menjadikanku terbiasa hidup berkawan dengan mereka. Hingga tanpa disadari, sekalipun status tunangan yang telah disematkan oleh kedua orang tua di jari kiri-ku sekalipun, seakan tiada berpengaruh apa-apa.
Beranjak di akhir masa SMA yang kebanyakan diyakini dan diamini oleh para remaja sebagai masa-masa terindah penuh dengan kenangan pun menyandung diriku pada sebuah dilema yang luar biasa. Siapa sangka hubungan yang disebut tunangan pun akhirnya dapat terkalahkan oleh tinta hitam “pacaran”?
Hingga titik klimaks pun mengantarkanku pada sekelumit masalah yang merenggangkan hubunganku dengan kedua orang tuaku. Dalam setiap rintangan yang kian menerpa, entah mengapa senantiasa kekeh ku pertahankan pilihan ini walaupun tak pernah ku dapati wajah senang di kedua permataku itu.
Tanpa terasa kurun waktu dua tahun berlalu dalam keterbiasaan yang ada, di tengah kericuhan yang tak diindahkan. Hingga, seketika itu, lebih tepatnya saat ku telah diterima di sebuah perguruan tinggi, hubungan yang telah susah payah ku pertahankan, tiba-tiba berakhir tanpa angina maupun badai sekalipun.
Tertegun, terdiam, dan tanpa banyak tanya, ku terima semuanya dengan berlari tuk sementara waktu ke kota lain. Bukan tidak menerima dengan semua itu, tetapi hanya ingin menenangkan diri atas keterbiasaan yang seketika dalam hitungan detik menghilang dari tengah-tengah kehidupanku.
Setelah menghabiskan waktu 3 hari lamanya, akhirnya ku kembali dengan bersimpuh di kedua kaki orang tuaku. Marah tidak marah, kenyataan pun harus mereka hadapi seperti halnya diriku. Maka, semenjak hari itu ku putuskan tuk menutup dan menarik diri dari lingkungan sekitar.
Waktu di awal semester ku habiskan bersama teman-teman baruku yang kesemuanya adalah cewek. Di awal bulan januari 2008 lebih tepatnya, nama Inpudefilhais pun tercetus dari kesepakatan kami bersama. Bersama dalam suka maupun duka, cerdas bersama dan saling menopang satu dengan yang lain. itulah visi kami bersama.
Rasanya, benar-benar berubah total hidupku. Satu semester berlalu dengan beberapa program pendekatan diri kepada Sang Pemilik diri ini. Tentunya bersama 6 sobat karibku. Mereka yang mengajakku tuk belajar dan mengenal islam. Dan menjadi jalan hidayah serta inspirasi tukku. Hingga, tiada terasa, di awal semester dua kuputuskan tuk menyibukkan diri dalam aktivitas organisasi. Bukan organisasi mahasiswa pada umumnya, melainkan organisasi rohani yang ada di kampus.
Pembelajaran dan pencerdasan secara konsep dan teknis semakin mengajarkanku banyak hal, dan memberikan pengalaman yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Bahwa ternyata, hidupku benar-benar berharga. Maka, ku putuskan pula tuk secara total menutup auratku dengan pakaian suci sebagaimana yang disyariatkanNya, yaitu dengan kerudung dan jilbab.
Maka, finally semuanya. Ku terjunkan diriku secara penuh dalam aktivitas yang satu persatu orang mulai mundur dari aktivitas tersebut. Padahal awalnya, merekalah yang menyemangati dan memberikan dukungan habis-habisan. Tapi itulah hukum alam. Semua berjalan dengan alami sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Hingga, tanpa terasa, pendidikanku pun telah di ujung waktu. Ku nikmati sisa-sisa kebersamaan dengan rekan-rekan yang memberikan warna baru dalam hidupku dengan penuh inspirasi. Walaupun tak dapat dipungkiri, kekesalan demi kekecewaan pun tak urung seringkali menjadi batu terjal di tengah penyatuan pemikiran kami. Namun, lagi-lagi karena senyum dan kesabaran kawan-kawan dan adik-adik yang kan ku tinggalkan, seakan memberikan semburat warna baru dalam hidupku, yang sebelumnya tiada pernah ku temui.
