Sabtu, 02 Maret 2019

Membangun Habits Menulis dari Sekarang!

Oleh: Indri Faaza

Ada sebuah kutipan yang isinya sebagai berikut: "Jika kita dapat menciptakan kebiasaan menulis, kita akan memiliki fondasi yang kuat sebagai seorang penulis." (anonim)
Kemudian muncul sebuah pertanyaan. Bagaimana jika hari ini kita masih kesulitan dalam mengatur waktu yang cukup untuk menulis, atau terus menundanya hingga akhirnya tidak pernah mulai menulis meskipun kita sudah merencanakannya?
Beberapa kesulitan ataupun alasan yang kadang menjadi pembenaran tuk kita agar tidak menulis. Padahal, itulah rantai masalah yang mengikat jari-jemari kita sehingga tidak menghasilkan karya apapun. Sekalipun nyatanya kita bisa dan mampu.
Sehingga, menjadi pertanyaan baru, bagaimana cara menghancurkan rantai masalah tersebut? Apakah menulis itu bakat yang terpendam ataukah ianya dapat dibentuk melalui pembiasaan atau habits? Mari kita kupas bersama-sama.
***
Seringkali kita menemui orang yang kita anggap istimewa, karena ia mampu melakukan sesuatu yang luar biasa, yang tidak banyak dikuasai oleh orang lainnya. Kita takjub melihat seseorang yang fasih dalam bahasa arab dalam usia muda, walaupun dia tidak lahir di tanah arab. Kita terpesona tatkala menyaksikan anak berusia 15 tahun dan hafalan 30 juz nya. Kita kagum saat melihat seseorang berumur masih 20-an namun telah menulis lebih dari 8 buku yang semuanya bermutu dan berisi.
Lalu kita bertanya-tanya, apakah bakat-bakat semacam itu adalah takdir dari Allah, yang hanya diberikan-Nya pada orang-orang khusus? Apakah memang sudah takdirnya seperti itu? Dan biasanya pasangan pertanyaan ini adalah legitimasi bahwa kita memang tak mampu melakukan demikian karena tak berbakat. Lalu menyerah dan menerima diri apa adanya, jauh dari mampu.
Sebagai respon atas hal ini, muncul kemudian training motivasi yang menjamur bak musim hujan. Training ini lalu membahas tentang “Why?”. Merubah mindset seseorang dan berusaha menanamkan keyakinan pada setiap orang bahwa mereka pasti bisa menguasai apapun.
Namun, motivasi ternyata gagal pula menciptakan kelanggengan dalam menguasai suatu keahlian. Panas semangat yang membakar ternyata hanya bertahan satu-dua hari, belum keahlian dikuasai, kebosanan sudah menanti.
Sebenarnya, rahasia dari menguasai keahlian apapun bukan terletak pada motivasi, karena motivasi hanya kunci pembuka awalnya saja, tapi ibu dari segala keahlian adalah pengulangan (repetisi) dan ayahnya adalah latihan (practice). Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, terpaksa ataupun sukarela, dia pasti akan menguasai keahlian tertentu. Inilah namanya pembentukan kebiasaan (habits).
Jadi pembiasaan pada intinya adalah menjadikan suatu hal yang tadinya dilakukan secara sadar dan diupayakan menjadi otomatis dan tanpa upaya, melalui latihan dan pengulangan secara terus menerus. (dikutip dari buku habits, Felix. Y. Siauw)
Karena itulah, Al-Qur’an pun telah memuat firman Allah yang membukakan kepada kita kunci daripada pengajaran, yaitu pengulangan (repetisi),
"Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka." (TQS Thahaa [20]: 113)
Membentuk habits yang baik memang sulit pada awalnya, namun seketika habits itu sudah terbentuk dengan ajeg, maka sulit pula untuk menghentikan habits baik itu. Sama dengan habits buruk yang sulit pula menghentikannya apabila sudah ajeg. Bedanya, habits baik sulit dibentuk, namun akan memudahkan kita di sisa hidup kita. Habits buruk mudah dibentuk namun menyusahkan kita di sisa hidup kita.
Jadi hanya satu sebab ketika kita belum menguasai sesuatu hal yang benar-benar kita inginkan: “Kita belum cukup banyak mengulang dan melatihnya, baik terpaksa ataupun sukarela”. Bukan masalah bakat, kurang motivasi atau apapun yang selama ini kita pikirkan.
Bicara tentang berpikir, binatang tidak memiliki akal, namun mereka bisa menguasai keahlian yang bahkan manusia merasa aneh menyaksikannya. Kita pernah melihat burung berhitung matematika di sirkus, monyet melakukan tendangan putar sempurna taekwondo, atau lumba-lumba yang melompati gelang api. Semua itu mereka lakukan karena mereka tidak banyak pikir, hanya melakukan dan melakukan. Terus berlatih dan mengulangi.
