Senin, 25 Oktober 2010

Cinta

Mengapa Rasa Hampa Saat Kau tak ada?

Mengapa Rasa Kehilangan saat Kau katakan Kau kan pergi?

Mungkin, Benar yg Kau katakan,

Tiada artinya berharap,terlebih pada sesuatu yg semu dan terbatas,

Walau kadang langkah begitu Gontai,

Tatapan begitu kosong,harapan semakin menipis dan kabur,

Mata begitu sembab,karena Tangis yg tiada dapat tertahan,

Namun, setidaknya diriini masih menyimpan sebuah asa pada satu Cinta,

Cinta yg setidaknya takakan pernah mengkhianati,

Cinta yg Senantiasa memberi tanpa mengharapkan balasan dari yg diberi,

Cinta yg tak memisahkan orang yg disayang dari orang-orang yg dicintainya,

Cinta yg benar-benar Luar Biasa,

Tertegun, bahkan tiadapernah terkira,

Ku mengkhianati Cinta yg Senantiasa ditumbuhkan dalam hati ku,

Tiada pernah memaknai maksud dari semua yg telah diberikannya tuk ku,

Yg ada hanyalah sebuah keluhan yg bertubi-tubi...

Ya Allah,

Cinta itu sungguh mengalahkan cinta-cinta yg lain,

Cinta Hakiki dan senantiasa menemani ku,

Dalam suka maupun dukaku,

Cinta..oh cinta..

Harap ku, Maafkan semua kegagalan ku dalam menjaga cinta ini,

Cinta-Mu sungguh LuarBiasa,

Menjauh atopun menyerah dari CintaMu,

Adalah sebuah Kesia-siaan,

Atopun pengkhiatan dari Lafadz-Lafadz Iman yg Allah titipkan pada kita...

Makasih ya Allah...

PEMUDA–PEMUDA SEJATI (Contoh Pemuda Ideal)

Dengan berat hati harus diakui, kemerosotan masyarakat saat ini paling kentara ditandai dengan kemerosotan mentalitas pemuda-pemudinya. Kita bisa lihat pelaku seks bebas adalah pemuda, pemadat adalah pemuda, pelaku tawuran adalah pemuda, suporter-suporter anarkis adalah pemuda, dan kebanyakan gelandangan adalah pemuda. Simpelnya, hancurnya masyarakat kita digawangi oleh kehancuran para pemudanya. Kebanyakan Pemuda saat ini sudah kehilangan segala-galanya; baik Identitas, Kapasitas, Integritas, maupun Kapabilitas. Alih-alih menjadi Bagian dari solusi malah ternyata menjadi bagian dari masalah!.

Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kisah ini akan memberi gambaran kepada kita Bagaimana sesunggunya karakteristik ideal dari seorang pemuda. Dari cerita berikut setidaknya kita akan mendapat ibroh tentang Ketaatan kepada Allah Swt, rasa Tanggung Jawab, Kepedulian, serta Persaudaraan. Berikut penggalan kisahnya;



***

Pada Zaman Khalifah Umar Bin Khattab RA, ada seorang pemuda yang berencana untuk melakukan perjalanan jauh. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya.



Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu kemudian duduk di bawah pohon. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur lelap. Saat ia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Unta itu juga merusak segala yang dilewatinya.



Penjaga kebun adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu, namun ia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, sang kakek pun membunuhnya. Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, ia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun.



Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu bertanya, “Siapa yang membunuh unta miliku ini?” sang Kakek lalu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, maka sang kakek terpaksa membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda tak kuasa menahan amarahnya. Saking emosinya, Serta-merta ia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu amat menyesal atas apa yang diperbuatnya. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua orang pemuda yang merupakan anak dari sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya. Kemudian, keduanya membawa sang pemuda menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar bin Khattab RA.



Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukum bunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka. Lalu, Umar bertanya kepada sang pemuda. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Ia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya.

Umar lalu berkata, “Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah terhadapmu,” sang pemuda dengan lapang dada menerima keputusan tersebut. Ia kemudian meminta kepada Khalifah Umar, agar diberi waktu dua hari untuk pulang ke kampungnya, sehingga dia bisa berpamitan kepada keluarga serta bisa membayar hutang-hutangnya. Umar kemudian berkata, “Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu.” Pemuda itupun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, Aku orang asing di negeri ini, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin.”