Dan di tengah episode perjalanan pun, ketika dunia dengan begitu pongahnya ingin memperlihatkan taringnya. Meneruskan tuntutan demi tuntutan dunia agar dapat menopang eksistensi hidupnya masing-masing. Ku justru tetap dengan tantangan dan resiko yang bagiku itu sangatlah menarik. Dan ku patrikan dalam diri akan sebuah semburat warna pelangi cinta yang sesungguhnya. Tidak lama lagi, dan ku mengusahakan yang maksimal, agar ku pun layak mendapatkan yang maksimal.
Benar sekali. Sekalipun itu adalah sebuah misteri, namun setidaknya semburat indahnya pelangi yang Dia ciptakan dan dititipkanNya di hidupku nanti adalah cerminan diriku sendiri. Maka, apabila ku bersantai-santai saja saat ini, tiada mungkin ku dapati pelangi itu berwarna indah dengan sempurna. Hingga, persiapan diri, sekalipun dengan ujian yang tidak kecil, sejatinya menyertai akan diri ini dalam titian tuk menuju jalan CintaMu.
Jikalau bukan karena Cintaku padaMu, waktu tiadalah mungkin terhitung begitu singkat. Dan segala kerikil-kerikil kecil yang bisa saja menjatuhkanku itu, tiada mungkin dapat ku singkirkan. Sebelum Engkau singkap tukku, rahasia pelangi tersebut tuk hidupku. Sungguh, CintaMu telah mampu Mengalihkan pandangan dan pikiranku akan sebuah arti cinta yang semu kepada sebuah makna Cinta yang hakiki. Dan tentunya, karenaMu pulalah ku dapat meraih mimpi-mimpiku yang pada awalnya ku kira itu hanyalah sebuah omong kosong.
***
Inspirasi tiada batas, dari sosok yang senantiasa berproses. :D
~Faza~
***
Sedikit gambaran ketika ku mengenal cinta di awal hidupku. Basis lingkungan yang mengajarkanku hidup selaras dan serasi dengan para anggota geng cowok, menjadikanku terbiasa hidup berkawan dengan mereka. Hingga tanpa disadari, sekalipun status tunangan yang telah disematkan oleh kedua orang tua di jari kiri-ku sekalipun, seakan tiada berpengaruh apa-apa.
Beranjak di akhir masa SMA yang kebanyakan diyakini dan diamini oleh para remaja sebagai masa-masa terindah penuh dengan kenangan pun menyandung diriku pada sebuah dilema yang luar biasa. Siapa sangka hubungan yang disebut tunangan pun akhirnya dapat terkalahkan oleh tinta hitam “pacaran”?
Hingga titik klimaks pun mengantarkanku pada sekelumit masalah yang merenggangkan hubunganku dengan kedua orang tuaku. Dalam setiap rintangan yang kian menerpa, entah mengapa senantiasa kekeh ku pertahankan pilihan ini walaupun tak pernah ku dapati wajah senang di kedua permataku itu.
Tanpa terasa kurun waktu dua tahun berlalu dalam keterbiasaan yang ada, di tengah kericuhan yang tak diindahkan. Hingga, seketika itu, lebih tepatnya saat ku telah diterima di sebuah perguruan tinggi, hubungan yang telah susah payah ku pertahankan, tiba-tiba berakhir tanpa angina maupun badai sekalipun.
Tertegun, terdiam, dan tanpa banyak tanya, ku terima semuanya dengan berlari tuk sementara waktu ke kota lain. Bukan tidak menerima dengan semua itu, tetapi hanya ingin menenangkan diri atas keterbiasaan yang seketika dalam hitungan detik menghilang dari tengah-tengah kehidupanku.
Setelah menghabiskan waktu 3 hari lamanya, akhirnya ku kembali dengan bersimpuh di kedua kaki orang tuaku. Marah tidak marah, kenyataan pun harus mereka hadapi seperti halnya diriku. Maka, semenjak hari itu ku putuskan tuk menutup dan menarik diri dari lingkungan sekitar.