Mungkin itulah kelemahan kita selama ini, yang membuat kita miskin keahlian apapun. Karena kita terlalu banyak membahas motivasi tapi kurang aksi. Banyak pikir cemerlang tapi tak  berlatih mengulang. Logikanya, bila binatang yang tak memiliki akal saja bisa, seharusnya manusia yang punya akal lebih bisa.
Mungkin pula lebih tepat apabila ketika ingin menguasai satu keahlian, tak perlu banyak berpikir dan motivasi, lakukan saja. Semakin sering kita melakukan, maka semakin sering pula latihan dan pengulangannya. Maka kita pasti akan menguasai keahlian apapun yang kita inginkan.
***
Berikut, saya rangkum sepuluh langkah untuk membentuk habits menulis. Bisa jadi tiap orang beda dalam hasilnya. Tetapi maksimal dalam prosesnya, itu yang terpenting.
1. Tuliskan komitmen kita untuk menulis
Jika kita tidak berkomitmen untuk menuliskan kebiasaan menulis, maka kita tidak benar-benar berkomitmen untuk membentuk kebiasaan tersebut. Jika kita ingin membentuk suatu kebiasaan menulis, kita harus benar-benar berkomitmen untuk melakukannya. Bukan kalimat "akan saya usahakan", namun "saya benar-benar akan menulis". Dan kita harus menuliskan komitmen tersebut lalu memasangnya di tempat-tempat yang dapat dilihat dengan mudah. Secara spesifik, tulis kebiasaan seperti apa yang akan kita lakukan (dalam hal ini menulis). Kapan, di mana, dan untuk berapa lama kita akan melakukannya? Tuliskanlah semua itu.
2. Menulislah setiap hari pada waktu yang sama, dengan pemicu.
Akan baik jika kita memiliki waktu tertentu setiap hari untuk mulai menulis. Semisal menulis di pagi hari, namun bisa juga saat istirahat siang, atau saat yang lain telah tidur. Pastikan bahwa waktu itu adalah waktu yang tidak akan dijejali oleh aktivitas lain.
Tidak kalah pentingnya dengan memiliki waktu khusus untuk menulis adalah memiliki pemicu. Apakah pemicu itu? Ini adalah suatu peristiwa yang akan mendorong kita untuk melakukan kebiasaan itu. Contohnya, katakan saja kita ingin menulis pada pagi hari -- kita akan bangun dari tempat tidur, mandi, membuat kopi, dan kemudian mulai menulis. Jadi, membuat kopi adalah pemicu untuk kita menulis, dan mandi adalah pemicu untuk kita membuat kopi, dan bangun dari tempat tidur adalah pemicu untuk kita mandi. Dan karena kita pasti akan bangun dari tempat tidur setiap hari, jadi kita tidak akan memiliki masalah menerapkan hal ini. Pilih sebuah pemicu yang kita tahu akan kita lakukan setiap hari, dan kemudian menulislah.
3. Berkomitmenlah kepada orang lain.
Seperti yang telah dituliskan di atas, adalah penting untuk memiliki komitmen yang kuat guna membentuk kebiasaan menulis. Untuk itu, akan membantu jika komitmen itu sifatnya tidak pribadi. Umumkanlah komitmen kita kepada banyak orang. Beritahu keluarga, teman-teman, komunitas kita, tulis dalam situs blog kita, kirimkan ke sebuah forum diskusi online, dan sebagainya. Katakan dengan jelas apa yang akan kita lakukan, dan berjanjilah untuk melaporkan kepada mereka hal-hal yang telah kita lakukan (lihat butir nomor 6 di bawah). Hal ini akan memotivasi kita untuk tetap melakukan kebiasaan menulis.
4. Fokuslah selama 1 bulan.
Salah satu kunci untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah fokus. Jika kita benar-benar fokus untuk membentuk kebiasaan menulis, kita akan sukses (terutama jika kita mengombinasikannya dengan beberapa tips lain dalam artikel ini). Jika kita mencoba untuk menciptakan banyak kebiasaan baru dalam satu waktu sekaligus, fokus kita akan tersebar. Kerahkan seluruh fokus dan energi kita untuk membentuk kebiasaan baru dalam menulis.
5. Temukan motivasi kita.
Apa alasan kita melakukan kebiasan menulis? Apa yang memotivasi kita untuk duduk dan menulis? Apa yang dapat membuat kita tetap termotivasi ketika kita sedang tidak ingin menulis? Mengetahui apa yang menjadi motivasi kita itu penting -- dan sangat baik jika kita menuliskannya.
6. Catat dan bertanggungjawablah.