Salah seorang sahabat mulia, ABU DZAR AL-GHIFARI RA (yang ketika itu usianya terkatagori masih muda) secara kebetulan hadir di majlis tersebut. Beliau kemudian berkata, “Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ni tidak datang lagi setelah dua hari.” Dengan terkejut, Umar berkata, “Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar, sahabat Rasulullah?,” “Benar, ya Amirul Mukminin,” jawab Abu Dzar lantang.



Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishah, orang-orang penasaran menantikan datangnya pemuda itu. SANGAT MENGEJUTKAN! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia tiba di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandangnya dengan takjub. Umar bertanya kepada pemuda itu, “Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?” Pemuda itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, ‘tidak ada lagi pemuda yang menepati janji di kalangan umat Ini’. Dan agar orang-orang tidak mengatakan, ‘tidak ada lagi Pemuda sejati nan kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat ini”



Lalu, Umar melangkah ke arah Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata, “Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?” Abu Dzar menjawab, “Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi Pemuda jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat ini.”



Mendengar itu semua, dua orang pemuda anak kakek yang terbunuh pun ikut berkata, “Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apa pun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi pemuda yang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat ini.”

***

SUBHANALLAH, Kisah di atas sangat mencengangkan dan penuh pesona. Inilah gambaran tentang pemuda sejati, pemuda-pemuda kaya hati. Ke empat Pemuda dalam kisah di atas menggambarkan kepada kita siapa itu Pemuda Sejati, Pemuda Impian banyak Hati.



Allahu A’lam. [sykrn fr]

Sebuah Muhasabah Diri

Tuhanku,Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luasAku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudraAku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumiAku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langitAku hanya seonggok bintang kecil yang reduo di samudra langit Mu yang tanpabatas

TuhankuHamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMUTiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi ...hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU

Tuhanku..............baktiku tiada arti, ibadahku hanyasepercik airBagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MUBetapa sadar diri begitu hina dihadapanMUJangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMUDiri yang tangannya banyak maksiat ini,Mulut yang banyak maksiat ini,Mata yang banyak maksiat ini...Hati yang telah terkotori oleh noda ini...memiliki keninginana setinggi langitMungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???

Tuhan...Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikirdalam mengabdi kepada MUSemua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku....Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupkuSukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya

Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggaraturanMUMelanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanahYang telah Tuhan percayakan kepada kami...Ampunilah kami

Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaankepadaMUTuhanku....Siangku tak selalu dalam iman yang teguhMalamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MUBegitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikitJanganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada MuAtau....dalam maksiat kepadaMU "Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengansebaik-baiknya penutupan !!"

Dari saudara untuk saudara "Perbaiki diri SerulahOrang Lain"

“Masihkah Kau Mau Menjadi Bidadari?”

Masihkah kau mau menjadi bidadari syurga Allah ... ya ukhti?Pertanyaan itu seolah semakin lama semakin menggema di ruang hati dan memenuhi seisi jiwa...Wahai diri...Tahukah kau seperti apa sosok bidadari itu?

Di saat wanita bumi asyik dan sibuk mempercantik diri atau memperindah bentuk tubuh..Mereka hamburkan uang demi satu kalimat yaitu "katakanlah bahwa wajahku cantik"Sedangkan Bidadari..Lebih menyibukkan mempercantik iman dalam hati...dan memperindah akhlak layaknya muslimah sejati..

Di saat wanita bumi sibuk mencari cela dan saling membicarakannya...Bidadari akan lebih sibuk mencari celanya sendiri dan memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki...

Di saat wanita bumi lebih mudah menangis karena patah hati dengan pacarnya...Bidadari akan menangis ketika gejolak hatinya dicemburui Allah...

Di saat wanita bumi sering mengeluh ketika menghadapi masalah..Bidadari akan kuat tetapi seiring dengan kepasrahan diri pada Allah..

Di saat wanita bumi hanya meratapi kekurangan diri..Bidadari tak akan diam..dia bergerak agar kekurangan yang dimilikinya tak mematikan kesempurnaan dirinya yang lain...Dia akan terus bergerak..bergerak...bahkan mampu melebihi orang yang punya kelebihan di atas darinya...

Di saat wanita bumi banyak menangis untuk kesia-siaan...Bidadari bumi akan banyak menghabiskan airmatanya kepada Rabb-nya...hingga kelak airmata itu dijadikan Allah sebuah telaga di syurga...

Dan di saat wanita bumi memilih jalan pintas untuk memenuhi hajat diri..Bidadari bumi akan sabar menanti dalam keta'atan dan mengisinya dengan berbenah diri...