Waktu di awal semester ku habiskan bersama teman-teman baruku yang kesemuanya adalah cewek. Di awal bulan januari 2008 lebih tepatnya, nama Inpudefilhais pun tercetus dari kesepakatan kami bersama. Bersama dalam suka maupun duka, cerdas bersama dan saling menopang satu dengan yang lain. itulah visi kami bersama.
Rasanya, benar-benar berubah total hidupku. Satu semester berlalu dengan beberapa program pendekatan diri kepada Sang Pemilik diri ini. Tentunya bersama 6 sobat karibku. Mereka yang mengajakku tuk belajar dan mengenal islam. Dan menjadi jalan hidayah serta inspirasi tukku. Hingga, tiada terasa, di awal semester dua kuputuskan tuk menyibukkan diri dalam aktivitas organisasi. Bukan organisasi mahasiswa pada umumnya, melainkan organisasi rohani yang ada di kampus.
Pembelajaran dan pencerdasan secara konsep dan teknis semakin mengajarkanku banyak hal, dan memberikan pengalaman yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Bahwa ternyata, hidupku benar-benar berharga. Maka, ku putuskan pula tuk secara total menutup auratku dengan pakaian suci sebagaimana yang disyariatkanNya, yaitu dengan kerudung dan jilbab.
Maka, finally semuanya. Ku terjunkan diriku secara penuh dalam aktivitas yang satu persatu orang mulai mundur dari aktivitas tersebut. Padahal awalnya, merekalah yang menyemangati dan memberikan dukungan habis-habisan. Tapi itulah hukum alam. Semua berjalan dengan alami sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Hingga, tanpa terasa, pendidikanku pun telah di ujung waktu. Ku nikmati sisa-sisa kebersamaan dengan rekan-rekan yang memberikan warna baru dalam hidupku dengan penuh inspirasi. Walaupun tak dapat dipungkiri, kekesalan demi kekecewaan pun tak urung seringkali menjadi batu terjal di tengah penyatuan pemikiran kami. Namun, lagi-lagi karena senyum dan kesabaran kawan-kawan dan adik-adik yang kan ku tinggalkan, seakan memberikan semburat warna baru dalam hidupku, yang sebelumnya tiada pernah ku temui.
Dan di tengah episode perjalanan pun, ketika dunia dengan begitu pongahnya ingin memperlihatkan taringnya. Meneruskan tuntutan demi tuntutan dunia agar dapat menopang eksistensi hidupnya masing-masing. Ku justru tetap dengan tantangan dan resiko yang bagiku itu sangatlah menarik. Dan ku patrikan dalam diri akan sebuah semburat warna pelangi cinta yang sesungguhnya. Tidak lama lagi, dan ku mengusahakan yang maksimal, agar ku pun layak mendapatkan yang maksimal.
Benar sekali. Sekalipun itu adalah sebuah misteri, namun setidaknya semburat indahnya pelangi yang Dia ciptakan dan dititipkanNya di hidupku nanti adalah cerminan diriku sendiri. Maka, apabila ku bersantai-santai saja saat ini, tiada mungkin ku dapati pelangi itu berwarna indah dengan sempurna. Hingga, persiapan diri, sekalipun dengan ujian yang tidak kecil, sejatinya menyertai akan diri ini dalam titian tuk menuju jalan CintaMu.
Jikalau bukan karena Cintaku padaMu, waktu tiadalah mungkin terhitung begitu singkat. Dan segala kerikil-kerikil kecil yang bisa saja menjatuhkanku itu, tiada mungkin dapat ku singkirkan. Sebelum Engkau singkap tukku, rahasia pelangi tersebut tuk hidupku. Sungguh, CintaMu telah mampu Mengalihkan pandangan dan pikiranku akan sebuah arti cinta yang semu kepada sebuah makna Cinta yang hakiki. Dan tentunya, karenaMu pulalah ku dapat meraih mimpi-mimpiku yang pada awalnya ku kira itu hanyalah sebuah omong kosong.
***
Inspirasi tiada batas, dari sosok yang senantiasa berproses. :D
~Faza~
Langganan:
Postingan (Atom)
Opening Faza's Blog
Assalamu'alaikum!
Apa Kabarnya Hari ini?
~Ahlan wa sahlan~
Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"
~Allahu Akbar~