Sangat penting mencatat kebiasaan baru kita. Hal termudah yang dapat kita lakukan adalah dengan memberikan tanda "X" di kalender kita setiap kali kita menulis. Atau kita bisa juga menyiapkan sebuah lembar kerja untuk mencatat waktu dan tanggal, dengan catatan kecil ketika kita menulis. Ini dapat menjadi alat untuk membantu kita melacak apakah tujuan kita sudah tercapai atau belum. Atau kita bisa juga membuat catatan dalam blog pribadi; dengan menuliskan tulisan singkat dalam blog kita setiap kali kita selesai menulis. Forum diskusi online merupakan cara yang baik pula untuk mencatat apa yang sudah kita lakukan. Cara apapun yang kita pakai, lakukanlah itu dengan konsisten dan segera lakukan pencatatan setiap kali kita selesai menulis. Bagikanlah catatan kita tersebut kepada orang lain sebagai bentuk pertanggungjawaban kita kepada orang lain.
7. Tentukan penghargaan diri.
Penghargaan adalah motivator yang luar biasa. Sering-seringlah memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika kita baru mulai berusaha membentuk kebiasaan menulis: berikan satu hadiah kecil untuk diri sendiri pada hari pertama kita menulis, kemudian pada hari yang kedua dan ketiga. Setelah itu, berikan hadiah kepada diri kita setelah menulis secara rutin selama 1 minggu. Lalu kurangi lagi, kita akan memberikan hadiah pada diri kita setelah menulis secara rutin selama 1 bulan. Buat daftar penghargaan sebelum kita mulai menulis, jadi kita dapat melihat hadiah apa saja yang dapat kita terima jika kita mulai menulis.
8. Disiplin.
Semakin konsisten kita menulis, semakin kuat kebiasaan itu jadinya. Pastikan kebiasaan kita terhubung kuat dengan pemicu kita, sehingga setiap kali pemicunya terjadi, kita akan melakukan kebiasaan kita. Itulah yang membentuk suatu kebiasaan. Jika pemicunya terjadi, dan kadang kita tidak melakukan kebiasaan kita, maka kita tidak benar-benar membentuk sebuah kebiasaan. Jadi, daripada kita menyalahkan diri kelak, lebih baik kita benar-benar disiplin. Karena sekali kita tidak melakukan kebiasaan itu, kemungkinan kita akan melakukannya lagi lain waktu. Jika kita merasa sedang tidak ingin menulis hari ini, katakan pada diri kita dengan tegas: "Disiplin!"
Apa yang akan terjadi jika karena beberapa alasan, kita tidak melakukan kebiasaan kita? Jangan lantas menyalahkan diri kita sendiri. Analisa dan cari tahu mengapa hal itu sampai terjadi dan cari solusinya agar tidak terjadi lagi. Kemudian maju terus. Membentuk suatu kebiaaan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun jika kita disiplin, kita akan berhasil.
9. Mencari inspirasi.
Motivator terbaik adalah inspirasi. Ketika saya membentuk kebiasaan baru, saya suka membaca pengalaman-pengalaman sukses orang lain. Saya akan membaca buku, majalah, situs, dan blog dengan topik tersebut. Lakukanlah hal yang sama saat menulis -- carilah inspirasi, tetapi jangan membiarkan kegiatan membaca tersebut menghambat kita untuk menulis.
10. Jadikan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Yang terpenting, jika kebiasaan itu tidak menyenangkan, kita akan sering kehilangan motivasi. Mencoba disiplin memang penting, tapi pada akhirnya, motivasilah yang merupakan faktor pentingnya. kita tidak dapat memaksa motivasi. Jadi, carilah cara untuk membuat kebiasaan menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bisa dengan memutar musik atau ditemani secangkir kopi atau teh saat kita menulis. Menulislah dengan ditemani sesuatu yang kita sukai.
(http://writetodone.com/2008/01/09/10-steps-to-create-the-habit-of-writing/)
***
Penelitian mengatakan, bahwa 30 hari melatih suatu hal akan membuat kebiasaan baru terbentuk. Contohlah kita ingin membentuk habits membaca, maka bacalah buku setiap hari pada waktu yang sama, ba’da shubuh 1/2 jam, setiap hari. Maka setelah 30 hari habits baru itu akan muncul, walau masih lemah. Begitupun dalam menulis. Semakin lama kita melaksanakannya, semakin habits itu berakar. Habits dulu baru hebats!
Terakhir, mari kita dengarkan ungkapan Imam Syafi’i, “Wahai saudaraku, kalian tidak akan dapat menguasai ilmu kecuali dengan 6 syarat yang akan saya sampaikan: dengan kecerdasan, bersemangat, kesungguhan, dengan memiliki bekal (investasi), bersama pembimbing, serta waktu yang lama!”
Jadi, wahai sahabat pena, bersabarlah untuk menjadi ahli. Terus berlatih dan mengulangi. Pastilah bisa kita kuasai.