Wahai ukhti...hanya kekuatan diri dan mereka yang bersabar dalam keta'atan yang akan sanggup melewati ini dan menjadi bidadari...

Dan ukhti...masihkah kau mau menjadi bidadari Allah di muka bumi?



Ukhti Sebutir Pasir

Renungan Buat Hamba yg Alpa atas kesemuan indahnya Dunia

"Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangnn duniawi selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana!"

"Mencintai makhluk itu sangat berpeluang menemui kehilangan. Kebersamaan dengan makhluk juga berpeluang mengalami perpisahan. Hanya cinta kepada Allah yang tidak. Jika kau mencintai seseorang ada dua kemungkinan diterima dan ditolak. Jika ditolak pasti sakit rasanya. Namun jika kau mencintai Allah pasti diterima. Jika kau mencintai Allah, engkau tidak akan pernah merasa kehilangan. Tak akan ada yang merebut Allah yang kaucintai itu dari hatimu. Tak akan ada yang merampas Allah. Jika kau bermesraan dengan Allah, hidup bersama Allah, kau tidak akan pernah berpisah dengannya. Allah akan setia menyertaimu. Allah tidak akan berpisah darimu. Kecuali kamu sendiri yang berpisah dari- Nya. Cinta yang paling membahagiakan dan menyembuhkan adalah cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla."

karena Dakwah adalah Cinta

Memang seperti itu dakwah...
Dakwah adalah cinta...
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu...
Sampai pikiranmu...
Sampai perhatianmu...
Berjalan, duduk, dan tidurmu...

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret.
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.
Beliau memang akan tua juga.
Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.
Dia memimpin hanya sebentar.
Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.
Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah.
Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.
Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.
Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.
Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik.Kepalanya sampai botak.
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan.
Bukannya tidak membosankan.
Dakwah bukannya tidak menyakitkan.
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani, justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana.

Pun mereka pergi, akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.

Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang. “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta.
Mengajak kita untuk terus berlari.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satu harus mengalah.

terus berjuang sampai kemuliaan itu kembali gemilang
terus bersemangat semasih raga ini masih ada dalam badan

sungguh kemenangan itu adalah suatu keniscayaan, yang harus diperjuangkan dengan pengorbanan bahkan sampai tetes darah penghabisan.

Terus bergerak, Karena berproses bukan berarti diam . . .

http://pemikir-ideologis.blogspot.com/2010/10/karena-dakwah-adalah-cinta.html?spref=fb

Sabtu, 21 Agustus 2010

Ramadhan diambang Harapan

Ramadhan yang dirindui kini tiba kembali dan menghiasi hari-hari dengan panasnya nan kian membara. Sebuah perjuangan hidup yang mempertaruhkan harga diri untuk meraih kemuliaan-Nya di tengah kompetisi dengan makhluk-Nya yang lain. Namun, ada yang berbeda pada ramadhan kali ini. Karena, di awal ramadhan ini ada sebuah kejutan dalam hidupku. Sebuah pertempuran batin untuk menetapkan pilihan, apakah pada ramadhan ini ataukah ramadhan-ramadhan berikutnya akan aku tambatkan hati ini pada sebuah nama sebagai teman hidupku?
Tanpa dikehendaki kehadirannya, prinsip hidup adalah pilihan pun membatin di dalam hati dan mengoyak-ngoyak konsentrasiku. Dengan perbekalan iman yang tersisa, aku mencoba untuk bertahan.
Di awal ramadhan ini, aku coba memantapkan hati. Mempelajari dengan hati-hati serpihan demi serpihan keputusan yang akan aku buat. Diawali dengan mengenali penampakan luarnya. Begitu singkat, namun menyisakan ruang di hati yang kosong ini. Aku takut saat aku pastikan aku memilihnya, justru ini menjadi boomerang bagi perasaanku sendiri.
Hingga, di ambang waktunya, keputusan pun harus disampaikan. Tepat di sepuluh ramadhan pertama, di akhir istikharahku. Aku mantapkan hati dengan penuh keikhlasan untuk melepaskannya. Melepaskan bayangan masa depan yang akan dibina bersama, dan melepaskan sebuah harapan yang mulai terpatri di hati ini untuknya. Demi sebuah kebahagiaan yang sejati.

Banjarmasin, 22 agustus 2010
Terbaik menurut manusia, belum tentu terbaik untukNya.

Opening Faza's Blog

Assalamu'alaikum!
~Ahlan wa sahlan~

Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"

~Allahu Akbar~