Sabtu, 08 September 2018

Kala Aksara Menuai Jariyah


Oleh Indri Faaza

Menulis. Aktivitas yang dipandang biasa, namun bagi saya sangat berharga. Bukan dilihat dari sisi kebisaan. Karena sejatinya saya tidak bisa menulis awalnya. Bahkan tak punya kemampuan atau bakat dalam menulis.

Di situlah kemudian saya berpikir tuk menjadikan kekurangan yang ada menjadi kelebihan. Dalam sebuah proses yang panjang, berawal dari menulis di buku diary, hingga menulis di media cetak. Semua dilalui dengan proses jatuh-bangun yang luar biasa payahnya.

Sekalipun sempat otodidak. Namun, akhirnya memutuskan tuk menekuni secara detail prosesnya dalam sebuah komunitas ataupun kelas menulis. Karena itu jauh lebih baik.

Dan akhirnya sampailah saya ke sebuah kelas istimewa. #WritingClassWithHas. Sekalipun baru pertemuan pertama, namun materinya luar biasa. Bagaimana menjadikan setiap amal itu menuai pahala? Termasuk dalam menulis. Bagaimana agar aksara yang dirangkai pada akhirnya menuai jariyah tuk penulisnya?

Aksara yang dirangkai tentunya tak sekedar kata demi kata yang hampa. Namun, aksara yang bernyawa. Sehingga akan mampu memengaruhi dan membangkitkan pemikiran dan perasaan pembaca.

Aksara yang bernyawa, yang menghantarkan kata demi kata berhujjah. Dimana yang benar akan disampaikan benar. Demikian pun sebaliknya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh mba Hasni Tagili bahwasanya, "Menulis merupakan aktivitas menjaring jariyah lewat aksara. Maka menulislah!". Jadi, jangan berkecil hati para pejuang pena. Sungguh, ujung pena kita akan menuai pahala kala aksara yang tertata tuk menggaungkan kebenaran. Bukan sekedar kata-kata sampah tak berguna. Apalagi hoax.

Maka, apabila hari ini kita masih terbiasa menuliskan hal-hal biasa, segera berhenti. Move on! Gantilah status atau postingan kita dengan konten penuh hikmah yang mengajak yang lain pada kebaikan. Di sanalah pahala akan bergulir dan mengalir sebagai amal jariyah hingga kelak kita telah tiada.

Sungguh jejak yang dapat kita tinggalkan melalui rangkaian aksara, itu sangat berarti. Sekalipun orang tak mengenal kita semasa di dunia. Biarlah kenangan mereka pada kita melalui proses hijrahnya, menjadi amal jariyah tuk kita.

Maka, menulislah! Sejak kini hingga nanti.

#KelarWCWHBatch3
#Meeting1
#WritingClassWithHas


Romansa Literasi Faaza


Masa memperkenalkan di masa dulu telah berlalu. Terganti dengan tumbuh dan berkembang para penulis ideologis di Borneo tercinta.


Tiada terkira rasanya syukur pada-Nya. Mungkin bukan melalui kita, tapi melalui yang lain. Sungguh kebangkitan para pejuang literasi itu kian nyata.

Mari melejit bersama! Menjadi para pejuang pena zaman now! Tak hanya dengan tinta, namun dengan jari jemari yang kian lincah menari di atas keyboard HP atau laptop kita!

#Revowriter #Revowriter7 #HariLiterasiInternasional #GerakanMedsosuntukDakwah
#MenghidupkanAtmosferLiterasi

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212655454881191&id=1230085820


Senin, 09 Juli 2018

Memoar Visi Pernikahan: “Dalam Bingkai Pernikahan, Kami Sempurnakan Visi Perubahan!”


“Aku berangkat dulu ya sayang?!”, pamit dia sebelum melanjutkan agenda dakwahnya malam ini. Sebagaimana malam-malam sebelumnya. Penuh agenda.
Dalam satu bulan ini, agenda malamku pun turut bertambah. Menunggu kepulangannya, sembari mengevaluasi dan memikirkan uslub baru tuk dakwahku di esok hari. Intinya, esok hari harus lebih baik dan semakin baik lagi. Mesti ada “upgrade valensi” setiap harinya.
Kemudian, jawaban sekaligus do’a singkat pun ku ucapkan padanya. “Hati-hati ya sayang! Semoga Allah mudahkan semua urusanmu”.
Sesaat, ku pun terdiam. Menunggu telepon dimatikan dari seberang sana. Namun,,,
Afwan, ada yang lupa!?”, kata dia merasa bersalah. Aku pun menjadi bertanya-tanya dan tertegun dalam tanya yang bercampur dengan rasa penasaranku.
Hingga, saat dia melanjutkan, “Ku sayang kamu, cinta! Assalamu’alaikum!”
Wa’alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh”, jawabku lirih. Tentunya dengan disertai sebuah ekspresi yang tak mampu tuk ku sembunyikan. Tersipu malu dalam bahagia dan syukur pada-Nya.
Subhanallah. Penuh kehangatan dan penuh dengan kejutan. Inilah dia, Imamku. Sosok luar biasa yang dihadiahkan Allah dalam sebuah skenario terindah-Nya, tuk menjadi penguat saat ku terjatuh, pembimbing saat ku kehilangan arah. Menjadi sahabat, dimana saat ku butuh bahu-nya tuk menuangkan seluruh lara yang terpendam, maka bahu itu selalu siap dan siaga. Bersama menopang amanah dakwah ini. Menjadi suami, di mana keridhoannya akan menghantarkanku pada keridhoan Allah. Insya Allah.
Tanpa disadari suara di seberang sana pun menghilang. Seiring dengan nada terputusnya telepon yang menggantikan kebersamaan jarak jauh kita dengan kesunyian. Sepi. Namun, suara lembutnya masih terngiang di telingaku. Nasihatnya yang senantiasa mengingatkanku pada-Nya dan dukungannya sebagaimana seorang sahabat, menjadikanku merasa nyaman bersamanya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb...
***
Seperti malam-malam pada beberapa tahun yang lalu. Malam ini pun ku nantikan kepulangannya. Menemani agendanya dengan beberapa agendaku. Aku tidak ingin apabila aktivitasku justru memberatkan timbangannya menuju neraka-Nya yang pedih kelak. Karena, kini ku telah menjadi tanggung jawabnya. Sehingga, ku berusaha agar aktivitas yang ku jalankan setiap harinya senantiasa dalam memenuhi seruan perintah-Nya, dalam poros aktivitas dakwah tentunya. Maka, ku habiskan waktu menunggu kepulangannya, dengan merancang plan dakwah di esok hari dan menyiapkan materi tuk agenda pembinaan ataupun kontak di esok hari.
Bahagia sekali rasanya dapat menemani sosok ikhwan yang luar biasa sepertinya. Semoga Allah senantiasa menjaga ikatan suci yang terjalin di antara kita dengan keimanan, ketakwaan dan keyakinan kita pada-Nya. Aamiin.
Senantiasa ku ingat pesan dari seorang adik. Bagiku, itu dapat menjadi pembantahku pada sebuah statement, bahwa “Wanita adalah Penghambat Revolusi”.
Dia mengingatkan, “bahwasanya saat kita menikah nanti, kita tidak sedang menemani seorang suami yang biasa-biasa saja. Di mana aktivitasnya hanya kerja dan mengurusi rumah tangga saja. Kita pun tidak akan selalu tertawa bersamanya. Justru kita akan lebih banyak menangis, karena bersama-sama memikirkan masalah umat yang ada di tengah-tengah kehidupan kita saat ini. Ingatlah, pernikahan kita tuk sebuah dedikasi terbaik di hadapan-Nya, kak! Suami kita nanti adalah sosok yang Luar Biasa. Nanti, kita akan menemani dia, yang pikiran dan perasaannya adalah umat, keluarga, dirinya dan keridhoan Allah. Siangnya bisa saja menjadi ibadah dia tuk keluarganya, dalam aktivitas mencari nafkah dalam ridho-Nya. Namun, tetaplah dakwah menjadi poros utama baginya. Karena pahala besar tuknya atas aktivitas ini. Kemudian, malamnya pun, bukan diisi dengan istirahat atas kelelahannya saja, melainkan dipenuhi dengan agenda dakwah, rapat, halaqahupgrade valensi, dll. Terlebih, saat nanti khilafah tegak. Bisa jadi, kita akan terpisah dalam waktu yang tidak sebentar darinya. Dan itu artinya, bisa saja, kita akan mempercayakan dia pada seorang rekan kita yang dapat memantik futuhatnya di sana. Insya Allah, surga-Nya tuk kita, kak! Maka, apabila kita cemburu pada aktivitasnya yang mulia itu, berarti kita-lah penghambat revolusi itu. Tetapi, saat kita memahami dan mendukungnya dengan mengingatkan dan menguatkannya, serta berkontribusi bersama-sama dengannya, maka, insya Allah, kita adalah Pemantik Revolusi baginya, umat, dan kemenangan Islam itu sendiri tentunya”.
Pesan yang benar-benar menamparku. Bahkan, air mata pun tak pernah dapat ku tahan saat mengingatnya. Insya Allah, ku pasti bisa menjadi yang terbaik, sekalipun tak akan pernah bisa tuk sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik-Nya.
Sungguh, kebersamaan yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Sebagaimana proses ta’aruf dan khitbah dengannya yang tak pernah terpikirkan olehku. Skenario yang benar-benar indah bagiku. Ketika kita meyakini, bahwasanya semua pasti akan indah pada waktunya. Indah, bukan dengan persepsi kita yang tak ber-tuan. Serta, bukan dalam aktivitas yang dimurkai-Nya. Namun, indah dalam keterikatan kita pada Syariat-Nya. Dengan keyakinan yang mengakar dan jernih.
“Dalam Bingkai Pernikahan, Kami Sempurnakan Visi Perubahan!”
***
Kini, kebersamaan kita tak terasa hampir enam tahun lamanya. Ujian dan cobaan yang kita rasakan selama ini sungguh masih belum ada apa-apanya. Alhamdulillah, kita pun kini telah dikarunia putra-putri yang sholeh dan sholehah. Semoga Allah senantiasa menjaga kelurusan dan ketulusan niat maupun langkah kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Dengan menjadikan dakwah sebagai poros hidup kita.
Pelayaran kita baru saja dimulai, sayang. Maka, tetap fokuslah pada tujuan kita di depan sana. Surga-Nya nan indah menjadi pelabuhan terakhir atas pelayaran kapal kita. Sekalipun, ombak kecil, maupun besar menerjang kapal kita, keyakinan kita pada-Nya tidak akan tergoyahkan sedikit pun. Karena kita memiliki Allah yang akan senantiasa membersamai kita, dalam suka maupun duka kita. Keyakinan yang tidak akan terpatahkan, sekalipun bumi ini terbelah. Ataupun, ruh telah terpisah dari jasadnya. Ia-nya tetap akan senantiasa menancap kuat di dalam diri ini.
Bersama kita melayakkan diri kita tuk menjemput janji-Nya. Melalui tangan-tangan kita, ataukah penerus yang telah kita persiapkan dan bina bersama. Aku akan selalu menemanimu –nyata ataupun maya-, dalam do’a dan kontribusi maksimal di jalan dakwah yang mulia ini. Wajib dan sunnah, yang akan kita kejar bersama. Insya Allah, saat jasad ini pun terpisah nanti darimu, cintaku padamu karena-Nya, tak akan pernah berubah. Sekalipun skenario-Nya nanti mengharuskanku ikhlas pada segala keputusan-Nya, ku akan meridhoinya, selama engkau ridho pula padaku. Hingga, menjadikan Surga-Nya indah bagiku, dan mengalihkan pandanganku dari fana-nya gemerlap dunia ini. Insya Allah. Semoga Allah senantiasa karuniakan hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih dengan iman dan islam dalam diri kita berdua. Aamiin.
***
Dalam Rindu nan Syahdu
09092012
_Faaza_



Selasa, 02 April 2013

Jalan Para Pemberani


oleh RJ

Sebelum Rasulullah SAW diutus dunia arab berada di zaman kegelapan, mulai gaya hidup yg permisivism-barbarianisme hingga keyakinan paganisme. Pada awalnya Makah adalah menganut agama tauhid yg di bawa Nabi Ibrahim As, namun seiring berputarnya roda zaman keyakinan tauhid ini mulai terabrasi dan terkotori dgn ke syirikan.
Setelah beratus tahun berada dalam the dark age diutuslah seorang Muhammad SAW sebagai pembawa obor revolusi yang membawa bangsa Arab dan dunia menuju zaman renaisanse jauh sebelum Eropa mendeklarasikannya. Saat menerima wahyu pertama Rasulullah SAW menyeru orang-orang terdekatnya untuk bergabung dan bersama dalam komunitas perlawanan yang beliau pimpin, namun ini masih bersifat underground. Sahabat yang tergabung dalam komunitas ini beliau meng-internalisasikan aqidah dan ideologi Islam sebagai senjata perlawanan, dan beliau bentuk aqliayah dan nafsiyah para sahabat sebagai bekal perjuangan. Sehingga terciptalah manusia-manusia radikal, ideologis dan revolusioner.

Kemudian datanglah perintah Tuhan agar Rasulullah SAW menyampaikan Risalah nya secara terang-terangan.
“sampaikanlah olehmu secara terang-terangan apa saja yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” (TQS.Al Hijr:94)

Rasulullah SAW dan komunitas nya pun terjun kemasyarakat untuk menyampaikan risalahnya, melancarkan propaganda, melempar wacana, dan membuka ruang diskusi-diskusi terbuka. Komunitas ini melakukan perang pemikiran. Merekonstruksi aqidah Islam, dan merekonstruksi pemikiran sesat dan melawan tatanan sosial yang membusuk dizamannya. Mulai dari menyeru kepada Al Islam, menjelaskan kebodohan paganisme masyarakat Quraisyi, Melawan perekonominan yang bersifat eksploitatif, melawan segala bentuk penindasan terhadap proletar dan buruh, mendeklarasikan egaliterian dan melawan segala bentuk diskriminasi sosial terhadap kaum wanita.

Dalam kamus perjuangan Rasulullah SAW tidak didapati kata kompromi, walau konsekuensinya harus merenggang nyawa karenanya. Fase berat ini beralangsung selama 13 Tahun kenabian Muhammad SAW, selama ini pula penguasa kafir Makah memproklamirkan penolakan. Mereka sangat faham apa yang dibawa Muhammad, seandainya Rasulullah SAW hanya menyeru kepada ritual, spiritual, seremoni, dan moralitas belaka niscaya para penguasa Quraisyi akan menerima dengan tangan terbukan tanpa harus melakukan resistensi. namun apa yang dibawa Rasulullah SAW bukan hanya itu, Rasulullah SAW menawarkan sebuah Revolusi total terhadap Aqidah dan tatanan sosial. Dan hal ini akan menghancurkan eksistensi kekuasaan mereka.

Untuk tetap mempertahankan eksistensi, kekuasaan, dominasi dan status quo di masyarakat merekapun menghalalkan segala cara. Awalnya mereka menawarkan langkah kompromis agar Rasulullah SAW mau berhenti menyampaikan ajarannya, langkah itu adalah menawarkan kekuasaan dan mengajak Rasul untuk bergabung dengan parlemen jahiliyah, juga tawaran harta dan wanita. Namun semua itu ditolak Rasulullah SAW dengan tegas tanpa kompromi.

“ Demi Allah, Andai Saja Mereka Bisa Meletakkan Matahari Ditangan Kananku, dan Bulan di tangan Kiriku, Lalu Mereka Memintaku Untuk Meninggalkan Urusan Ini (Islam), Maka Demi Allah, Sampai Urusan Ini (Islam) di Menangkan Allah, Atau Aku Harus Binasa Di Jalan Nya, Aku Tidak Akan Meninggalkan Nya” (HR.Ibn Hisyam).

Saat strategi kompromis kaum Quraisyi gagal total, mereka melancarkan strategi murahan seperti fitnah dan cacian murahan yg mengatakan Muhammad adalah peramal, penyair hingga penyihir kejam dan mendistorsi segala ajarannya, semua ini dilakukan agar masyarakat takut, menjauhi dan mendustakan ajaran yang di bawa Muhammad SAW. Ketika trik fitnah ini tidak efektif untuk menghentikan langkah perjuangan Rasulullah SAW dan pengikutnya, mereka mulai menggunakan tindakan-tindakan kotor dan represif. Penyiksaan demi penyiksaan terhadap Rasulullah SAW dan para sahabat, hingga puncaknya rencana untuk membunuh Muhammad SAW. semua dilakukan hanya dengan satu harapan agar Rasulullah SAW menghentikan dakwahnya.

Jadi apa yang terjadi pada aktivis Islam hari ini bukanlah hal yang baru fitnah, garis keras, ekstrimis hingga teroris. Juga dialami Rasulullah SAW dan para sahabat hanya saja dalam bahasa yang berbeda, jika dulu Rasul dikatakan penyihir kejam, untuk saat ini kata itu telah diganti dengan teroris. sementara penyiksaan jauh lebih dulu dialami Bilal, Yassir, Abu Dzar al Ghifari bahkan Rasulullah SAW tidak bebas dari penyiksaan.

Perlawanan Rasulullah SAW dan komunitas nya terus berlangsung. Fitnah demi fitnah, penganiayaan demi penganiayaan, hingga pembokotan hanya menjadikan sahabat sebagai manusia-manusia hebat dan tahan banting, walaupun sempat hampir frustasi karena kemenangan tak kunjung datang, namun itulah cara Allah untuk melihat siapa hambanya yang berhak untuk meraih title Mukmin

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
(TQS.Al Ankabut:2-3).
Namun Allah juga memberi kabar gembira sebagai asupan semangat bagi para generasi Awal ini disaat mereka hampir frustasi “Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”(TQS.Al Baqarah:214).

Shadaqallah benarlah semua janji Allah, bahwa kemenangan Islam dan kaum muslimin itu keniscayaan, seiring berjalannya waktu kondisi dakwah yg sudah tdk kondusif dan terhimpit datanglah kabar gembira dari negeri yatsrib, dua kekuatan besar suku Aus dan Khazraj menyatakan ke Islamannya dan memberikan kekuasaan, harta bahkan nyawa mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan dari perantaraan mereka inilah kemudia tegak Daulah Islam pertama di Madinah, sebuah institusi penegak hukum-hukum Allah, institusi pembebasan, penjaga harta, darah dan kehormatan manusia, sebagai rahmat bagi siapa saja yang bernaung di bawah panjinya, negara yg menghidupkan pengetahuan dan membawa manusia kepada perababan yg cemerlang.

Negara ini bertahan selama 13 abad, membentang 2/3 dunia menembus batas-batas territorial benua, menyatukan manusia dengan akidah tanpa melihat bangsa, ras, hingga warna kulit. Dari Jazirah Arabiyah hingga Indonesia. Nagara itu adalah “DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH”

Namun saat ini semua tingga sejarah kawan, Khilafah telah tiada. Ibu kita telah dibunuh. Negara yang dipertahan kan dengan darah dan air mata para mujahidin telah diporak-porandakank kafir laknat. Karena itu Tugas kita hari ini adalah melakukan perjuangan total untuk mengembalikannya.

Teruntuk kalian yang telah mengucakan Syahadat bergabunglah kawan dalam perjuangan ini, isilah shaf-shaf kosong. Sesungguhnya perjuangan ini indah kawan, inilah jalan kita, jalan pewaris risalah Ambiya, inilah jalan menuju syahid, dan inilah jalan untuk melihat wajah Tuhan mu……………….
Namun jalan ini terlalu sepi untuk para penakut, dan terlalu berbahaya untuk para pengecut….
Jalan ini hanyalah jalan untuk para pemberani!!!! Untuk kalian para pemberani kami tunggu kalian. Disekitarmu ada hal yang tersembunyi, ada cita-cita yang indah, dan ada masa depan cerah dan kemenangan yang indah!!!! ALLAHU AKBAR

Senin, 03 Desember 2012

“SemangKA CINTA”



Siang bagai malam, begitupun malam bagai siang.
Kaki jadi kepala, begitupun kepala jadi kaki.
Bagimu, itulah hidup dalam pilihanmu.
Usaha dan do’a saling beriringan serta menopang satu dengan yang lainnya.
Subhanallah...
Langkahmu tiada tersurutkan sedikitpun.
Pada rayuan waktu maupun gemerlap dunia yang begitu melenakan.
Senyum maupun tawa riangmu seakan menjadi sinyal,
Bahwa kau benar-benar menikmati setiap proses yang Dia amanahkan padamu.
Entah apakah jadinya apabila keimanan itu tiada mengkristal,
Bisa jadi keistiqomahan adalah sesuatu yang mahal,
Hingga berujung pada beribu pembenaran yang akan memberatkanmu tuk berlari,
Mengejar perintah-Nya yang menghantarkanmu kelak menuju Surga-Nya.
Keyakinan pada pertolongan dan janji-Nya yang senantiasa kau hujamkan,
Tak hanya tukmu, namun tuk orang-orang yang kau sayangi.
Cinta,
Di sini ku mena’atimu dalam kesabaran dan kesyukuran yang tiada terkira.
Kau menjadikan pernikahan ini sebagai proses belajar kita dalam kebersamaan.
Belajar tuk maksimal,
Belajar tuk berkorban,
Belajar tuk memahami satu dengan lainnya.
Dan belajar, tuk merealisasikan visi bersama kita,
“Dalam Bingkai Pernikahan, Kami Sempurnakan Visi Perubahan”
Sayang,
Kau, ibarat sinar mentari pagi, setelah pekatnya malam.
Kau pun ibarat air yang menghilangkan dahagaku.
Tak satu pun keluhan terlontar dari lisanmu,
Tak pula kau bersedih hati menapaki jalan terjal penuh onak duri ini.
Karena, kau melalui setiap proses ini dengan penuh keyakinan.
Bahkan, kau senantiasa menguatkan, mengingatkan dan menginspirasiku.
Di setiap waktumu.
Tak peduli sepadat apapun amanahmu.
Kau luangkan waktu tukku.
Berdiskusi, tuk mengkristalkan pemahamanku.
Kau benar-benar pelangi, yang mewarnai hidupku dengan warna indahmu.
Kau hiasi perjalanan awal kita, dengan takwa yang mendalam.
Dan semoga, akhirnya nanti pun, kita menghadap-Nya tetap dalam ketakwaan.
Aamiin Ya Rabb...

Dalam ruang rinduku padamu,
28 Nov 2012, 23:16 WITA.
_Faaza_

Minggu, 04 November 2012

Laa Tansa Bookstore



Laa Tansa Bookstore

Agen Tunggal Gaulfresh dan Distributor Buku2 Islami
Banjarmasin-Jakarta

“The Best of Quality Service & Product”

Konten Produk:
Buku-buku Terbitan Gaulfresh (Diskon 20% dengan Pengambilan buku minimal 20 buku, dan Diskon 15% dengan Pengambilan buku minimal 10 buku, 10% di bawahnya)

Buku-buku Islami Terbitan Al-Azhar Press, PTI Press, dan Anomali (Diskon 15% dengan Pengambilan buku minimal 10 buku, 10% di bawahnya)

Buku-buku Islami lainnya (10% untuk setiap pembelian)

Aksesoris Bros Panel-Home Production (Kisaran Harga Rp 5.000 s/d Rp 10.000)

Aksesoris Bros Pin (Kecil Rp 1.500 s/d Rp 2.000, Sedang Rp 2.000 s/d Rp 3.500, dan Besar Rp 5.000)

Gantungan Kunci (Kisaran Harga Rp 2.500 s/d Rp 7.500)

Contact Person:
Banjarmasin (Faaza_0896 9152 3805)
Jakarta (Ardan_0877 8296 2812)

Opening Faza's Blog

Assalamu'alaikum!
~Ahlan wa sahlan~

Apa Kabarnya Hari ini?
"Alhamdulillah, Selalu Mencerahkan, Luar Biasa Sukses!"

~Allahu Akbar~